
Saat Luna dan Juan sibuk membicarakan Rey, tak jauh dari sana ada Vani dan Dira yang terkekeh pelan menghadap Luna dan Juan. Menyadari itu, Juan pun menegur
“Ngapain loe berdua cekikikan gak jelas” Kata Juan. Tapi bukannya menanggapi Juan, Vani malah bicara pada Luna
“Lun, masa gak ngerti sih Juan lagi ngapain” Luna kemudian memiringkan kepalanya memperhatikan Juan dengan seksama karena tak mengerti maksud Vani
“Dia ngapain emangnya?” Luna bingung
“Cemburu Lunn, si Juan lagi cemburu” Sahut Dira to the point
“Hah? Beneran? Kamu cemburu? Sama dokter Rey?” Luna bertanya dengan wajah kaget mulanya tapi perlahan senyum gemas
“E-e-enggak kok, mereka sok tau aja itu. Aku kna Cuma nanya tadi” Kata Juan mencoba menyanggah dengan slaah tingkah. Luna hanya mengangguk mengiyakan saja tapi masih dengan senyum gemas nya terhadap Juan
“Udah wan.. gak usah cemburu tenang aja… karena dokter Reyhan itu udah dituliskan sebagai jodoh gue di Lauhul Mahfudz (Kitab tempat Allah menuliskan segala catatan kejadian di alam semesta termasuk jodoh)” Ungkap Vani dengan percaya diri
“Gak usah mimpi loe, bahkan dalam mimpi juga dokter Rey ogah berjodoh sama loe” Ucap Dira menimpali. Seketika Vani menatap sinis pada Dira dan disambut gelak tawa Juan dan Luna
“Eh wan, loe lagi ada masalah ya?” Vani bertanya serius kali ini
“Masalah? Masalah apa? Emang nya kenapa Van” Kali ini Luna yang bertanya pada Juan karena penasaran dengan yang baru saja diucapkan Vani
“Nggak sih gue juga gak tau, Cuma kayak mumet aja gitu dari tadi gelisah sendiri si Juan kalau gue liat” Jelas Vani
“Iya ya.. aku kok gak sadar sih, malah Vani yang sadar. Emangnya ada apa Juan? Cerita dong siapa tau kita bisa bantu” Ucap Luna.
“ha? Hmmm…” Juan bingung sendiri menoleh bergantian pada Vani dan Luna yang menanyainya
“Ngomong dong, kamu kayak sama siapa aja” Desak Luna
__ADS_1
“Tau loe, belagu banget pake malu malu segala, biasanya juga malu – maluin” Timpal Vani yang disambut sorotan kesal Juan padanya
“Aku harus ke Bandung, tadi subuh Papa kondisinya mulai lemah lagi…”
Innalillahi…
“Terus kenapa malah gelisah disini dan kamu tunggu apa lagi? Biasanya langsung berangkat ke Bandung” Ucap Luna
“Aku Cuma bingung aja bilangnya, apalagi kamu juga besok mau pulang, siang sampe malem Dira dan Vani ada praktek hari ini, kamu gimana” Kata Juan mengungkap kekhawatirannya
“Ya ampun aku udah gapapa, lagian Papa kamu itu jauh lebih penting” Desak Luna
Juan tampak berpikir sejenak namun saat pandangannya Kembali pada Luna yang tampak tersenyum dan mengangguk meyakinkan Juan agar tak perlu khawatir berlebihan terhadapnya
“Jaga diri baik – baik ya, ingat kamu harus banyak istirahat”
“Iya… kayak aku ni anak kecil aja. Jangan lupa sampein salam aku ke Papa kamu ya, maaf banget aku belum pernah jenguk dan ketemu langsung sama beliau, semoga cepat diberi kesembuhan sama Allah ya”
Ucap Vani dan Dira juga bersama Juan yang kompok mengaminkan do’a Luna
“Kalau gitu aku berangkat sekarang ya” Pamit Juan dengan senyum khasnya sambil mengelus kepala Luna
Disana Vani memandang dengan senyum tipis
Dan di pagi menjelang siang nya giliran Vani dan Dira yang pamit pergi karena ada praktek yang tidak bisa mereka tinggalkan meskipun mereka ingin, walaupun sering bertengkar tapi Vani dan Dira memiliki banyak kesukaan yang sama salah satunya dalam hal minat pada jurusan dimana keduanya adalah mahasiswa kedokteran semester akhir
16.30
Luna merasa jenuh di atas ranjangnya dan suasana ruang rawat inap nya yang sepi, dia pun memutuskan untuk bersantai di taman Rumah Sakit yang kebetulan berada tepat di belakang ruang rawat inapnya, selang beberapa menit Luna duduk menikmati angin sore di bangku taman, datanglah Rey membuka pintu ruang rawat inap Luna. Hatinya mendadak timbul rasa gelisah dan takut mendapati Luna tak ada di ranjangnya sekalipun di toilet. Sampai matanya menangkap ke balik jendela dan terlihat sosok yang ia cari tengah duduk santai di bangku taman, Rey pun menghela nafas berjalan lesu menyusul Luna ke taman
__ADS_1
“Ngapain disini?” Mendengar suara dari samping, Luna pun menoleh dan mendongak
“Ehh dokter, ada pemeriksaan atau apa gitu ya? Saya balik ke kamar dulu” Kata Luna sambil bersiap buru buru ingin berdiri namun di cegah Rey
“Ehh nggak-nggak, gak ada. Boleh saya duduk juga disini?” Tanya Rey, Luna terdiam heran sebentar kemudian mengangguk pelan setengah ragu. Rey pun duduk di sebelahnya dengan sedikit jarak. Mereka terdiam untuk beberapa saat menikmati suasana sore taman rumah sakit
“Bagus” Ucap tiba - tiba
“Apanya Dok?” Luna bertanya bingung
“Ini juga masuk kategori pemulihan kok” Kata Rey lagi dan Luna malah semakin termangu tak mengerti, Rey yang menyadari itu malah tersenyum melihat wajah Luna yang lucu menurutnya
“Kesehatan dan kesembuhan itu Sebagian besar berasal dari diri kita sendiri, kamu disini lagi refreshing kan, itu juga bagus untuk keehatan kamu” Jelas Rey
Mendengar itu, Luna mengangguk mengerti bersama mulutnya yang membentuk huruf O
“Dokter itu dekat ya sama Ayah?” Luna bertanya untuk memecah kebisuan antara mereka yang terasa canggung sebenarnya
“Kenapa tanya itu tiba – tiba?”
“Hmm gapapa sih, Cuma penasaran aja soalnya Dokter kayak peduli gitu sama segala hal yang berhubungan dengan Ayah, Dokter juga manggil Ayah dengan sebutan Om kan, gak kayak rekan dokter Ayah yang lain” Rey tampak tersenyum kecil
“Karena Om Edi itu adalah penyelamat saya dulu, orang yang sangat berjasa sampai saya bisa jadi seperti sekarang. Dan gak Cuma Om Edi kok, tapi kamu juga”
Ehh? Luna malah semakin bingung dengan kalimat terakhir Rey
“Emang dari awal liat dokter itu kayak gak asing sih tapi saya gak yakin. Jadi bener ya dok kita pernah ketemu sebelumnya? Dimana? Dan kapan? Certain dong dok” pinta Luna yang sekarang terlihat semangat ingin tau
Rey pun menceritakan segalanya mulai dari awal sekali hingga akhir, termasuk pengalaman dan ceritanya selama belajar di Luar Negeri, Luna tampak serius dan mendengarkan setiap cerita Rey dengan baik
__ADS_1
“Jadi gitu” Kata Rey mengkahiri ceritanya
“Wahh gak nyangka ternyata kitab isa ketemu lagi, sumpah aku bener – bener gak sadar karena dokter udah berubah banget sekarang, udah jadi dokter hebat juga” Ucap Luna dengan semangat setelah mengetahui siapa dokter di depannya ini