Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 128


__ADS_3

“Ini menurut yang aku denger dari Om Arief dan juga Juan” Kata Rey memulai pembicaraan


Dahi Luna mengerut


“Juan?” Tanya Yana heran


“Iya Juan, jadi gini ceritanya” Rey pun akhirnya memulai


Flashback On


“Aku akan belajar mencintai kamu Nia” Kata Arief seminggu setelah mereka menikah karena perminta mendiang Ayah Arief. Nia hanya menjawab itu dengan anggukan dan senyum lembutnya. Kala itu ia masihlah gadis polos dan penurut berusia 19 tahun yang kedua orang tuanya jodohkan dengan pria sederhana seperti Arief.


Hari-hari pernikahan mereka berlalu dengan baik layaknya pernikahan bahagia lainnya. Nia adalah seorang istri yang baik juga tulus. Arief tidak memungkiri itu, sampai detik ini tidak ada satu kesalahan atau keburukanpun yang Arief dapat dari Lia sebagai seorang wanita, bahkan seorang istri, terlepas dari usianya yang masih belia, maka dari itu pun dia juga berusaha menjadi suami yang baik, meski dalam hatinya ia merasakan kejenuhan. Apalagi hatinya yang belum juga bisa melupakan mantan kekasihnya, semakin menyiksa Arief saja.


“Aku berangkat dulu ya” Pamit Arief setelah menelan tegukan terakhir kopi buatan Nia.


“Iya mas” Jawab Nia seraya mengulurkan tangannya. Arief menyambut itu dengan baik. Sudah menjadi kebiasan baik mereka setiap Arief akan berangkat kerja setiap pagi.

__ADS_1


Mengendarai sepeda motornya, Arief menyusuri jalanan kota Jakarta. Entah fokusnya yang sedang terganggu atau orang lain yang tidak hati-hati. Di luar kendalinya, motor Arief menyerempet seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari sebuah gang kecil. Arief pun buru-buru turun dengan cemas. Rambut panjang gadis itu terurai menutup bagian wajahnya. Gadis tersebut terdengar meringis menyentuh kakinya yang terluka.


“Mbak maaf saya gak lihat. Mari mbak saya bantu” Ringisan gadis tersebut terdengar berhenti seiring suara Arief yang sedang panik dan menawarkan bantuan. Kepalanya pun dengan cepat mendongak dan mengibas rambut panjang miliknya, membuat wajahnya kini terpampang jelas di mata Arief. Badan Arief yang mulanya sedikit membungkuk, sekarang berangsur menegak secara perlahan dengan mata membulat. Begitupun gadis yang sedang terduduk di tanah itu. Matanya juga sama membulatnya memandang Arief.


Di sebuah restoran kecil, mereka duduk saling berhadapan dalam diam. Setelah tadi Arief membeli obat antiseptik, plester dan alat P3K lainnya yang mungkin dibutuhkan. Gadis yang duduk di hadapan Arief itu menurunkan pandangannya pada tangan kanan dan kiri Arief yang terlipat di atas meja. Bisa ia lihat ada cincin berwarna silver yang melingkar di jari manisnya.


“Kamu udah nikah?” Suara gadis tersebut menarik kepala Arief untuk balik memandangnya. Dengan salah tingkah ia mencoba menjawab setelah melirik tangan kanannya dan berpikir benda kecil bulat inilah penyebab adanya pertanyaan barusan.


“Ehmm.. I-iya” Dapat Arief lihat kepala gadis di depannya mengangguk.


“3 bulan setelah kamu menikah” Kepalanya tampak mengangguk lagi.


“Berarti udah 3 bulan ya sekarang” Kali ini Arief yang mengangguk. Setelahnya keheningan kembali mengambil alih.


“Kamu bahagia Lia?” Tanya Arief pada gadis yang ternyata adalah Lia, memecah keheningan antara mereka. Lia tercekat, bibirnya masih terkatup namun Arief membaca bahwa ada banyak kata yang disimpan Lia di matanya.


“Kenapa kamu diam?” Arief bertanya lagi. Lia seakan tersadar dari lamunannya, matanya dengan gelisah menatap kesana kemari.

__ADS_1


“Aku mau pulang, selamat untuk pernikahan kamu” Ucap Lia mengalihkan. Tubuhnya sudah berdiri, namun baru juga akan melangkah, tangannya sudah ditahan oleh Arief.


“Lihat kamu yang menghindar gini apa bisa aku artikan bahwa jawabannya kamu gak bahagia” Sedetik kemudian, Lia menyentak tangannya namun pautan tangan Arief tidak juga terlepas.


“Lepas mas! Kita itu udah gak ada hubungan apa-apa lagi” Dapat terdengar suara Lia yang mulai meninggi tidak suka. Arief melepas tangan Lia, tapi tubuhnya jsutru mendekat.


“Berarti benar kamu gak bahagia” Kata Arief lagi.


“Aku bahagia. Udah kan? Sekarang aku pergi dulu” Lia melirik dengan gemas, karena tangannya sudah ditahan lagi.


“Tapi yang aku lihat gak begitu” Ucap Arief lirih. Dengan jarak sedekat ini membuat Lia bisa merasakan deru nafas Arief yang hangat.


Ohh tidak! Jika sudah begini Lia jadi lemah. Tatapannya, sentuhannya, wajahnya dan semuanya yang ada pada Arief sangatlah Lia rindukan selama 6 bulan ini. Melihat mata Lia yang mulai berkaca-kaca, Arief menaikkan tangannya ke bahu Lia.


“Apa… Kamu masih cinta sama aku?” Tanya Arief dengan ragu-ragu. Mereka saling menatap dalam.


“Aku masih mencintai kamu Lia. Sangat, semakin aku berusaha melupakan kamu. Aku justru makin terikat lebih erat dengan cinta ini” Kejujuran itu meruntuhkan pertahanan Lia. Astaga! Salahkah jika Lia ingin jujur kalau dirinya pun merasakan hal yang sama?

__ADS_1


__ADS_2