Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 58


__ADS_3

Kak... Yana mau menikah dengan Dokter Rey


Kalimat itu terus berkitar di kepala Luna. Bagaimana bisa dalam waktu singkat Yana berubah pikiran sedrastis ini. belum sehari ia baru saja kehilangan Yudha, tapi sekarang sudah bersedia menikah dengan orang lain. Masih jelas di kepalanya kejadian sore tadi saat ia kembali dari ruangan Edi menuju ruang inap Yana. Ketika ia masuk, Yana ternyata sudah bangun, kemudian Vani dan Dira pamit pulang menyisakan Luna dan Yana disana. Luna belum memulai percakapan apapun, ia hanya sibuk mengupas apel untuk Yana sampai kalimat itu menghentikan kegiatannya dan membuat jantungnya berpacu lebih cepat.


"Kak... Yana mau menikah dengan Dokter Rey" Ungkap Yana dengan senyum lemah. Luna menoleh. Jelas di wajahnya ada keterkejutan dan kebingungan yang luar biasa.


"Ka-kamu bilang apa?" Luna bahkan sampai bicara dengan terbata-bata. Yana menghela nafas sebentar. Masih terukir senyum tadi di wajahnya yang pasi.


"Kak Luna sendiri yang bilang kalau dia pria yang baik dan bisa dipercaya. Kalau kak Luna udah percaya, Yana juga percaya. Yana gak mau anak ini menanggung dosa yang udah Yana buat. Mungkin kehadiran Dokter Rey untuk kami adalah yang terbaik" Jelasnya sambil meraba perut ratanya. Luna berusaha mencerna dan mencari keyakinan di mata Yana. Ia kehilangan kata-katanya. Antara harus sedih atau senang. Ia benar-benar tidak tau. Bahkan sekarang pun Luna merasakan keganjalan dari yang diutarakan oleh Yana.


- - -


Luna kini tengah memandangi adiknya yang tertidur kembali di ranjang rumah sakit. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 tapi tidak ada tanda-tanda kantuk di mata Luna. Ia masih menatap lekat Yana dengan penuh tanda tanya. Ia angkat sebelah tangannya untuk memijit pelipisnya. Berusaha mengusir kepusingan dalam kepalanya. Hingga ia sandarkan kepalanya sambil menggenggam tangan Yana dan menghadap ke arah adiknya itu. Entah berapa lama Luna dalam posisi itu sampai ia akhirnya ikut terlelap. Yana perlahan membuka matanya begitu mendengar deru nafas Luna sudah teratur, yang kini sedang terlelap dengan pipi yang menempel di punggung tangannya. Yana menghela nafasnya berat menahan sesak di dadanya. Tangan satunya terangkat dan bertumpu di atas keningnya seraya matanya terpejam mengingat kejadian tadi sore sebelum Luna kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Flashback On


Vani dan Dira sedang mengobrol ringan sambil untuk sedikit menghibur Yana yang baru saja terbangun. Sampai seseorang masuk kesana tanpa permisi. Tampak Edi disana. Matanya terlihat sedikit sembab. Itu karena ia baru saja menangis di lantai atas rumah sakit mengenang perlakuannya terhadap Luna. Tapi bukan itu masalahnya saat ini. Apa tujuan Ayah datang kesini? Menjenguk? Tidak. Pasti lebih dari itu. Dan Yana tau bahwa tujuannya tidaklah jauh dari pernikahan yang sudah Ayahnya rencanakan.


"Saya ingin bicara dengan anak saya" Sindir Edi jemawa tanpa menoleh sedikitpun ke arah Vani dan Dira yang juga ada di ruangan itu. Tentu mereka mengerti. Vani dan Dira langsung berinisiatif keluar. Tak lupa mereka juga pamit dan membungkukkan tubuh mereka begitu melewati Edi. Setelah pintu tertutup rapat. Edi maju mendekat dan tangannya langsung terangkat menyelipkan anak-anak rambut Yana ke balik telinganya. Yana memalingkan kepalanya risih.


"Ayah cuma mau bilang ka-"


"Yana gak mau" Potongnya cepat dengan dingin dan masih memalingkan wajahnya ke lain sisi.


"Menikah dengan Rey semuanya akan dapat terlindungi dengan baik. Nama baik keluarga, kamu, anak kamu, bahkan wanita yang kamu sebut kakak itu" Mengerutkan dahinya. Yana bingung. Apa maksudnya kak Luna? Tapi ia tidak mengerti. Ada apa dengan kak Luna? Ia pun menoleh masih dengan keheranan menatap Edi. Tanpa perlu dikatakan. Edi mengerti putrinya itu tidak mengerti dan menunggu sebuah penjelasan. Ia pun melanjutkan kalimatnya.


"Tadi dia memergoki Ayah yang sedang memohon agar Rey mau menikahi kamu. Rey sudah setuju, tapi dengan syarat Ayah harus kembali menyayangi kakak kamu itu seperti dulu" Yana tersentak dan masih terdiam di tempatnya.

__ADS_1


"Kamu mau tau apa yang dia bilang?" Yana masih menatap intens Edi tapi tetap tanpa merespon. Hanya matanya yang menunjukkan ia ingin tau apa selanjutnya.


"Dia menolak. Karena tetap ingin memperjuangkan keputusan kamu, sudah sejauh itu, apa kamu tega dan tidak ingin berkorban juga untuk dia?" Yana mencelos. Tertunduk dan air matanya jatuh begjtu saja. Sudah tentu ia tau, Luna pastilah lebih memilih Yana dibanding dirinya sendiri. Yana tak ingin egois. Ia juga ingin berkorban walau sekali untuk kakaknya, bisa kembali dicintai oleh Ayah bukan hanya impian Luna seorang, tapi juga Yana dan Lia, bahkan Edi. Hanya saja ego yang membuatnya mendustakan hatinya sendiri. Yana mencoba menguatkan dan meyakinkan dirinya untuk mengiyakan pernikahan ini. Toh, laki-laki itu juga sudah dipercaya Ayah bahkan Luna. Mungkin ini memanglah yang terbaik. Pikirnya.


Setelah cukup tenang, ia seka air mata itu. Mendongak dengan pasti pada Edi dan berkata


"Baik" Katanya lirih dan bergetar. Hatinya sakit mengatakan itu. Ia merasa sedang mengkhianati cinta dan hatinya sendiri. Edi tersenyum puas. Ia usap sebentar kepala Yana.


"Setelah kamu sehat dan keluar dari rumah sakit. Akan langsung Ayah nikahkan kamu dengan Rey" Setelah mengatakan itu. Ia menjauhkan tangannya dari kepala Yana kemudian berjalan menuju pintu. Begitu keluar ia lihat dua gadis yang ia ketahui adalah sahabat Luna itu masih berdiri tidak jauh disana. Dengan tampang dingin Edi mendekat ke arah mereka. Baik Vani dan Dira merasa gugup.


"Tutup mata, telinga, dan mulut kalian. Jangan bilang Luna saya baru kesini. Jangan ikut campur tentang apapun. Mengerti" Perintahnya dengan hawa yang menyeramkan. Dengan spontan Vani mengangguk lambat bersama mulutnya yang menganga. Dira menoleh kesal menyadari pergerakan anggukan Vani.


Setelahnya Edi pun pergi dari sana.

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2