
Nia hamil
Nia hamil
Nia hamil
Hanya dua kata itu yang berkelabat dan memenuhi seluruh ruang pikiran Arief saat ini. Maka yang ia lakukan sekarang adalah pergi mencari Nia kemanapun dan dimanapun sampai ketemu.
Kondisinya yang masih lemah dengan cuaca yang masih hujan lebat tak ayal menghalangi Arief untuk mencari keberadaan Nia. Ia masih belum memutuskan untuk tetap berpisah atau tidak. Pikirannya kacau, Lia dan Nia. Sama-sama mengandung anaknya.
Ya Tuhan! Takdir seperti apa ini. Di tengah pikirannya yang carut marut hingga mempertanyakan takdir dalam hidupnya. Ia tersadar, bahwa takdir itu ada karena keserakahannya sendiri. Di banding mengeluh, ia lebih pantas untuk memohon pengampunan.
Drrtttttt
Arief merasakan ponselnya bergetar di saku celananya. Dengan cepat ia menepikan sepeda motornya dan segera merogoh ponsel itu. Perasaan lega sedikit meniup hatinya melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya. Nia.
“Halo, kamu dimana Nia? Tolong pulang, maafin aku. Maafin aku. Aku emang brengsek, tolong pulang kita bicarakan baik-baik. Maafin aku”
Berulang kali Arief mengucap maaf. Dapat Nia dengar suara Arief begitu frustasi dan penuh harap.
“Kenapa berisik banget? Kamu dimana?Kamu hujan-hujanan? Kamu kan baru pulang dari Rumah Sakit”
Terdengar nada khawatir di akhir kalimat Nia, membuat sudut hati Arief menghangat hingga ia tersenyum sayu. Sudah begitu besar Nia dikecewakan olehnya. Tapi gadis itu masih saja peduli dengan kondisi kesehatan Arief. Ayahnya memang tidak salah pilih.
“Kamu pulang ya, aku nyariin kamu dari tadi”
Keheningan mengambil alih, Arief mendengar helaan nafas berat dari balik telepon. Ia pun ikut merasa sesak karena itu.
__ADS_1
“Aku akan disini sampai besok. Kamu pulang, jangan hujan-hujanan gini. Aku baik-baik aja. Besok aku pulang, karena Ibu mau datang besok, aku gak mau Ibu tau masalah kita”
Arief kembali murung. Jadi kepulangan Nia semata-mata karena Ibu mertuanya, bukan untuk dirinya. Karena tak mendapat jawaban dari Arief, Nia pun langsung mengucap salam dengan cepat dan menutup panggilan telepon tersebut.
Tapi yang Arief lakukan, bukanlah pulang. Melainkan nekad pergi ke Jakarta, apalagi jika bukan berniat menemui Lia.
Aku ke Jakarta sekarang. Aku perlu ketemu. Penting. Jangan lupa pakai baju dan jaket tebal.
Begitulah isi pesan yang Arief kirimkan kepada Lia sebelum ia melajukan sepeda motornya ke Jakarta. Syukur Edi pada malam itu sedang menjadi relawan di luar negeri. Jadi ia bisa pergi menemui Arief.
Lia sampai terlebih dahulu setelah menimbang-nimbang waktu dari jarak Arief berangkat ke tempatnya. Berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan Arief. Sampai akhirnya telinganya menangkap suara motor yang ia ketahui milik Arief. Lia menyerngit memperhatikan Arief dari atas hingga ke bawah.
“Kamu kenapa basah-basahan gini mas? Di Bandung hujan? Ya ampun ayo kamu ganti baju dulu”
“Nia hamil”
Dua kata itu sontak membuat langkah Lia terhenti.
Lia bergumam pelan. Arief tampak menggeleng.
“Aku bingung banget sekarang. Aku gak tau harus apa. Kamu dan dia…”
Arief tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Nafasnya sudah sesak sejak tadi walau hanya untuk sekedar bernafas normal.
“Aku udah terlanjur minta pisah. Dia pergi, aku gak tau dia kemana. Aku baru tau dia hamil setelah dia pergi. Aku bingung, aku gak tau dia dimana sekarang”
Arief bercerita dan mengakhirinya dengan tangis pilu hingga bahunya bergetar. Lia mencelos, sangat jarang ia melihat Arief bisa menangis dengan keadaan sehancur ini. Bahkan saat mereka memutuskan berpisah, Lia hanya sekedar melihat mata Arief yang berkaca-kaca. Tapi sekarang…
__ADS_1
Apa ini karena bayi yang dikandung Nia? Atau cinta Arief yang mulai tumbuh pada istrinya itu. Astaga! Dengan cepat Lia menyadarkan dirinya sendiri. Bukan itu yang terpenting sekarang. Lia tidak bisa egois, diapun mungkin tidak akan sanggup menjalani hidup bersama Arief di atas penderitaan Nia. Apalagi wanita itu juga tengah mengandung anak Arief, saudara dari anaknya juga.
“Kembalilah ke Nia mas”
Arief mendongak. Memandang dan mencari keseriusan di wajah Lia.
“Tap-“
“Ingat anak kamu. Itu yang terpenting. Dia istri kamu. Sejak awal memang hubungan kita ini salah. Kita udah serakah dengan mengatasnamakan cinta dan membuat kita tega menyakiti pasangan kita masing-masing. Merasa takdir gak adil sama kita. Tapi di samping itu, kita gak sadar kalau Allah sudah menurunkan kita pasangan yang baik. Yang harusnya kita jaga, yang harusnya kita terima. Bukannya aku bilang kamu gak baik. Tapi mungkin ini adalah cara Allah dalam menguji keikhlasan kita”
Arief mendengarkan dengan seksama. Semua yang Lia ucapkan juga sama dengan yang ia pikirkan sepanjang jalan tadi. Tapi Lia pun juga sedang mengandung anaknya. Darah dagingnya. Tanggung jawabnya.
“Tapi anak i-“
“Aku akan menjaga anak ini dengan baik. Mungkin aku salah, tapi akau akan coba merahasiakan anak ini dari mas Edi”
Ucap Lia kembali memotong perkataan Arief.
Tidak! Bukan ini yang Arief harapkan.
“Aku gak bisa Lia. Aku gak bisa”
“Kalau gitu apa kamu punya jalan keluar lain? Nia gak akan mungkin mau kamu nikah lagi. Dan akupun gak mau jadi yang kedua. Terlebih jadi perusak rumah tangga kalian. Aku gak bisa nyakitin Nia lebih dalam. Begitupun dengan Mas Edi. Memang jalan terbaik untuk kita adalah berpisah”
Arief masih tampak tidak terima. Tapi memang benar, ia tidak ada jalan lain. Semuanya buntu. Ia tidak dihadapkan pada pilihan apapun.
“Demi kebaikan kita semua mas. Terlebih kebaikan anak-anak kita. Aku yakin mas Edi akan jadi Ayah yang baik. Kamu percaya kan?”
__ADS_1
Arief masih terdiam.
“Mas. Aku mohon. Kita benar-benar gak punya pilihan. Aku tau jauh di dalam hati kamu pun , kamu gak ingin menyakiti Nia dan anaknya. Biar kita hanya menjadi bagian dari masa lalu, dan biarkan ini hanya menjadi rahasia kita berdua”