
Nahh full episode kemarin udah nyeritain Rey. Setelah Rey pamit dengan alasan kuliah di luar negeri, Rey dan Luna memang udah gak pernah ketemu lagi setelah pertemuan mereka di coffee shop tempat Luna kerja. Wajar dong ya jadinya kalau Luna sampe lupa waktu ketemu lagi sama Rey, selain lama gak ketemu, Luna dan Rey memang tidak terlalu dekat dulunya. Apalagi sekarang penampilan Rey pasti sangat – sangat jauh berbeda dari terakhir mereka bertemu.
Nah kita relain Rey nya pergi kuliah dulu yaa guyss
Sekarang kita balik ke Juan dan Luna lagi aja yukkk
.
.
.
Waktu pun berlalu begitu cepat. Membaca buku sastra setiap hari sabtu dan minggu di sore hari di tepi danau seolah sudah jadi rutinitas Luna dan Juan. Kurang lebih 3 tahun sudah mereka berteman, sekarang mereka sudah berusia 15 tahun. Masing – masing dari mereka menganggap jalinan ini adalah jalinan persahabatan.
Setiap sabtu dan minggu sore, tepi danau di taman itu pasti akan ada Juan dan Luna bersama buku – buku mereka. Tapi…
Entah kenapa sabtu dan minggu kali ini, baik Juan maupun Luna sama – sama tak terlihat…
Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Atau ada di tempat baru? Bahkan penjaga taman disana yang sudah hafal dengan mereka sampai bertanya – tanya.
Dan saat itulah semuanya terjadi… semuanya berubah.
00.04 DI RUMAH LUNA
Brakk!!! Prangg!!! Akkhhhh!!!!
Luna tercekat, dengan keadaan yang belum siap bangun, Luna merasakan dadanya berdebar dengan kepala sedikit pusing, dengan mata yang menyipit menyesuaikan cahaya lampu kamarnya Luna mencoba melirik jam dinding disana. Masih tengah malam. Tapi siapa gerangan orang yang menimbulkan suara berisik jam segini? Gumamnya dalam hati
Pranggg!!! …… Hikkksss
Luna terkejut lagi, kesadarannya semakin pulih oleh suara kaca pecah barusan ditambah lagi samar – samar suara desakan tangis. Luna penasaran dengan perasaan was was, saking bingung dan kagetnya Luna sampai tak berani bergerak dan duduk mematung di kasurnya.
__ADS_1
Tak lama…
Brakk!!! Pintu kamarnya di buka dengan keras dari luar.
Bahunya sampai terangkat karena kaget. Disana Edi sudah berdiri memandangnya dengan tatapan tajam setelah membuka pintu kamar Luna dengan keras.
Melihat itu, Luna tentu takut. Edi mendekat dengan berjalan cepat ke arahnya.
“A-ayah ada apa malam – mal- Akhhh Ayahh kenapa?” belum sempat bertanya, Edi sudah menarik kasar lengan kecil Luna.
Luna merengek ketakutan dan mengaduh kesakitan. Ia diseret dengan langkah kaki tak teratur yang menyesuaikan langkah besar dan cepat Edi, belum lagi tangannya yang di cengkram kuat oleh sang Ayah. Saat melewati ruang makan, Luna dibuat heran lagi dengan berserakannya pecahan gelas, piring, vas bunga. Kursi – kursi pun tumbang dan barang – barang berantakan.
Sampailah Luna di paksa masuk ke sebuah ruangan gelap. Gudang.
Luna semakin dibuat heran. Kenapa dia dibawa kesini? Ada apa?
“Keluar dari kamar ini dan kamu tidur di gudang” Dengan sorot mata yang terlihat menyimpan banyak dendan juga amarah, Edi menyeret tubuh kecil Luna dan melempar barang – barang gadis tak berdosa itu ke gudang belakang tanpa peduli jerit tangis malang Luna yang tanganya sedang ia cengkram.
Luna hanya menangis ketakutan menatap sang Ayah tanpa bersuara. Ia alihkan matanya pada sang Bunda di belakang Edi. Tampak Bundanya yang bernama Lia itu hanya terdiam dengan wajah datar tak berbuat apapun.
Brak!!!
Suara kerasnya pintu yang dibanting Edi cukup berhasil membuat Luna tersentak takut dan kebingungan dengan situasi yang terjadi begitu tiba – tiba saat ini. Edi pergi setelah membanting pintu dengan meninggalkan banyak ketakutan dan pertanyaan dalam benak Luna.
Luna kecil memeluk kedua lututnya dan sesekali menarik nafas dalam untuk mencuri oksigen yang lebih banyak lagi dengan harapan bisa sedikit memberinya kekuatan.
Ia tertidur dalam tangis panjangnya di malam itu. Berharap bahwa semua hanyalah sebatas mimpi buruk.
KEESOKAN PAGINYA
Hari ini hari sabtu, kebetulan juga sekolah sedang libur karna tanggal merah. Luna dibangunkan oleh suara adzan yang menggema subuh itu. Ia bangun dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya, mungkin karna posisi tidurnya yang kurang nyaman di lantai Gudang itu. Tapi ada rasa sakit yang jauh lebih besar ia rasakan. Hatinya.
__ADS_1
Ia hela nafas lesunya. Kejadian mengerikan tadi malam berkelabat gelap memenuhi pikirannya. Ternyata itu benar terjadi. Bukan mimpi
Luna sudah Kembali menangis di sudut Gudang yang terbilang cukup rapi meski banyak barang disana. Tempat itu memang tetap dibersihkan meski sekedar Gudang.
Tapi Gudang tetaplah Gudang. Memang kesalahan seperti apa yang gadis remaja itu lakukan sampai – sampai ia dihukum seperti ini.
Luna merasa dirinya sedang dihukum. Ia memaksa dirinya sendiri untuk mengingat – ngingat kira – kira kesalahan apa yang ia perbuat. Tapi Luna bingung, ia merasa tidak ada yang salah. Bahkan ia ingat dengan jelas bagaimana seorang pria yang ia sebut Ayah itu masih mencium keningnya sehabis salat isya’ tadi malam sebelum sang Ayah pamit untuk ke rumah sakit karna ada operasi.
Perlakuan berbeda yang ia terima dari orang yang sama tadi malam itu secara bergantian membayangi Luna dan menyayat hatinya.
Ia bahkan takut hanya untuk keluar mengambil wudhu sebentar. Tapi dia harus salat.
Matanya menangkap sebotol air mineral disana. Mungkin punya bi Narti yang lupa membawanya keluar. Akhirnya Luna membuka jendela Gudang dan berwudhu dengan air tersebut sedikit demi sedikit.
Selesai.
Sekarang masalah mukenah lagi, ia tidak membawa apapun kesini. Semua barang ada di kamarnya. Lalu ia ingat ia sedang di Gudang, ia buka lemari kayu disana, mencari tumpukan kain di dalam sana dan dapatlah sepasang mukenah biru yang karet roknya sudah longgar. Ukurannya pun sudah agak pendek. Tapi Luna tetap mengenakannya, mengikat pinggangnya dengan kain lain yang ia jadikan seolah ikat pinggang. Untuk sejadahnya, Luna ambil sembarang salah satu kain di lemari itu lagi dan ia bentangkan menghadap kiblat.
Ia pun salat subuh disana. Sujud terakhirnya Luna memohon pada Tuhannya. Mohon berikan petunjuk atas apa yang ia alami, tapi lebih tepatnya Luna tengah mengeluhkan kesedihan hatinya di posisi tersebut. Di akhir salatnya Luna Kembali memohon dengan tadahan kedua tangannya yang terangkat setinggi wajahnya. Air matanya disana pun tak berhenti mengalir, sampai – sampai mukenah yang ia kenakan mulai basah.
.
.
.
Huhuhu aku sedih loh pas nulis ini 🥺🥺🥺
Ini cuma cerita fiktif aja yaa. Aku berharap gak ada siapapun yang bernasib seperti Luna ini. Semoga kita semua selalu dilimpahkan Kebahagiaan dunia akhirat ya 😊
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺
__ADS_1