Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 64


__ADS_3

Luna sayang Ayah...


.


.


.


Begitu tenaga mesin besi beroda empat yang dikendarai Rey sudah dekat dengan rumah Luna. Ia perlambat laju mobil miliknya sampai akhirnya berhenti di halaman depan rumah berlantai semen. Ada hawa mencekam yang melingkupi Luna. Ada Edi sedang duduk di kursi teras rumah tanpa ekspresi. Ohh tidak.... Sepertinya akan ada masalah baru. Begitu pikir Luna. Suasana ini bahkan lebih dingin daripada tubuhnya yang sekarang masih basah akibat hujan tadi. Rey mengerti itu. Ia pun membuka sabuk pengamannya dan berkata.


"Ayo. Saya ikut turun dan akan bantu menjelaskan ke Om Edi, kamu jangan takut" Mengerjap pelan. Luna dengan gerakan lambat menyusul membuka sabuk pengaman yang melilit di perutnya kemudian membuka pintu mobil. Ia berjalan dengan hati-hati dan menunduk.


"Assalamu'alaikum Om" Sapa Rey terlebih dahulu. Tak lupa ia menjabat dan mencium tangan calon Ayah mertuanya itu. Ayah mertua? Huhhh. Mengingat itu membuat Rey sedikit meringis saja di hatinya. Jika saja Ayah mertua yang dimaksud itu adalah jalinan yang terajut bersama Luna. Mungkin Rey akan... Ahh apa sih yang dia pikirkan. Buru-buru ia mengusir pikiran yang ia anggap gila itu. Bagaimanapun Yana adalah calon istrinya sekarang. Melihat Rey menyalami Edi, Yana menoleh kaku.


"A-Assalamu'alaikum Yah, ta-tadi Luna hmm itu-" Luna sampai terbata-bata menahan ketegangan di depan Ayahnya. Namun kalimat itu tertahan bukan semata-mata karena Luna bingung untuk menjelaskan dirinya yang baru pulang kerumah dalam keadaan seperti ini bahkan bersama Rey. Tapi karena di dalam keadaan kepalanya yang masih tertunduk, dapat Luna rasakan ada telapak tangan cukup besar dan hangat mendarat di pucuk kepalanya. Ia terpaku.


"Masuk, nanti kamu sakit" Itu suara Ayahnya... Iya itu suara Ayah. Setelahnya Luna mendongak pasti bersama matanya yang mulai berkaca-kaca. Disana Edi masih meletakkan tangannya di kepala Luna, tapi wajah itu masih menyisakan hawa dingin. Tapi entah kenapa sudut hati Luna malah menghangat. Mata mereka bertemu. Lalu Edi yang pertama kali memutus itu bersamaan tangannya yang ia jauhkan dari kepala Luna. Berdehem sebentar, lalu ia kembali menyuruh Luna masuk yang dibalas anggukan cepat penuh haru dari Luna. Setelah memastikan Luna benar-benar masuk dan jauh dari mereka, Edi kemudian memposisikan dirinya menghadap Rey.


"Saya tau kamu dan hati kamu" Rey melongo kaget di tempatnya.

__ADS_1


"Maksud Om?" Rey bertanya takut. Mungkinkah Om Edi tau perasaannya? Edi tampak tersenyum.


"Nggak" Sambil menggeleng. "Lupain aja, saya hanya ingin kamu ingat sebentar lagi Yana akan menjadi tanggung jawab kamu"


Uhhh... Tenaganya serasa merosot. Ada rasa lega juga sedikit ketidakrelaan begitu kalimat Edi barusan sampai di telinga Rey.


"Iya Om" Jawabnya sambil mengangguk pelan dan tersenyum lesu.


"Kalau gitu saya pamit. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam" Edi pun tetap berdiri disana sampai Rey dan mobilnya benar-benar menjauh dari jangkauan mata dan pekarangan rumahnya. Ia masuk kerumah. Mengunci pintu utama dan berbalik melanjutkan langkahnya. Bukan ke kamarnya, tapi kamar yang tak jauh dari dapur rumah disana. Yaitu kamar Luna, atau bisa disebut gudang mungkin. Hanya saja setelah bertahun-tahun Luna tidur disana dan selalu ia rapikan dan sedikit dihias seadanya. Gudang itu cukup manusiawi untuk disebut kamar tidur. Tanpa mengetuk ia masuk dan mendapati Luna yang sudah berganti pakaian tengah berkutat dengan laptopnya sambil tersenyum. Tapi secepat kedatangannya kesana, secepat itu pula ia lihat dengan jelas lengkungan di bibir Luna menurun.


"Kenapa Yah?" Luna bertanya pelan tanpa merasa ada tekanan. Maksudnya sedikit tanpa tekanan, mengingat ada sedikit sikap dingin Ayahnya selama ini ada yang mencair.


"Satu lagi. Rey adalah yang terbaik untuk Yana, jadi jangan terlalu dekat. Bagaimanapun dia akan jadi ipar kamu" Hanya anggukan yang Edi dapat dari Luna. Itupun dengan gerakan lemah dan lambat. Tapi cukup baginya. Edi baru memutar sedikit tubuhnya untuk pergi tapi Luna menahannya dengan suara lirih.


"Yah... Luna sayang Ayah"


Deg!

__ADS_1


Entah kenapa kalimat lembut dari gadis malang di belakangnya ini malah terasa menyayat dan mengobrak-abrik isi hatinya. Edi tidak merespon. Ia tetap keluar setelah menoleh sebentar pada Luna. Ia melangkah cepat menuju kamarnya. Disana ia mengusap kasar rambutnya dengan gusar. Di lain tempat Rey tengah berbaring setelah sampai di kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Terdengar helaan nafas berat dalam pejaman matanya.


Kenapa begitu sulit mengusir kamu dari hati aku?


Ia membatin pilu. Siapa lagi jika tidak ditujukan pada gadis pertama dan satu-satunya yang masih dia cintai. Luna.


Tok tok tok


Rey menoleh tepat setelah bunyi ketukan pelan dari pintu. Ia pun bangkit dan membukanya.


"Ma? Belum tidur?" Tanya Rey setelah mendapati Rina yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Mama kebangun dengar suara mobil kamu, boleh Mama masuk?"


"Boleh dong, ayo Ma" Ajak Rey pada Rina, Mamanya dan menuntunnya duduk di sisi ranjang miliknya.


"Kenapa? Kok kayaknya penting banget?" Rina terlihat lesu dan ragu-ragu.


"Rey, kehadiran kamu membuat Mama lupa kalau Mama itu punya kekurangan dalam hal memiliki keturunan. Semua yang Mama rasa kurang itu tercukupi dengan penuh oleh kamu. Sayang Mama ke kamu itu adalah selayaknya kasih seorang Ibu. Ditambah lagi kamu terlahir dari rahim sahabat yang juga sangat Mama sayangi. Oleh karena itu, kebahagiaan kamu adalah penentu kebahagiaan Mama sekarang" Ujar Rina dengan tulus. Terlihat kesungguhan dan kesedihan di wajah wanita paruh baya ini. Setelahnya, Rey turun dan berjongkok, meraih kedua tangan Rina dan menciumnya hikmat. Menyalurkan serta mengungkapkan bahwa Rey pun juga sangat menyayangi dirinya.

__ADS_1


"Rey sayang banget sama Mama, karena Mama Rey bisa merasakan kehadiran sosok Ibu lagi" Rina menangis haru.


"Maka dari itu Rey. Kalau bisa Mama ingin kamu membatalkan pernikahan ini. Mama gak merestuinya" Rey berjengit. Ia cukup terkejut karena tidak menyangka maksud dari pernyataan Rina tadi adalah tentang pernikahannya bersama Yana


__ADS_2