Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 60


__ADS_3

Saya bukan pengecut. Tapi mencintai dia dalam do'a-do'a saya adalah bukti terbesar cinta saya untuk dia.


.


.


.


Alhamdulillah... Ungkapan syukur itu terus Luna lantunkan karena adiknya, Yana pagi ini sudah diperbolehkan pulang. Kandungannya pun dinyatakan sehat. Terlepas dari masalah yang sedang ia hadapi. Tapi Luna benar-benar bahagia untuk yang satu ini. Di tangannya sudah ada nampan berisi buah dan segelas susu untuk ibu hamil. Luna mengangangkat sedikit lututunya untuk menjadi penyangga nampan itu selagi sebelah tangannya ia gunakan untuk membuka pintu kamar Yana. Yana yang mendengar pintu di buka secara tiba-tiba langsung terkesiap gugup menghapus cepat air matanya. Senyum yang semula tertarik di bibir Luna pun runtuh setelahnya. Meletakkan nampan itu pelan-pelan ke nakas. Luna kemudian duduk di sisi tempat tidur menghadap Yana.


"Apa yang kamu pikirkan?" Belum Yana menjawab, kepalanya sudah tertarik menuju benda di atas bantal sisi kiri Yana yang terlihat dari ekor mata Luna sebelumnya. Tangannya pun terangkat mengambil benda pipih itu. Sebuah undangan. Luna membacanya, disana terukir dengan indah nama Rey dan Yana. Ini seharusnya menjadi hal yang membahagiakan. Tapi kenapa sekarang adalah kebalikannya yang harus Yana rasakan.


"Masih belum terlambat, kalau kamu-" Dengan cepat Yana menggeleng memutus ucapan Luna.


"Yana cuma belum menyesuaikan aja. Yana gak papa" Senyum yang Yana tunjukkan itu begitu sayu. Membuat Luna iba saja. Menimbang-nimbang kembali apakah pernikahan ini memang harus terjadi. Tak lama Yana terlihat mengerucut.


"Kenapa?"


"Yana gak enak deh... Yana ngelangkahin kak Luna buat nikah duluan" Kelakarnya sedikit melucu yang disambut gelak tawa kecil dari Luna.


"Jodoh gak ada yang tau. Lagian pernikahan itu kan bukan pertandingan"


"Iya juga yaa... Siapa tau malah dalam seminggu ini kak Luna yang bakal nikah duluan"


"Ihh sama siapa juga"


"Ya sama kak Juan lah. Siapa tau entar malem datang ngelamar" Ucap Yana tersenyum mengejek sambil sedikit menyenggol lengan Luna. Tapi kalimat itu menyentak jantungnya. Senyumnya mendadak hilang. Juan. Luna masih berharap kejadian itu hanyalah mimpi saja. Tak ingin membahas lebih jauh atau membuat Yana curiga Luna pun mencoba menetralkan emosinya.


"Makan dulu buahnya" Luna mengalihkan dan menunjuk nampan di nakas samping Yana.

__ADS_1


"Habisin ya... Kakak mau pergi sebentar" Pamitnya seraya berdiri.


"Ehh mau kemana?"


"Mau cari buku, sebentar aja kok"


"Boleh nitip gak?" Tanya Yana memasang wajah ala-ala menggemaskan penuh harap.


"Apa?"


"Yana titip jarum, benang gitu, pokoknya alat-alat buat menjahit deh"


"Yaudah, nanti kakak beliin. Seneng deh kamu mau lakuin hobi kamu itu lagi"


"Biar ada kerjaan aja" Luna tersenyum lembut kemudian bersiap-siap untuk pergi. Jalanan pasar cukup ramai hari ini. Luna memperhatikin kiri dan kanan saat ingin mrnyebrang. Syukurlah saat dirinya sudah akan menyebrang ke toko tempat menjual alat menjahit di depan sana, kendaraan yang melintas mulai melonggar. Setelah di rasa cukup aman Luna pun melangkahkan kakinya dengan cepat. Tapi dari gang kecil yang dekat di sisi kiri Luna keluar sebuah motor yang melaju dengan kencang ke arah Luna.


"Luna awas!" Luna terbelalak. Jantungnya berpacu dengan kuat, syukurlah dia tidak apa-apa. Pengendara motor tadi pun ikut kaget hingga mengerem mendadak memutar stang motornya kuat untuk menghindari Luna sampai ia terjatuh tapi masih tidak apa-apa. Buru-buru ia bangkit menghampiri Luna.


"Oh? I-iya mas gapapa. Mas nya sendiri gapapa kan? Luna bertanya balik. Bagaimanapun dia memanglah wanita berhati baik.


"Saya gapapa mbak. Tadi saya buru-buru anak saya masuk rumah sakit" Luna jadi iba.


"Iya mas gapapa. Yaudah mas nya pergi aja, lain kali lebih hati-hati ya mas, semoga anaknya cepat sembuh" Kata Luna ikut mendo'akan.


"Makasih mbak, kalau begitu saya permisi dulu. Sekali lagi saya minta maaf" Luna mengangguk. Pria pengendara motor itu pun bergegas membenahi motornya dan segera melaju. Luna berbalik, ia baru sadar tubuhnya sempat ditarik oleh seseorang tadi.


"Dokter.. " Begitu serunya setelah melihat Dokter Rey lah yang berada di sisinya.


"Makasih ya dok udah nolongin saya"

__ADS_1


"I-iya sama-sama. Kamu udah gapapa kan? Saya tinggal dulu ya" Rey memang terlihat sedang buru-buru sekarang seiring kepalanya yang terus menoleh ke arah gang pasar yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Iya gapapa dok. Saya baik-baik aja" Mengusap bahu Luna sekilas. Rey lantas berlari ke arah gang yang sudah ia perhatikan sejak tadi. Sampai disana. Ia menengok kiri dan kanan. Nihil. Tidak ada siapapun disana. Begitu berbalik ia dapati pria yang sedang ia cari tengah bersandar di dinding semen gang itu dengan menyilangkan tangannya di dada sambil memandangnya dingin.


"Cari saya?" Rey mendekat.


"Kenapa kamu kabur setelah menolong dia? Sejauh yang saya tau dia adalah kekasih kamu" Pria itu berdecih disertai senyum miring. Menurunkan kedua tangannya dan menegakkan tubuhnya.


"Kenapa kamu terlihat perduli sekali?"


"Apa maksud kamu?"


"Dia sudah membosankan. Masih banyak di luar sana wanita yang lebih cantik, lebih seksi di banding wanita seperti Luna yang-"


Bugh!


Mulut pria itu bungkam seketika disertai pukulan di bibirnya hingga robek dan berdarah.


"Pengecut" Satu kata itu keluar dari mulut Rey dan menyulut emosi pria tersebut. Pria yang tak lain adalah Juan itu cukup meringis nyeri. Meludahkan darah segar yang keluar dari bibirnya. Ia lantas maju dan membalas satu tinju juga. Pukulan itu cukup membuat Rey terhuyung ke belakang dan menabrak dinding.


Juan mendekat.


"Pengecut? Bukannya itu loe ya? Loe suka kan sama Luna?" Rey menatap kaget dengan nafas terengah dan tangannya masih memegang pipinya yang nyeri.


"Loe suka sama dia... Baik ke dia... Tapi nikah nya sama orang lain. Apa dong namanya kalau bukan pengecut?"


"Kamu gak tau apa-apa"


"Apa yang gak gue tau? Gue cukup tau kalo loe punya rasa sama Luna sejak pertama kali gue liat loe di rumah sakit. Kalo memang suka gentle dong. Jagain dia bukannya malah nikah sama cewek lain berengsekk! Atau loe juga cuma main-main sama Luna? Dia juga gak cukup cantik dan seksi kan buat loe" Nafas Rey memburu. Ia cengkram kerah baju Juan hingga menguncinya di dinding tembok.

__ADS_1


"Jangan bicara macam-macam tentang Luna!" Mendengar itu. Juan tersenyum miring. Untuk sesaat mereka hanya saling melempar tatapan tajam dengan sengit. Rey pun melepas cengkramannya dengan menyentak.


"Saya bukan pengecut. Tapi mencintai dia dalam do'a-do'a saya adalah bukti terbesar cinta saya untuk dia " Jelas Rey sebelum pergi dari sana. Juan melihat punggung belakang Rey yang semakin menjauh sampai menghilang. Setelahnya ia menonjok dinding semen gang yang tidak rata di dekatnya hingga darah segar miliknya pun mengalir.


__ADS_2