
Apa kamu bersedia saya bantu sekaligus kamu pun membantu saya menepati janji?
.
.
.
Rey pun menceritakan segalanya mulai dari awal sekali hingga akhir, termasuk pengalaman dan ceritanya selama belajar di Luar Negeri, Luna tampak serius dan mendengarkan setiap cerita Rey dengan baik
“Jadi gitu” Kata Rey mengkahiri ceritanya
“Wahh gak nyangka ternyata kitab isa ketemu lagi, sumpah aku bener – bener gak sadar karena dokter udah berubah banget sekarang, udah jadi dokter hebat juga” Ucap Luna dengan semangat setelah mengetahui siapa dokter di depannya ini
“Karena kamu sudah ingat dengan saya, sekarang saya kembalikan ini ke kamu” kata Rey sambil menyerahkan sehelai kain berhiaskan sulaman setengah daun yang tampak begitu nyata namun belum selesai
“Ini?” Kata Luna terhanyut menatap kain putih tersebut
“Masih ingat ini?” Tanya Rey
“Dokter masih simpan ini?” Rey tersenyum
“Ini adalah sulaman terakhir Ibu, dan ini Ibu buat bersama kamu kan saat beliau mengajari kamu menyulam dulu” Ucap Rey sambil menatap dalam kain putih tersbeut
“Lalu kenapa di kasi ke saya?”
“Karena ini sebenarnya punya kamu kan” Kata Rey
“Tapi ngeliat dokter kayanya ngejaga ini banget, berarti ini adalah kenangan yang berarti untuk Dokter Rey, biar Dokter aja yang simpen” Tolak Luna secara halus
“Kamu ambil aja, bagaimana pun ini memang punya kamu, mungkin kamu bersedia untuk menyelesaikan sulaman Ibu ini” Pinta Rey lagi
__ADS_1
Luna tampak berpikir sejenak menatap kain putih yang diserahkan Rey, ia pun perlahan menggerakkan tangannya untuk menerima kain putih tersebut
“Terima kasih, pasti akan saya selesaikan. Meskipun kayanya gak akan sebagus yang udah di bikin Bu Jihan” Ungkap Luna sambil tersenyum
“Kamu pasti bisa kok, tangan kamu juga pasti bisa seterampil Ibu, tapi ngomonng- ngomong kamu masih ingat nama Ibu saya”
“Ingatlah, saya gak akan lupa sama Ibu Jihan” Ucap Luna, mereka untuk sebentar hanya saling melempar senyum
“Sebenarnya ada satu lagi sih barang kamu yang saya simpan”
“Oh iya? Kok banyak banget sih, apalagi emangnya?” Tanya Luna penasaran. Tapi bukannya menjawab, Rey malah balik bertanya
“Kamu masih suka nulis?” Luna menoleh kaget pada Rey
“Darimana dokter tau saya suka nulis?” Rey malah semakin tersenyum dan kekeh bertanya
“Masih suka gak?”
“Kuliah jurusan sastra?” Rey bertanya lagi dan dijawab anggukan oleh Luna
“Udah semester berapa?” Tanyanya lagi
“Udah akhir kok ini, alhamdulillah udah tinggal sidang aja” Jawab Luna
“Wahh hebat, semoga lancar ya”
“Aamiinnn”
Situasi Kembali hening, Luna yang merasa canggung disana tak menyadrai gelagat gelisah kecil Rey yang tampak sedang ingin mencoba mengatakan sesuatu namun ragu – ragu
“Kamu-“ Luna menoleh mendengar Rey mulai bersuara
__ADS_1
“Kamu gak mau cerita? Saya bukan bermaksud ikut campur, tapi saya murni hanya ingin membantu, lagipula saat itu saya juga udah janji ingin bantu kamu” Tutur Rey serius, Luna tampak hanya terdiam
“Apa kamu bersedia saya bantu sekaligus kamu pun membantu saya menepati janji?” Tanya Rey berusaha meyaknkan Luna
“Saya gak tau apa dengan menceritakan ini adalah sebuah langkah yang benar atau salah, saya sendiri pun bingung harus memulai dari mana?”
Kemudian adzan mulai terdengar berkumandang sebagai pengawal malam hari ini. Rey dan Luna pun mendongkak mendengar lantunan adzan tersebut hingga baru tersadar bahwa hari sudah mulai gelap
“Kapan pun kamu perlu bantuan, kapan pun kamu ingin cerita saya akan selalu ada untuk dengar dan bantu sebisa saya. Sekarang kamu silahkan Kembali ke kamar, saya juga mau salat maghrib dulu” Ucap Rey kemudian berdiri dan disusul oleh Luna, namun tiba – tiba kehilangan keseimbangannya dan nyaris terjatuh jika saja Rey tidak dengan sigap menangkap tubuh Luna, pandangan mereka sesaat bertemu (Pasti pembaca langsung kebayang adegan sinetron – sineton itu kan wkwkwk)
“Ehmm” seseorang terdengar berdehem hingga mengagetkan Rey yang seketika melepaskan tangannya dari pinggang Luna hingga membuat Luna pada akhirnya terhempas juga ke tanah.
Rey gelagapan dan semakin terkejut melihat Luna yang berakhir terduduk di tanah, buru – buru ia membantu Luna berdiri Kembali seraya memohon maaf, karena sedang salah tingkah membuat mereka Kembali kehilangan keseimbangan bersama hingga kali ini keduanya yang berakhir jatuh berdampingan di tanah, dan Vani Dira lah yang menjadi penyebab utama dalam kecanggungan serta kegaduhan yang sekarang terjadi pada Rey Luna.
“Saya permisi dok” Kata Luna dengan cepat dan langsung diangguki oleh Rey. Luna berjalan cepat dan menarik Vani serta Dira Kembali ke kamar rawat inap nya
Begitu sampai, Dira langsung bertanya
“Loe ngapain tadi sama Dokter Rey?” Katanya penasaran
“Gak ngapa – ngapain, tadi tuh gue sumpek di kamar mulu, jadi ke taman deh. Ehh dokter Rey tiba – tiba datang terus denger adzan. Jadi kita mau salat tapi gue malah jatoh dan dia Cuma bantu nangkep aja ehh loe berdua dateng, dianya kaget terus jatuhin gue beneran. Terus loe berdua ngeliatinnya gitu banget gue jadi panik juga, ehh jatoh lagi. Gitu… dan elo Van gak usah cemburu juga, gue setia ya sama Juan” Jelas Luna menatap Dira kemudian Vani
“Ahh ngak kok santai aja. Gak dapet dokter Rey pun, cadangan gue masih banyak” Vani menjawab dengan seringai miring dan percaya diri
“Pasti yang loe maskud itu dosen muda baru tad ikan?” Tanya Dira datar
“Hah? Ada yang baru lagi Van?” Tanya Luna kaget, dan Vani tampak mengangguk sambil tersneyum malu
“Wah gila sih loe Van” Tambah Luna
“Bukan gila lagi, buaya betina sih ni emang ni cewek” Timpal Dira.
__ADS_1