Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 17


__ADS_3

“Hahh eemm i-ini. Gak papa kok, mungkin cuma karna kurang tidur aja semalem” Jawab Luna sedikit gagap.


"Segitunya loe baca buku itu sampe gak tidur?" Tanya Juan yang tak habis pikir


Tadi Vani nyerang gak jelas. Sekarang nih cowok tiba - tiba kayak peduli gini. Ada apa nihh Ya Allah. Apa karna kurang tidur gue berhalusinasi ya


Luna bergumam sendiri dalam hatinya.


Klek!


Juan memetikkan jarinya tepat di depan wajah Luna sambil berkata


"Heii, ditanya malah bengong, gini nih akibatnya kalo gak biasa begadang malah tiba-tiba begadang. Yaudah mumpung gak belajar loe tidur aja sana di kelas" Ucap Juan lalu tanpa permisi melangkah pergi.


Baru dua langkah ehh dia balik lagi. Kepala Luna hanya bergerak mengikuti gerak Juan.


"Satu lagi. Gak usah buru - buru bacanya. Loe bisa baca selama yang loe mau, gue gak akan minta loe balikin buku itu cepat - cepat. Jadi santai aja bacanya" Tambahnya lalu kali ini benar-benar pergi.


Luna tidak menjawab sepatah katapun, bahkan sekedar mengangguk pun tidak, ia terhanyut dengan keheranannnya pada sikap Juan yang saat ini tengah ia pandangi punggung nya yang menjauh.


"Tuhh bener. Sejak kapan juga seorang Luna sedekat itu sama makhluk astral kayak tuh cowok tadi hah. Sekarang loe bilang loe siapa, apa maksud dan tujuan loe ngerasukin Luna" Tutur Vani mencoba menginterogasi Luna. "Haaaa atau jangan - jangan ini jin yang cuma menyerupai fisiknya Luna" Tambah Vani yang kali ini melotot takut dan mundur.


Luna yang memang letih, lesu, dan masih mengantuk terlalu lelah untuk menanggapi nya. Dengan sisa tenaganya ia berjalan lunglai masuk ke kelas dan langsung duduk dengan kepalanya di atas meja dan tas sebagai bantalnya. Hebatnya hanya kurang dari 5 menit, Luna sudah pulas disana.


"Kenapa sih ni anak" Vani bergumam pelan sampai mungkin hanya ia sendiri yang dapat mendengar suaranya saking pelannya, sambil menarik rambut Luna ke belakang agar tidak menghalangi wajah terutama hidung Luna yang tengah tertidur.


Setelah hari itu, hari - hari selanjutnya Juan dan Luna memang semakin akrab, hampir setiap sore mereka membaca bersama di taman baru seperti kemarin. Mereka saling bertukar buku untuk dibaca, saling bertukar pikiran, saling membahas karya-karya yang telah mereka baca. Terus seperti itu, dan mereka masing-masing menikmatinya.


Seperti hari ini, Luna dan Juan lagi - lagi duduk di depan danau kecil di sebuah taman baru tempat Juan akhirnya mau meminjamkan buku "Hati" Muf In Rosas yang sangat Luna idamkan itu bersama kurang lebih 5 atau 6 buku yang menemani mereka disana.


"Pinjem buku yang itu dong mpus" Kata Juan di tengah kegiatan membaca mereka dengan menunjuk buku bersampul hitam di dekat Luna.


Luna pun langsung mengambil buku tersebut dan menyerahkannya pada Juan. Mulanya Juan menerima buku di tangan Luna itu dengan cuek, tapi ia sadar Luna belum mengalihkan matanya meski buku itu sudah ia Terima.


Mencoba menebak isi pikiran Luna, Juan pun masih dengan tampang heran berkata.


"Makasih" Ucapnya sambil mengangkat buku tadi dan menggoyang nya sedikit.

__ADS_1


Luna memiringkan kepalanya dan menghela nafas.


"Loe kenapa sih suka banget manggil gue empus?" Tanya Luna penasaran.


Jika diingat - ingat sejak awal mereka kenal. Juan memang nyaris belum pernah menyebut nama Luna. Lalu setelah mereka mulai berteman seperti sekarang Juan malah memanggilnya dengan panggilan "empus". Luna ingin mengeong geram rasanya setiap panggilan tersebut disematkan padanya.


Juan yang mendengar pertanyaan Luna juga ikut menghela nafas seolah mengisyaratkan " Ohh jadi itu yang dipikirkan Luna, kirain mau nagih makasih udah ngambilin buku" Dan bukannya menjawab, Juan malah lanjut membaca dengan santai.


"Ehh jawab dong" Luna sedikit mendesak Juan mendapati pria di depannya itu tidak mengiraukan pertanyaannya.


"Pertanyaannya gak penting" Jawab Juan santai.


Luna tercengang.


"Ya penting laa. Itu menyangkut nama baik gue, bagus - bagus nama gue Luna malah loe panggil kucing" Protes Luna.


"Gue manggil empus bukan kucing" Juan menjawab lagi masih dengan nada santainya. Matanya pun masih fokus pada buku di tangannya.


Luna menggeram. Kemudian ia rampas kembali buku hitam yang tadi ia serahkan.


"Jawab dulu, kalo nggak, nggak gue pinjemin bukunya" Ancam Luna.


Lucu juga. Pikirnya


"Waktu kita pertama kali kenal inget gak dimana?" Kali ini Juan yang bertanya.


"Hah? Apaan sih malah gak nyambung" Sahut Luna.


"Nyambung kok, makanya jawab aja dulu"


Luna pun tampak berpikir untuk mengingat - ngingat.


"Parkiran bukan? Pas loe jatuh ketiban tangga nolongin anak kucing?" Tanya Luna memastikan apa ingatannya benar atau tidak.


Juan mengangguk seolah memuji ingatan Luna.


"Jadi apa hubungannya? Malah manut - manut gak jelas (sambil mengangguk - ngangguk cepat meniru Juan)" Luna protes lagi dan mulai tak sabaran.

__ADS_1


"Ya itu alasannya. Awal pertemuan kita bisa dibilang loe ikut andil nolongin kucing yang mau gue tolongin juga. Dan gue kan belum tau nama loe waktu itu, terus tiap liat loe yang terlintas dipikiran gue kucing, makanya loe gue panggil empus" Jelas Juan.


Luna akhirnya mengetahui alasannya dan rasa penasarannya telah terbayar, tapi mirisnya Luna berpikir bahwa "Jadi harga diri gue cuma sebatas kucing di mata loe" Ucap Luna dengan senyum haru terpaksa.


Mendengar itu Juan hanya tersenyum miring sedikittt sekali, hampir hanya bisa dilihat pakai mata batin saking tipisnya.


"Udah sini bukunya, pinjem, makasih" Kata Juan dan kembali merampas buku hitam tadi.


Juan pun akhirnya membaca buku lagi dengan santai.


Di sampingnya, Luna hanya bisa terdiam dengan mata sinis menyipir ke arah Juan. Dan tentu saja, yang Luna lakukan itu tidak di dihiraukan sama sekali oleh Juan


Yaa begitulah Juan dengan segala kecuekannya.


.


.


.


Ohh jadi kayak gituu tohh ceritanya kenapa Luna bisa di panggil empus


Hihi miris - miris maniss sih tapi Lun.


Miris karna muka kamu diingat sebagai kucing, tapi manisnya ya kamu punya panggilan tersendiri dari Juan hihi dan artinya juga awal pertemuan kalian itu punya kesan tersendiri buat Juan


Aduhaii


Oo iyaa besok kita bakal ketemu Reyhan, siapa nihh yang kangen ama pesona dokter baik hati kayak Rey?


Hehe author juga kangen nih nulis tentang dia tapi sayangnya Rey sekaligus pisah dulu jugaa


Waduhh kenapa yaa, Emang Reyhan mau kemana tuhh 😱😱😱


Tenang, dia bakal balik lagi kok nanti


Yang penasaran jangan lupa klik favorit ya biar dapet notifikasi kalo aku update lagi hehe**

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺


__ADS_2