
LUNA
Luna berjalan tanpa arah menyusuri jalanan kota yang hiruk pikuk oleh banyak kendaraan di akhir pekan ini.
Pikiran Luna rasanya buntu. Harus kerja apa dia? Tidak punya pengalaman apapun, apalagi di usianya yang masih sangat muda ini, tapi kakinya dengan lambat masih terus berjalan, kepalanya menyeleksi setiap kegiatan dan kejadian sekitar. Luna menangis pelan dan tertahan, ia ingin menyerah dan marah tapi perlahan Luna berhenti sebentar melihat seorang kakek bungkuk duduk dengan tangan menengadah di tepi jalan, pakaiannya lusuh tubuhnya kurus. Bisa dipastikan bahwa kakek tua itu adalah pengemis. Luna merogoh saku rok rumahannya, ada selembar uang lima ribu rupiah, sepertinya itu satu - satunya uang yang Luna pegang saat ini. Luna lebih memilih memberikannya pada kakek tua itu kemudian pergi. Ia sadar, masih banyak yang lebih kesusahan darinya. Ia berjalan dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya menuju sebuah rumah makan padang.
"Permisi... " Ucap Luna pada seorang Bapak - Bapak yang tengah merapikan wadah - wadah lauk dagangannya yang tak lain adalah pemilik rumah makan padang tersebut.
"Iya neng, mau beli apa?" Jawab Bapak tersebut mengira Luna seorang pembeli.
Dengan senyum tak enak Luna kembali bersuara.
"Hmm maaf Pak saya gak mau beli apa - apa, saya cuma mau tanya apa Bapak perlu karyawan? saya mau melamar kerja Pak, apa aja saya mau, cuci piring juga saya mau" Dengan nada ragu Luna bertanya penuh harap.
Pemilik rumah makan padang itu terlihat menyoroti Luna dari bawah sampai atas.
"Kamu yakin mau kerja disini? Kamu keliatannya masih kecil, kenapa mau kerja? Masih sekolah?" Tanya Pemilik rumah makan tersebut
"InsyaAllah yakin Pak, saya perlu banget pekerjaan ini. Saya masih sekolah, saya memang masih muda, tapi saya udah biasa kok bantu bantu juga beres - beres sedikit, dan cuci piring" Luna menjawab mulai dengan semangat.
"Neng... Maaf sekali ya sebelumnya, bukannya saya gak mau bantu. Tapi kebetulan saya udah cukup dengan dua karyawan, itupun sudah maksimal untuk saya gaji, maaf ya"
Luna mencoba tersenyum tegar.
"Yaudah gapapa Pak, makasih ya" Kata Luna ingin pamit.
"Ehh sebentar neng" Luna menoleh, terlihat bapak tersebut membungkus sebungkus nasi dengan lauk lengkap.
"Ini buat kamu" Katanya sambil menyerahkan dengan kantong kresek hitam
"Ehh Pak, saya kan gak pesan, lagi pula saya juga lagi gak bawa uang" Luna mencoba menolak
"Udah gapapa gak usah bayar, kamu kayaknya belum makan, ini makan dimakan dulu baru kamu nanti baru jalan lagi. Mau dimakan disini juga boleh"
MasyaAllah Luna terenyuh dengan orang baik yang tak di kenalnya ini. Dengan ragu ia menerima pemberian tersebut.
"Makasih banyak Pak, biar saya makan nanti aja gapapa ya. Sekali lagi Terimakasih"
__ADS_1
Pemilik rumah makan itu hanya mengangguk dan tersenyum. Setelahnya Luna pamit dan pergi menjauh dari sana untuk mencari pekerjaan lagi.
Cuaca yang terik saat itu membuat Luna merasa cukup lelah dan gerah, ia tau ada sebuah rest area di sekitar taman yang tak jauh dari sana. Disana Luna duduk berteduh dan berniat menyantap nasi yang terima tadi. Tak lama ada seorang anak pengamen yang bernyanyi di depan Luna dengan seorang wanita tua dibelakangnya, mata wanita itu tampaknya buta. Luna merasa iba.
"Dek.. Kakak lagi gak pegang uang, tapi kakak punya makanan, mau?" Luna bertanya lembut pada pengamen kecil tersebut.
"Mau kak (Dengan polos mengangguk ceria, tapi tiba-tiba wajahnya berubah sendu) Tapi... Kakak makan apa?"
Luna tersenyum dan menjawab "Nanti kakak bisa makan dirumah, lagian tadi sebelum kesini juga udah makan. Jadi ini buat kamu sama Ibu kamu aja ya" Kata Luna sambil menyerahkan sebungkus nasi yang sebenarnya ingin ia makan barusan.
Dengan bahagia pengamen kecil itu menerima pemberian Luna. Tak lupa mereka mengucapkan Terimakasih sebelum pergi menjauh dari Luna.
Sekarang Luna sudah tidak ada makanan lagi untuk ia makan. Uang pun tidak ada, Luna sebenarnya punya celengan nya di kamar, tapi tidak terpikir saja untuk bekal uang saat pergi tadi.
Brakk!!
Ehh Luna sampai kaget melihat seorang wanita jatuh menghempas mejanya. Spontan Luna pun berdiri dan membantu wanita tersebut. Berkas - berkas yang tadi wanita itu bawa pun jatuh hingga berserakan, Luna juga ikut bantu memungutnya.
"Makasih ya dek" Kata wanita asing tersebut.
"Iya sama-sama, Ibu gapapa kan?" Tanya Luna memastikan.
"Aduh, pada penuh lagi" Gumamnya dengan pelan tapi sayup - sayup terdengar di telinga Luna. Mendengar itu, Luna langsung ikut memerhatikan sekitar dan mendapati semua tempat duduk memang penuh.
"Ibu duduk disini aja, saya cuma istirahat sebentar kok disini" Kata Luna menawarkan.
"Gapapa memangnya? Gak ganggu kamu?" Tanya wanita tersebut.
"Sama sekali nggak kok Bu, saya cuma numpang duduk sebentar aja disini. Ayo silahkan Bu" Kata Luna sambil menarik sebuah kursi di depan sampingnya
Wanita tersebut pun tersenyum dan duduk.
"Makasih ya"
Mereka akhirnya duduk bersama, mulanya baik Luna maupun wanita asing itu hanya saling terdiam. Beberapa kali wanita di dekat Luna tersebut mencuri pandang kecil pada Luna. Merasa canggung dan merasa letihnya mulai hilang, Luna berencana ingin pergi lagi saja.
"Hmm Bu, saya udah selesai istirahatnya, saya permisi dulu ya" Kata Luna.
__ADS_1
"Ehhh tunggu" Wanita itu dengan cepat mencegah, bahkan suaranya cukup keras.
"Masih panas banget itu, ayo duduk dulu" Katanya sambil menarik tangan Luna untuk duduk kembali, Luna pun menurut dengan heran
"Kamu dari mana mau kemana emangnya? Kok sendirian disini, biasanya anak muda seperti kamu juga sama teman atau ngerjain tugas kalau kesini, kalau kamu ngapain? Tadi katanya istirahat ya, emangnya capek kenapa sampai istirahat?"
Pertanyaan beruntun tersebut cukup membuat Luna bingung dan malah hanya terdiam.
Wanita tersebut tampak sedikit bersalah sambil menggigit bibir bawah nya.
"Aduh maaf, saya banyak tanya ya hehe"
"Hmm iya gapapa Bu, saya tadi abis keliling aja, pengennya sih nyari pekerjaan, tapi bingung juga apa. Tadi nyoba di rumah makan padang tapi katanya lagi gak butuh karyawan baru" Luna menjawab pelan.
"Ohh kamu nyari kerja?? Kebetulan, saya malah lagi butuh karyawan, kamu mau kerja sama saya?" Ungkap wanita tersebut.
Luna menaikkan kedua alisnya.
"Ibu serius? Memangnya kerja apa Bu?"
"Saya punya caffe kecil gitulah, caffe coffee, kalau kamu mau kamu boleh kerja sama saya, nanti kamu bagian kasir aja. Gimana?" Tawar wanita itu lagi.
"Iya saya mau Bu" Dengan semangat 45 Luna mengiyakan.
"Oke, kamu resmi sekarang jadi karyawan caffe saya, Ohh iya perkenalkan saya Laras" Tangan wanita itu terangkat mengajak Luna berjabat tangan.
Luna menerimanya "Saya Lunara Ustman, panggil saja Luna"
Mereka saling melempar senyum, Wanita itu tampak menoleh ke arah balik pohon di taman area yang tak jauh dari sana. Seolah memberi sebuah pertanda, iya mengangguk samar ke arah sana dimana ada seseorang yang mengawasi mereka kemudian pergi setelah anggukan tersebut.
.
.
.
Alhamdulillah Luna dapet kerja
__ADS_1
Ternyata ini awal mula pertemuan Luna dan Bu Laras ya 🥰
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺