
Yana seolah tak sanggup melanjutkan perkataannya
"Ayo jawab sama siapa" Desak Luna karena Yana tak juga menjawab
"Kakak tau dokter Rey?" Semakin shock, ketiga sahabat di depan Yana itu melebarkan mata dan mulutnya begitu kaget mendengar ucapan Yana
"A.. Ayah mau jodohin kamu sama dokter Rey?" Tanya Luna tak percaya sedangkan Yana mengangguk pelan, Luna Vani dan Dira saling menoleh heran dengan berita yang sangat mengagetkan mereka siang ini
Sementara Itu
"Apa!??" Rey diam sejenak masih dengan menatap kaget dan panik pada Edi di ruangannya
"Om bercanda kan?" Sambungnya kemudian
"Apa menurut kamu saya tipe orang yang suka bercanda?" Rey lemas, dia tidak percaya dengan permintaan yang baru saja dikatakan oleh Edi, seseorang yang baginya sangat berjasa di hidupnya karena pernah menolong sang Ibu meski akhirnya Ibunya pun meninggal
"Saya ikhlas menolong kamu saat itu, saya gak pernah berniat atau bermaksud untuk mengungkit kejadian itu agar kamu mau menolong saya saat ini..." Edi diam sebentar, begitupun dengan Rey yang masih shock
"Tapi bagaimanapun kamu pernah mengatakan akan siap membantu saya sebisa kamu, dan bagi saya kamu adalah laki-laki yang paling bisa saya percaya"
. . .
__ADS_1
"Menikahlah dengan Yana, jadilah Ayah untuk bayinya, demi saya" Tambahnya lagi dengan memelas
Rey berkali-kali mengusap kasar wajahnya, ini adalah pilihan yang amat berat, pernikahan yang menjadi ibadah terlama akan dia laksanakan bersama gadis yang sama sekali tidak dia cintai, namun disisi lain hutang budi masa lalu membuat Rey sulit bahkan nyaris tidak bisa untuk menolak permintaan Edi.
"Boleh saya minta waktu Om, sampai saya benar-benar yakin dan siap, saya juga akan salat istikharah (salat sunnah yang dikerjakan untuk meminta petunjuk Allah oleh mereka yang berada di antara beberapa pilihan dan merasa ragu-ragu untuk memilih atau saat akan memutuskan sesuatu hal) terlebih dahulu" Kata Rey setelah beberapa menit larut dalam kebisuan bersama Edi
"Baik, saya tunggu kabar baik dari kamu, saya harap tidak terlalu lama, Terima Kasih Rey" Ucap Edi seraya menepuk pelan bahu Rey dan keluar dari ruangan tersebut.
Setelah pintu tertutup dari luar, Rey menjatuhkan dirinya frustrasi duduk di kursinya, ia benar-benar berharap semua hanyalah mimpi. Bukan saja hutang budi kepada Edi dan Yana sebagai wanita yang tidak Rey cintai yang menjadi masalahnya, namun ada hal yang lebih rumit yaitu masalah hatinya yang sudah menjatuhkan emosi bernama cinta itu kepada gadis lain...
Seorang gadis yang juga masih berhubungan erat dengan nama Edi dan Yana, dia adalah Luna, wanita yang sudah ia cintai dari dulu, sejak pertama kali melihat Luna yang masihlah seorang remaja kecil polos dengan tulusnya memohon pada sang Ayah untuk membanti pria lemah seperti dirinya bersama sang Ibu yang tergeletak tak berdaya di tengah derasnya hujan...
Atau wanita yang memilki diksi indah di setiap puisi yang pernah ia baca dalam beberapa karya Luna...
Intinya Luna adalah wanita yang dengan tulus ia sayangi saat ini.
Kembali pada saat setahun lalu ia baru datang ke Indonesia, ia berniat untuk meniti karirnya lagi di Indonesia setelah sukses beberapa waktu di luar negeri, ia kembali untuk jujur pada Edi dan Luna namun sebelum itu ia mencoba mendekatkan dirinya pada Edi guna menunjukkan ia adalah laki-laki pekerja keras yang kemudian bisa diterima sebagai suami oleh Edi dan putrinya, semua itu tampak berjalan baik, Edi memang menaruh kepercayaan tinggi pada sosok Rey, namun semua itu malah berlabuh pada putri Edi yang lain. Ditambah lagi keraguan Rey yang besar setelah mengetahui Luna memiliki kekasih membuatnya mencoba mundur dengan perlahan demi kebahagiaan gadis itu.
Sungguh cinta yang sangat tulus...
Apa mungkin ini adalah pertanda bahwa Luna memang bukan jodohku...
__ADS_1
Jika benar Ya Allah, hilangkan perasaan ini sejauh-jauhnya dari hamba...
Rey memohon dalam hatinya
- - -
"Memangnya kenapa dengan ayah bayi itu? Ayah tau gak siapa dia sebenarnya? dan kenapa harus dokter Rey?"Luna bertanya secara bertubi-tubi karena tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ayahnya. Bagaimana tidak, putrinya hamil dengan orang lain tapi malah akan dinikahkan dengan orang lain lagi
"Ayah gak mau tau, tapi Ayah bilang Ayah udah bisa mastiin kalau orang itu gak bakal bisa bertanggung jawab , dan Ayah bilang dokter Rey adalah satu-satunya laki-laki yang paling Ayah percaya" Jelas Yana dengan berderai air mata
"Iya juga sih... emang dokter Rey itu bisa dipercaya, tapi apa kamu dan dokter Rey juga mau menikah? Kalian kan gak saling kenal" Ucap Luna
"Ya enggak kak, makanya Yana bingung... Yana gak mau nikah sama orang lain, Yana tau Yana salah tapi Yana bener-bener gak mau nikah sama dokter Rey" Jelas Yana dengan isak tangis yang semakin keras
"Udah udah, kamu tenangin diri kamu dulu, kita cari solusinya sama-sama ya" Kata Luna sambil mengusap pelan kepala sang adik
"Kakak pulang kerumah ya, aku gak kuat kalau sendirian kak, seenggaknya kalo ada kakak dirumah aku merasa ada teman" Mendengar itu Luna perlahan mundur dan menoleh pada Vani dan Dira yang juga ikut menolehnya
"Iya, kakak pulang" Vani dan Dira seketika melotot tidak percaya dengan keputusan Luna, berani pergi dari rumah seperti malam itu, Vani dan Dira sangatlah bersyukur akan hal itu. Namun hanya sebentar mereka merasakan itu dan sekarang Luna malah akan kembali ke rumah yang sudah membuat fisik dan batin sahabat mereka tersiksa begitu dalam. Tapi situasi dan kondisi saat ini membuat mereka tidak bisa berkata atau berbuat apapun apalagi melarang Luna melihat Yana juga sedang terpuruk saat ini.
"Tapi Yan... Kakak tetap kecewa sama semua ini, dan bagaimana pun kakak juga tetap ingin ketemu dengan Ayah bayi kamu" Yana seketika mendongak menoleh takut ada sang kakak yang raut wajah kini sangatlah tegas dan kecewa tidak seperti biasanya membuat perasaan bersalah dalam hati Yana semakin menikam.
__ADS_1