
"Ya Allah sudah kutemukan jawaban yang selalu ku tanyakan selama 7 tahun lamanya ini. Pada akhirnya jawaban ini pun sama menyakitkan nya. Bahkan jauh lebih menghancurkan.... "
Bagaimana tidak, bertahun-tahun Luna tersakiti oleh hujaman kebencian dari laki - laki kesayangan nya yaitu seseorang yang ia sebut Ayah tanpa tau sebab dan alasannya. Setelah semua kebenaran terkuak ternyata kenyataan bahwa dirinya bukanlah darah daging Edi jauh lebih menyakiti Luna.. Dan Juan... Bagaimana bisa ia terikat dalam hubungan cinta terlarang dengan saudara seibu nya. Lagi - lagi Luna rasanya ingin menyerah, berharap semua hanya mimpi. Rasanya ini terlalu mustahil untuk dipercaya.
Setelah selesai dengan keluh kesahnya, Luna melihat sekeliling dan meng absen setiap sudut ruang masjid yang hening kosong tersebut, kemudian tertunduk
Ingin pulang kemana dia?
Sepertinya ia merasa sudah tidak ada tempat untuk kembali. Seketika muncul wajah Yana dalam bayangannya. Adik kesayangan nya itu, pasti sedang mengkhawatirkan dirinya. Setelahnya secepat mungkin Luna membuka kemudian melipat mukenah yang ia kenakan, dan menyusunnya rapi kembali di dalam lemari penyimpanan berbahan kaca transparan di masjid itu juga.
Luna lantas berniat kembali ke apartemen Yana dan Rey.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian Luna akhirnya sampai di depan pintu apartemen tersebut, tapi berat rasanya untuk masuk meski dirinya sendiri tau password pintu ini karena telah diberi tau oleh Rey dan Yana sebelumnya.
* * *
Mobil Rey masih menyusuri jalanan raya yang masih padat kendaraan meski malam semakin larut, mulai menjauh dari pusat kota, Yana menyadari sesuatu dari balik jendela nya
"Mas? ini kok kayak jalan pulang?" Tanya Yana yang merasa tak asing dengan rute jalan yang di ambil Rey
"Yana kan udah bil-"
"Yana. Jangan lupa, ada kehidupan lain yang harus kamu jaga juga di dalam perut kamu itu, gak boleh egois" Sela Rey.
__ADS_1
Kalimat itu lantas berhasil membisukan Yana dengan pasrah. Mereka pun melanjutkan perjalanan dalam diam
SAMPAI.
Begitu mobil terparkir rapi, Rey langsung membuka sabuk pengaman, pintu mobil. Yana juga melakukan hal yang sama namun dengan gerakan lambat, Rey sendiri kemudian dengan sigap keluar memutar tubuh depan mobil menuju pintu Yana dan membukakan pintu untuk sang istri.
"Bisa?" Tanya Rey sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Yana. Wanita di depannya itu hanya mengangguk pelan seraya keluar tanpa menyambut tangan Rey, ada perasaan sedikit kesal di hati nya karena memulangkan nya seperti ini tapi tak ingin Yana ungkapkan. Yana kemudian memimpin jalan menuju unit apartemen mereka. Rey disana langsung menutup pintu mobil Yana dan mengunci mobil nya kemudian langsung menyusul Yana dari belakang
Yana yang berjalan dengan kecepatan sedang mulai menangkap ada seseorang di matanya sedang duduk dengan memeluk kedua lututnya di depan pintu apartemen Rey. Karena itu Yana tampak mulai mempercepat langkah kakinya sampai perlahan jadi berlari untuk memastikan lebih cepat siapa orang itu. Sedangkan Rey yang berjalan di belakang Yana tidak terlalu memperhatikan pun jadi bingung dengan Yana yang tiba tiba berlari
"Kak Luna!" Seru Yana masih di tengah lari nya.
__ADS_1
Merasa namanya di panggil, kepala Luna sontak bergerak menoleh ke arah sumber suara.