
Di suatu minggu Luna merasa seluruh tubuhnya lemas, bahkan salat subuh tadi pun kakinya terasa gemetar, hari ini memang libur namun ia tetap memaksakan dirinya untuk bekerja di salah satu toko buku setiap hari sabtu dan minggu, Luna berjalan gontai di bawah teriknya matahari pagi. Ia mendapati penglihatannya yang semakin gelap seiring langkah tak teraturnya , semakin gelap… telinga berdengung hingga setelah itu ia terjatuh di tepi jalan, samar – samar Luna dapat melihat orang – orang yang berlari menghampirinya bersama sayup – sayup suara dari berbagai arah sampai akhirnya Luna pun benar – benar tak sadarkan diri disana.
- - -
“Alhamdulillah, kamu akhirnya sadar”
Luna yang masih perlahan membuka mata menyesuaikan berkas cahaya yang masuk belum merespon, beberapa saat berikutnya barulah matanya yang masih lemah menangkap sosok laki – laki berjas putih yang tidak asing tengah memperhatikannya.
Ternyata dia dokter… Luna bergumam dalam hatinya.
“Saya kenapa” Luna akhirnya bersuara dengan suara serak dan pelan khas orang sakit.
“Kamu tadi pingsan dan dibawa kesini sama warga. Kebetulan sekali kamu dibawanya ke Rumah Sakit ini, tempat Ayah kamu kerja” Ucap dokter muda tersebut yang tak lain adalah Rey.
Iya.. si Rey… si pelanggan tetap di café tempat Luna bekerja yang selalu memesan segelas Brown Sugar Milk Coffee dan pria yang sama yang ia dan Ayahnya tolong juga dahulu, seorang pria baik dari seorang Ibu bernama Jihan yang sempat mengajarinya menyulam walau hanya sebentar. Rupanya ia benar – benar Kembali lagi kesini sebagai dokter sebagaimana yang diucapkannya dulu di depan Edi, Ayahnya.
But wait! Dahi Luna sedikit mengerut mendengar kalimat terakkhir Rey. Rupanya ia belum menyadari siapa Rey yang dihadapannya ini
Apa maksud Rey dengan Ayahnya bekerja disini? Berarti sekarang ia sedang terbaring di Rumah Sakit tempat Ayahnya bekerja? Tapi darimana juga lelaki itu tau kalau Luna punya Ayah disini? Apa mereka saling kenal?
Kira – kira begitulah beberapa pertanyaan yang melingkar di pikiran Luna saat ini.
Tak lama… Ceklek! Terdengar suara pintu yang dibuka dari luar. Spontan Luna dan Rey menoleh ke arah pintu.
Ayah… Luna berbisik di hatinya begitu melihat sosok yang baru saja masuk
__ADS_1
“Om” Sapa Rey menyambut kedatangan Edi yang juga berprofesi sebagai Dokter di Rumah Sakit tersebut
Om? Lagi – lagi Luna bergumam sendiri dalam hatinya mendengar sapaan Om pada Ayahnya dari mulut Rey.
Rey tampak berjalan mendekati Edi sambil berkata
“Om, Alhamdulillah Luna sudah sadar. Jadi gini, dia-“
“Bisa tinggalkan kami sebentar?” Edi memotong kalimat Rey yang belum selesai dengan nada serius. Tiba – tiba atmosfer di ruang tersebut terasa berubah. Secara bergantian mata Rey melihat Edi dan Luna, sadar ada suasana yang tidak stabil, Rey pun mengangguk mengerti dan pamit singkat sebelum keluar
“Permisi”
Setelah menutup pintu, mulanya Rey berniat untuk langsung pergi,namun suara Edi di dalam menghentikan langkahnya.
“Kamu bisa pergi dari sini kalau sudah merasa lebih baik. Saya gak mau harus berpura – pura hubungan kita baik – baik saja di depan orang – orang disini” Kata Edi dengan datar tanpa ekspresi kemudian bergegas ingin keluar, namun suara kecil Luna menghentikannya
Edi memang berhenti sejenak, namun tubuhnya tidak berbalik sedikitpun. Tak lama ia melanjutkan langkahnya terus keluar tanpa merespon ucapan Luna sedikitpun. Begitu keluar, ia melangkahkan kakinya dengan cepat menjauh dari ruangan Luna, tampak tak jauh dari sana terlihat Rey duduk di kursi tunggu.
Rey menoleh begitu menyadari ada yang keluar dari ruangan Luna, dengan sigap ia berdiri berniat menghampiri Edi untuk menjelaskan keadaan Luna.
“Om, mengenai Luna-“
“Saya masih ada pasien, tolong kamu urus dia” Lagi – lagi perkataan Rey di potong Edi dan langsung beranjak pergi.
Rey memandang bingung punggung Edi yang terlihat semakin jauh. Secara tak langsung Rey bisa menyadari ada dinding tinggi yang membatasi hubungan Ayah dan anak yang ia ketahui bahwa Edi adalah sosok Ayah penyayang bagi Luna sebelumnya, namun ia tau sekarang sudah terlihat jauh berbeda.
__ADS_1
- - -
22.00
Malam harinya, Rey berencana ke ruangan Luna mengecek keadaannya, namun sesampainya disana dia tidak menemukan keberadaan Luna di ranjang rumah sakit maupun di toilet, dokter Rey pun keluar lagi dan bertanya pada suster yang berjaga
“Sus pasien atas nama Lunara Ustman yang ada di kamar anggrek itu kemana ya, kok kamarnya kosong”
“Hmm yang anaknya dokter Edi itu ya dok?”
“Iya yang itu”
Suster tersebut tampak mencoba mengingat – ngingat sejenak
“Ohh tadi sih ada lihat dia keluar, saya tanya mau kemana dia bilang mau cari udara segar gitu, tapi dia malah ke arah lift sih”
Ke arah lift? Rey sedikit bergumam heran tanpa bersuara mendengar pernyataan suster itu
“Baik terimakasih”
“Iya sama-sama dok”
Rey untuk sebentar seperti berpikir, ia kemudian bergerak cepat Kembali ke kamar inap Luna, ia mengecek sekeliling, barulah ia tersadar akan keadaan jendela yang terbuka dan keberadaan selang infus yang dibiarkan tercabut sudah berakhir di lantai dengan keadaan jarum yang masih terpasang dan terdapat setetes darah disana. Barulah kemudian Rey bergegas menuju lift. Begitu sampai ia dengan cepat menekan tombol menuju lantai paling atas yaitu rooftop berkali-kali secara tergesa-gesa. Entah kenapa feeling Rey kuat mengatakan bahwa Luna ada disana. Ada perasaan was – was dan tidak enak memenuhi seluruh ruang hatinya begitu mendengar suster. Angka di dalam lift terasa berubah sangat lama bagi Rey, ia gelisah sepanjang waktu selama di dalam sana
Ting
__ADS_1
Pintunya akhirnya terbuka, Rey sudah buru – buru keluar hingga memiringkan tubuhnya tanpa menunggu pintu terbuka sempurna. Ia berlari dengan kepala kesana kemari mencari keberadaan Luna, matanya membulat sempurna begitu melihat apa yang ia lihat