
KEESOKAN PAGINYA
Luna akhirnya pulang dari rumah sakit bersama Rey, karena kedua sahabatnya pagi ini ada sidang skripsi. Keduanya memaksa untuk mengantar Luna sebelum pergi ke kampus tapi tentu saja Luna menolak dan meminta mereka fokus saja pada sidang mereka. Untungnya ada Rey yang ternyata sudah siap menawarkan diri mengantar Luna dan menyelesaikan perdebatan 3 sahabat itu. Bersamaan dengan datangnya mobil Rey ke halaman rumah Luna, tampak juga Edi baru saja keluar menuju mobilnya, langkah Edi terhenti menatap mobil putih yang ia ketahui milik Rey tersebut
“Makasih ya dok udah nganterin sampe sini” Kata Luna kemudian keluar dari mobil Rey, dan pria itu juga ikut keluar menyusul Luna yang terlihat berjalan mendekati Ayahnya kemudian dengan ragu meengulurkan tangannya hendak bersalaman
“Assalamu’alaikum Yah.. Luna pul-“
“Wa’alaikumsalam” Jawab Edi cepat tanpa menoleh dan tanpa menunggu Luna menyelesaikan kalimatnya terlebih dahulu kemudian berlalu cepat masuk menuju mobilnya.
Luna menatap sendu ke arah mobil Edi hingga keluar pagar rumahnya. Tak jauh dari sana, Rey hanya terdiam memandang kejadian itu dan membuatnya semakin bertanya – tanya akan masalah yang ada antara hubungan Ayah dan anak yang ia ketahui sangat dekat serta saling menyayangi dulu
“Kak Luna!” Teriak seseorang yang berlari dari dalam rumah kemudian langsung menghambur memeluk Luna
“Alhamdulillah kak Luna udah pulang, Yana seneng banget” Ucap syukur dan Bahagia Luna sambil menangis haru, Luna pun membalas pelukan sang adik dengan tak kalah erat nya.
“Oh iya dok, kenalkan ini adik saya Yana” Kata Luna sambil melepas pelukannya
Kemudian baik Rey dan Yana pun saling berjabat tangan memperkenalkan dirinya masing – masing
“Kalau gitu saya permisi dulu” Pamit Rey yang di cegah oleh Luna
“Gak masuk dulu dok? Ayo silahkan biar saya bikin kan minum dulu” Kata Luna menawarkan
“Terima kasih sebelumnya, tapi maaf saya harus Kembali ke Rumah Sakit, mungkin lain kali” Tolak Rey secara halus, Luna pun mengerti dan mengangguk
“Yasudah, sekali lagi Terima kasih ya dok” Rey Kembali mengangguk mengiyakan
“Kalau gitu saya pamit ya, Assalamu’alaikum”
Wa’alaikumsalam… kompak Luna dan Yana menjawab, Yana pun kemudian merangkul Luna masuk ke dalam rumah setelah mobil Rey tak terlihat lagi
”Tadi itu siapa kak?” Tanya Yana begitu mereka sampai di kamar Luna
__ADS_1
“Ya dokter la, kan tadi kakak udah bilang dia dokter”
“Tapi kok perhatian banget, dokter nganterin pasiennya ke rumah? Aneh banget… dokter penyakit apa dokter hati itu?” Kata Yana menggoda Luna dengan senyum jenaka
“Apaan sih kamu, ada – ada aja. Ya dia emang baik aja orangnya, gak Cuma sama kakak tapi ke semua orang, dan kebetulan emang udah kenal juga dari lama” Jelas Luna
“Ohh gitu…” Sahut Yana masih dengan senyum jenakanya
“Udah ya Yan gak usah mikir aneh – aneh, muka kamu juga gak usah gi-“ Luna menghentikan kalimatnya dan mendekat ke wajah Yana, ia baru sadar jika wajah Yana terlihat sedikit pucat
“Kenapa?” Yana bertanya heran dengan tingkah Luna
“Kamu sakit ya? Kok pucat gini sih” Tanya Luna khawatir sambil memegang kening Yana mengecek suhu tubuhnya
“Ha? En-enggak kok kak, aku gak apa – apa” Jawab Yana dengan gugup dan menjauhkan tangan sang kakak dari dahinya. Luna tampak diam sebentar sambil tetap menatap Yana, dilihat seperti itu, Yana jadi semakin gugup.
“Ih kak, beneran gak apa – apa, jangan liatin kayak gitu dong, aku paling Cuma kecapekan aja, soalnya tugas kuliah lagi padet – padetnya” Jawab Yana
“Iya… udah, kakak istirahat aja, tidur.. kan baru pulang dari Rumah Sakit, Yana juga mau tidur mumpung hari sabtu” Ucap Yana
“Yaudah kamu tidur aja, jaga Kesehatan ya jangan sampai sakit” Kata Luna mengingatkan. Yana pun tersenyum mengangguk dan pamit keluar untuk pergi ke kamarnya sendiri.
Begitu sampai Yana, mengunci pintu kamarnya dan terduduk bersandarkan pintu, iya menekuk kedua kakinya dan menyanggah kedua tangannya di atas lutut, air matanya tampak menetes
---
Di kamarnya, Luna tertidur pulas, mungkin juga karena efek obat – obatan yang masih harus ia konsummsi dan ber efek samping menyebabkan kantuk hingga membuatnya tidur siang hampir 2 jam lamanya. Saking nyenyak nya ia tertidur, Luna sampai tak menyadari bahwa sejak tadi ada yang sedang menatap lekat dirinya yang, orang tersebut adalah Lia, sosok yang Luna panggil Bunda, yang saat ini juga tengah berusaha sekuat tenaga menahan air mata dan sesak yang menumpuk di dalam dada nya hingga kemudian ponsel Luna berbunyi melantunkan suara adzan dan menandakan waktu zuhur telah tiba. Lia kaget begitupun Luna yang baru terbangun dari tidurnya, Lia dengan cepat melangkah keluar
“Bun…” Luna menyerunya dengan lirih
“Luna kangen sama Bunda” Tambah Luna lagi dengan suara yang bergetar menandakan ia sedang menangis membuat hati Lia semakin tersayat mendengarnya, namun segera ia menetralkan perasaan tersebut dan keluar dari kamar Luna tanpa berbalik sedikit pun.
Luna tertunduk sedih, ia lantas beranjak dari ranjang untuk mengambil wudhu. Dengan khidmat dan segala kerendahan hatinya Luna berdo’a dan memohon petunjuk atas segala masalah yang hingga kini belum dapat ia selesaikan
__ADS_1
Tringgg!!
Luna beranjak mengambil ponselnya yang bergetar setelah membenahi mukenah dan sajadah. Bibirnya menggores sebuah senyum begitu melihat nama yang tertera di layer ponselnya sebagai pengirim pesan
Juan : Gimana kabar kamu?
Luna : Alhamdulillah udah lebih baik, aku juga udah dirumah, gimana keadaan Papa kamu?
Juan : Alhamdulillah… Papa juga alhamdulillah udah lebih baik, sekarang lagi tidur habis makan dan minum obat. Kamu sendiri udah makan belum?
Luna : Belum laper, kalau kamu udah makan belum?
Juan : Baru aja selesai makan nih, yaudah nanti kalau udah lapar langsung makan ya dan jangan capek – capek dulu, banyakin istirahat dulu. Tadi Vani sama Dira nganter kamu sampai rumah kan?
Luna : Mereka tuh ada sidang wan… mereka tuh semalem sebenarnya ngebet banget mau anter tapi aku juga ngebet banget gak mau dianter mereka, gak enak lah, ehh dokter Rey denger jadinya dianter sama dia tadi
Seketika Juan mengerutkan dahinya tidak suka, ada perasaan yang membuat dia sedikit terancam dengan segala perhatian dan perlakuan dokter Rey terhadap Luna
Juan : Dia nganter kamu sampai rumah gitu?
Pertanyaan Juan mulai tidak enak di baca Luna
Luna : Maaf ya Juan… tapi tadi tuh memang gak ada pilihan lain selain dianter sama dokter Rey, lagian dia Cuma nganter aja kok gak ngapa – ngapain. Kamu jangan marah ya ?
Juan terlihat sudah membaca tapi belum menjawab, bahkan terlihat mengetik pun tidak. Membuat Luna Kembali mengirim pesan
Luna : Juan, kamu masih disitu kan?
Juan : Iya, yaudah kamu istirahat aja , nanti jangan lupa makan juga, aku mau pergi dulu nebus obat Papa, Assalamu’alaikum
Luna : Iya, kamu hati – hati ya, Wa’alaikumsalam
Juan pun mengakhirinya dengan mengirim stiker bertuliskan “OKAY”
__ADS_1