
"Kita mencar aja kali mas nyarinya di dalam taman" Saran Yana
"Nggak, sama sama aja, ini udah malam" Sahut Rey menolak. Tanpa aba aba Yana merasakan pergelangan tangan kanannya di genggam oleh Rey. Yana menoleh ke tangannya, menyadari itu Rey pun berkata
"Lantai semennya agak licin karna habis hujan lampu disini juga gak terlalu terang, jadi kamu saya pegang biar gak kenapa kenapa"
Dengan tetap berada dalam genggaman tangan Rey, Yana bersama suaminya itu terus berjalan berdampingan menyusuri taman di bawah remangnya lampu. Sejauh ini taman tersebut sepi tanpa ada tanda tanda orang disana selain mereka. Setelah sekitar beberapa belas menit berjalan Rey tiba-tiba saja berhenti dan mengarah kan tubuhnya menghadap Yana
Merasa heran Yana lantas bertanya
"Kenapa mas?" Tanya nya
"Saya yang harus nya tanya, kamu kenapa? Ada yang sakit? Tangan kamu dingin banget" Sahut Rey merasa khawatir. Tanpa menunggu jawaban dari bibir sang istri, Rey berinisiatif menarik Yana kembali ke mobil
__ADS_1
"Mas tunggu, Kak Luna belum ketemu, kita mau kemana" Tanya Yana bersamaan menahan tarikan tangan Rey pada pergelangan tangan nya
"Gaada siapa siapa disini Yana, kita cari tempat lain, kamu juga udah pucat gitu, kamu gak boleh terlalu capek" Kata Rey setelah lampu jalan di luar taman yang lebih cerah menerangi wajah Yana.
Yana tampak memurung.
"Sekarang masuk mobil dulu, kita tetap cari Luna kok. ya?" Pinta Rey dengan lembut. Ia mengerti kekhawatiran Yana. Dirinya sendiri pun sama khawatir nya, mengingat perasaan Rey terhadap Luna. Meski pada nyata nya Luna adalah kakak ipar nya.
Tanpa mengangguk apalagi menjawab Yana menurut dan berjalan masuk menuju mobil, Rey pun menyusul di kursi kemudi
Tanya Rey tepat setelah menutup pintu mobil di samping kanannya.
Yana tampak mencoba berpikir, tapi Kepala nya sudah terasa berat karena tubuhnya memang mulai merasa lemas. Rasanya buntu, Yana pun rasanya tidak mencurigai tempat lain yang mungkin di kunjungi sang kakak selain taman ini.
__ADS_1
"Kamu pulang aja ya? Biar saya lanjut cari Luna, kamu kayaknya gak sehat, takutnya kamu kenapa kenapa nanti, kamu istirahat aja dirumah"
"Nggak mas, Yana tetep gak akan bisa istirahat, Yana kepikiran, khawatir... Yana istirahat di mobil ini aja ya sambil kita cari" Tolak Yana sambil menggeleng.
Rey merasa serba salah apalagi melihat wajah Yana yang memucat tak sehat. Di sisi lain kekhawatiran nya pada Luna pun besar
Ia sendiri juga terasa buntu untuk mencari Luna kemana lagi selain di taman ini.
SEMENTARA ITU LUNA
Huuuhhhh...
Hembusan nafas itu terdengar jelas di tengah sunyi nya ruang gedung masjid malam ini. Luna tengah mengatur nafas nya yang terasa tak menentu setelah sekian lama menangis
__ADS_1
Tangan nya pun sesekali masih tergerak untuk menyeka pipinya yang basah terkena air mata. Sedangkan tangan satunya lagi bergerak menggulirkan butir demi butir batu tasbih dan terus berdzikir. Setelah sampai pada batu tasbih terakhir, kini kedua tangannya bertemu dan terangkat menengadah setinggi dagunya di balik kain mukenah
"Ya Allah sudah kutemukan jawaban yang selalu ku tanyakan selama 7 tahun lamanya ini. Pada akhirnya jawaban ini pun sama menyakitkan nya. Bahkan jauh lebih menghancurkan.... "