
"Aku sayang kamu"
Dan itu menjadi kalimat terakhir Arief sebelum pergi. Sekakigus kalimat terakhir yang ia ucapkan sampai akhirnya mereka benar - benar berpisah dengan Nia, istri yang mendampingi nya selama kurang lebih selama 18 tahun.
Nia terduduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya begitu Arief menutup pintu kamar mereka dari luar.
Arief tidak benar-benar langsung keluar dari rumah. Ada satu lagi orang yang harus ia temui sebelum pergi. Ia masuk ke salah satu ruangan di rumah itu terlebih dahulu. Kemana lagi jika bukan ke kamar Juan
Tok Tok Tok! Bunyi ketukan pintu yang lemah dan pelan, tapi cukup bisa di dengar karena suasana rumah sekaligus dini hari itu yang memang sangat sunyi. Nyaris tak ada suara apapun.
Ceklek
Juan seketika menoleh ke pintu kamarnya yang dibuka dari luar. Juan mengira itu Nia, Mama nya. Tapi ternyata bukan.
"Pa.. " Serunya pelan begitu menyadari Arief lah yang masuk ke kamarnya.
Arief tampak maju perlahan mendekat sambil tersenyum getir. Ia duduk di ujung kasur putranya. Melihat itu, Juan ikut duduk juga dengan sedikit jarak.
Meski baru berusia 15 tahun, tapi Juan sudah tumbuh setinggi Papanya, mereka duduk dengan arah yang sama serta gaya yang sama gagahnya.
"Kamu udah besar ya Juan.. Rasanya waktu berjalan begitu cepat" Kata Arief yang seolah baru tersadar bahwa putra nya itu sudah mendekati dewasa.
Juan hanya bisa diam. Tidak tau ingin menjawab apa.
"Apa Papa kurang memperhatikan kamu selama ini? Apa Papa terlalu sibuk dengan urusan-urusan Papa? " Tanya Arief. Entah pertanyaan itu ia tujukan pada Juan. Atau malah ditujukan untuk dirinya sendiri.
Juan memang menyahut, namun beralih topik diluar pembahasan Arief.
"Sebenarnya ada apa Pa? Ada masalah apa antara Papa dan Mama?" Juan malah menanyakan hal tersebut. Arief tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke bawah.
"Papa gak tau harus bilang apa, harus jelaskan bagaimana atau mulai dari mana. Papa takut. Tapi mungkin akan lebih baik jika Mama kamu sendiri yang menceritakan nya. Yang jelas semua ini murni kesalahan Papa. Papa sudah menyakiti Mama kamu, dan mungkin menyakiti kamu juga. Satu hal yang harus kamu tau. Papa sangat menyayangi kamu dan juga Mama kamu sampai kapan pun" Arief menjelaskan. Kemudian mata Arief malah tertuju sebuah koper yang tadi sudah selesai di siapkan oleh Nia, berdiri tak jauh dari Juan duduk. Arief kemudian pun bangkit, mengambil koper itu, membukanya dan seperti tadi, ia benahi pakaian-pakaian Juan kembali masuk ke dalam lemari. Juan yang heran, memerhatikan gerak - gerik Papa nya itu, ia mulai mendekat
"Pa" Juan menahan tangan sang Papa. Arief pun menoleh pada putra nya itu.
__ADS_1
"Papa yang akan pulang ke Bandung. Kamu tetaplah disini. Jaga Mama kamu" Begitulah kira - kira Arief berpesan.
"Ini maksudnya apa sihh Pa. Kenapa gak ada satupun dari Mama atau Papa yang mau jelasin ke Juan. Kenapaa?? Ada apa??? Memang nya apa yang udah Papa lakuin sampe semuanya jadi gini? Tadi pagi aku liat Papa sama Mama masih baik - baik aja. Pa tolong Pa, jelasin ada apa. Tolong" Juan mulai memohon dengan frustasi.
Arief mengusap kasar wajahnya. Ia tidak menjawab, Arief hanya kembali melanjutkan merapikan pakaian Juan kembali ke dalam lemarinya. Juan mulai lelah, ia memilih duduk kembali di ujung kasur dengan hati dan pikiran yang kacau.
Setelah selesai Arief mematung sebentar di tempat nya dalam keadaan berdiri. Mereka saling membisu di kamar sunyi Juan.
"Juan.. " Panggil Arief yang membuat Juan pun mendongak menoleh pada Papa nya itu.
"Kalau suatu saat kamu sudah tau masalah apa yang terjadi antara Papa dan juga Mama. Papa hanya memohon satu hal dari kamu" Arief berhenti, seolah meminta jawaban sang anak terlebih dahulu. Juan seolah mengerti, ia kemudian menyahut.
"Apa Pa?" Sahutnya singkat.
"Tolong jangan benci Papa" Ucap Arief dengan suara bergetar, matanya pun tampak berkaca - kaca.
Juan hanya balas memandang sang Ayah dengan dengan mata yang ikut berkaca - kaca juga, tapi lidah nya kelu untuk bicara. Ia tidak ingin berspekulasi sendiri, tapi ia takut apa yang ia pikirkan benar terhadap Ayahnya.
"Apa sefatal itu kesalahan Papa sampai Papa dan Mama berjauhan seperti ini, sampai Papa harus pergi? Apa gak ada jalan lain? Jujur Juan gak mau" Lanjut Juan dengan suara terakhir yang semakin pelan dan kepalanya tertunduk lesu.
"Maafkan Papa nak. Maafkan Papa" Arief menangis, seolah kehabisan kata, ungkapan Maaf lah yang rasa nya hanya bisa diucapkan dari bibir Arief saat itu.
"Kalau Papa memang sayang dengan Juan dan Mama. Jangan menyerah begini Pa. Tolong berjuang lagi untuk mendapat maaf dari Mama, Juan pun akan maafin Papa meskipun Juan gak tau masalahnya apa. Tapi tolong jangan begini. Juan gak mau Mama dan Papa pisah" Juan semakin memohon. Disana Arief masih terlihat menangis.
"Maafin Papa" Arief masih saja hanya mengatakan hal yang sama, membuat Juan frustasi mendengar nya.
Selanjutnya, Arief pun sudah berjalan menuju pintu.
"Jaga diri kamu dan juga Mama ya. Papa pamit, Assalamu'alaikum" Itu kalimat terakhir Arief sebelum keluar dari kamar Juan.
Juan kembali tertunduk, disana ternyata ia sudah menangis tapi masih dengan tanda tanya di benaknya. Kejadian malam ini sungguh tidak terduga dan begitu tiba - tiba. Juan pun tidak mendapat jawaban atau penjelasan apapun. Baik dari Mama maupun Papanya. Keduanya hanya sibuk bertukar peran untuk pergi dari rumah ini.
Wa'alaikumsalam...
__ADS_1
Mungkin sekitar 10 menit kemudian lah Juan baru menjawab salam Arief, sesaat sebelum Papa nya itu meninggalkan kamarnya.
Tidak! Bukan hanya kamarnya. Maksud Juan adalah, sesaat sebelum Papa nya meninggalkan rumah ini.
.
.
.
Waduh, berat banget nih kayak nya masalah antara Mama Nia dan Papa Arief
Sebesar itu kah kesalahan Papa Arief?
Dan sebesar itu juga kah kekecewaan Mama Nia?
Hingga rasanya tiada lagi maaf apalagi kesempatan kedua. Hingga ikatan selama 18 tahun harus putus begitu saja
Nyesek dehh
Kasihann kan jadinya Juan sampe nangis gitu
Jadi pengen meluk -ehh 🙄
Pokok nya Juan yang kuatt yaa
Atas izin Allah, InsyaAllah author udah siapin masa depan yang cerah untuk Juan kok 🥺🥺
Tapi sebelum itu Juan harus gini dulu ya biar bisa jadi pribadi yang lebih kuatt
Karna setiap kejadian itu sudah pasti ada hikmahnya ☺
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺
__ADS_1