
Hening
Hening
Hening
Keheningan kini mengisi apartemen Vani malam ini setelah ketiganya menangis haru mendengar luapan hati Luna yang sudah ia pendam selama ini
“Sekarang tidur Lun, istirahat… Ini saatnya loe bangkit dari keterpurukan loe selama ini, gue bukannya larang loe untuk berhubungan sama keluarga loe lagi, tapi untuk sementara loe istirahatin pikiran loe dulu tentang itu, setelah loe lebih baik.. lebih tenang.. kita juga pasti akan bantu loe cari tau apa yang terjadi sebenarnya” Dira berbicara dengan lembut, Luna pun mengangguk setuju menuruti dan masuk ke kamar di sebelah kamar Vani, apartemen itu memang memiliki dua kamar yang berdampingan, sedangkan Dira tidur bersama Vani di kamar sebelahnya lagi, kamar yang memang dipakai Vani untuk beristirahat agar Luna lebih nyaman
Luna memang ada disini, namun hati dan pikirannya seperti masih tertinggal di rumah nya. Malam semakin larut, namun mata Luna belum juga mau tertutup, Luna pun akhirnya bangkit dari rebahannya menuju tas miliknya kemudian mengeluarkan sebuah buku dan bolpoin, ia berencana menulis apa saja sampai rasa kantuk akan menyerangnya nanti. Hingga pukul 02.00 dini hari raga dan pikiran Luna baru benar – benar terlelap
KEESOKAN HARINYA
Vani dan Dira yang di sebelah kamar Luna merasa heran karena sahabat mereka itu belum juga terlihat tanda – tanda akan keluar kamar, mulanya mereka mengira Luna Kembali tertidur setelah salat subuh karena kelelahan, oleh sebab itu mereka tidak tega untuk mengganggu Luna, namun jam sudah menunjukkan pukul 07.30, mereka sudah hafal dengan Luna. Gadis itu bukan lah tipe orang yang suka ber malas – malasan seperti ini meski dalam keadaan sakit sekalipun. Seketika perasaan cemas menyergap Vani dan Dira
“Duhh kita cek aja deh ya, kok gue rada khawatir ya sama Luna” Ungkap Vani mulai tak tenang
“Iya juga sih, tapi takutnya dia memang lagi capek, entar malah keganggu lagi istirahatnya” Mendengar jawaban Dira, Vani pun jadi bimbang dan ragu
“Gimana ya, tapi Luna tuh tumben tidur selama itu mau dia begadangnya jam berapa juga”
Baik Vani maupun Dira semakin dibuat cemas saat menatap jam dinding di ruang makan itu sudah menunjukkan pukul delapan pagi tepat, sedangkan satu jam lagi mereka sudah harus berangkat ke kampus
“Gak tenang gue mau berangkat ke kampus kalo belum mastiin Luna, udah ah gue mau cek aja dulu, lagian juga kita musti pamit dulu lah ke Luna kalo mau pergi dan ninggalin dia sendiri disini” Jelas Vani dan langsung bergegas meninggalkan Dira di meja makan
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
“Lunaa”
“Lun”
Tok tok tok
“Luna ini gue Vani”
Tok tok tok
“Lun”
Tok tok tok
Entah sudah kali ke berapa ketukan pintu itu di bunyikan Vani disertai seruan nama Luna namun yang di panggil tak juga menyahut, semakin cemas Vani pun akhirnya langsung membuka pintu kamar itu tanpa menunggu jawaban Luna lagi. Begitu terbuka, tampak Luna memang masih terlelap di ranjangnya dengan selimut yang membentang sampai perutnya. Vani mendekat dan menepuk pelan pipi Luna namun ada yang aneh saat kulit tangannya tersentuh, dirasanya hawa panas yang cukup kuat dari pipi dan hembusan nafas Luna, Vani pun semakin gencar membangunkan Luna hingga mengguncang – guncang tubuh Luna namun hasilnya nihil.
"Raa!!!"
__ADS_1
Dira yang sedang minum tersentak ikut khawatir mendengar teriakan Vani kemudian bergegas menyusul
"Dira, Luna gak sadar ini gimana"
Ucap Vani panik begitu Dira sampai di depan pintu. Vani dan Dira kebingungan saat ini, memang rasa panik membuat pikiran itu seketika sulit berjalan dalam kesesuaian
"Gimana ini, mobil lagi di bengkel... gimana dongg, Juan lagi gak ada" Panik Vani sambil mengotak-atik kontak di ponselnya, sedangkan Dira berusaha menyadarkan Luna dengan menciumkan aroma minyak kayu putih
"Dokter Rey coba" Kata Dira begitu teringat dengan sosok lelaki yang beberapa kali menjadi penyelamat Luna, mendengar itu Vani langsung menggangguk
"Tapi gue gak punya nomornya, Hp Luna coba di cek" Dira pun dengan cepat menyerahkan ponsel Luna yang berada di nakas samping ranjang, sesegera mungkin Vani mencari kontak Rey di ponsel Luna dan langsung menelponnya. Cukup lama panggilan itu tersambung hingga akhirnya dijawab juga
"Assalamu'alaikum dok" Salam Vani begitu panggilan nya dijawab
"Wa'alaikumsalam, siapa ini.. kok.." Perkataan Rey terhenti begitu mendengar sahutan Vani yang membuat ia membulatkan mata sempurna dan langsung mengambil kunci mobilnya
"Gimana?" Tanya Dira mengetahui panggilan Vani dan Rey sudah terputus
"Dia kesini, katanya sambil nunggu di kasi terus minyam kayu putih ke dahi perut dan telapak kakinya"
Rey melajukan mobilnya begitu cepat, entah kenapa rasa khawatir yang ia rasakan begitu besar terhadap Luna, hanya butuh beberapa belas menit ia sampai di apartemen tempat ia mengantar Luna semalam. Rey keluar dan berlari masuk sambil menelpon nomor Luna untuk menanyakan di unit berapa apartemen tempat mereka berada. Setelah tahu, Rey semakin mempercepat langkahnya
Tingg
Bunyi bel terdengar, Dira dan Vani sudah memastikan bahwa yang datang adalah dokter Rey, Vani pun segera membukakan pintu sedangkan Dira membenahi pakaian Luna yang ia singkap untuk dilumuri minyak kayu putih
"Silahkan dok, Luna disana" Vani pun menuntun Rey menuju kamar Luna, begitu sampai ia periksa kondisi Luna sebagaimana halnya ia sebagai seorang dokter
"Kita bawa ke rumah sakit, kalian ikut?" Baik Vani dan Dira pun sontak mengangguk cepat mengikuti langkah Rey
Rey memacu mobilnya dengan cepat namun tetap hati-hati, dan Luna dibaringkan di belakang dengan Dira yang memangku kepalanya. Rey langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan UGD dan dengan terburu-buru ia membopong Luna ke dalam, tak jauh dari sana Edi yang baru saja tiba terkejut melihat wanita yang berada dalam gendongan Rey, ia pun berlari menyusul
"Kenapa dia?" Tanya Edi dengan suara tinggi pada Rey
"Nanti saja saya jelaskan om" Kata Rey dengan tetap melangkahkan kakinya masuk dan menidurkan Luna di UGD
Sedang di luar Vani dan Dira menunggu dengan cemas dan berharap Luna akan baik-baik saja
"Loe ngampus aja gapapa Dir, biar gue yang nunggu disini" Tawar Vani
"Enggaklah, Luna sendiri gini gak mungkin gue tinggal, kalo loe juga mau ngampus gapapa Van, loe aja yang pergi, nanti kita gantian jagain Luna disini"
"Gak bisa gue, paling kesana juga pikiran gue tetep disini, sama aja" Jawab Vani
"Yaudah kalau gitu kita izin aja ya, bentar gue hubungin Pak Randi dulu" Kata Dira sambil mengeluarkan ponselnya
"Huffttt semoga Luna gapapa Ya Allah" Sambungnya lagi begitu selesai izin melalui ponselnya
"Aamiinn" Sambut Vani mengaminkan harapan Dira yang ia harapkan juga saat ini
__ADS_1
Selang beberapa waktu Rey keluar membuat Vani dan Dira sontak berdiri mendekat
"Gimana Luna dok?" Tanya Dira tidak sabaran
"Dia demam tinggi, untuk sementara dia dirawat lagi aja disini, biar saya urus ruangannya dulu" Vani dan Dira lemas mendengarnya, belum sehari Luna pulang namun sudah harus di opname lagi, namun mereka tentu menyetujui demi kebaikan dan kesehatan Luna
"Ini Juan kabarin gak ya?" Kata Dira begitu teringat lelaki yang menjadi kekasih sahabatnya itu
"Tunggu dulu deh, konfirmasi dulu ke Luna nya, semalem juga dia bilang jangan kasi tau apa-apa ke Juan" Jawab Vani mengingatkan, Dira pun mengangguk setuju
- - -
Luna menyipitkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk
"Alhamdulillah, ya Allahh Lun Lun, emang paling bisa loe bikin kita berdua jantungan, ini lama-lama gue lemah jantung jadi gantiin loe baring disitu" Celutuk Vani
"Omongan do'a, hati-hati loe" Sahut Dira
"Naudzubillah, nggak nggak nggak... gue cuma khawatir aja Lun sama loe, gimana sekarang perasaan loe, ada yang sakit gak?" Luna terlihat tersenyum tipis
"Lahh nyengir dia, dikira topeng monyet sedang beraksi kali gua, serius ini mahh gue nanya" Kata Vani lagi
"Udah loe istirahat dulu aja gak usah dipaksain ngomong dulu kalo masih lemes" Sambung Dira
Luna pun memudarkan senyumnya dan kembali memejamkan matanya sejenak, bukan untuk tidur lagi tapi sedang berusaha mengumpulkan tenaganya yang terasa sangat sedikit dan lemah saat ini
"Gue kenapa" Katanya lirih
"Loe pingsanlah pake nanya lagi" Vani menjawab kesal
"Sebenarnya ada apa Lun, loe sakit semalem? Kenapa gak ngasih tau kita?"
Luna terlihat hanya menghembuskan nafas kasar
Ceklek
Mereka bertiga menoleh ke arah pintu yang dibuka dari luar
"Alhamdulillah udah sadar, gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya seorang dokter laki-laki yang tak lain adalah Rey
"Masih lemes dok" Jawab Luna yang membuat Rey mengangguk mengerti, bahkan dari suara Luna pun terdengar iya masih sangat lemah
"Kamu kelelahan, saya udah suruh untuk banyak istirahat, kamu itu baru selesai operasi, luka jahit kamu aja belum kering sepenuhnya" Ucap dokter Rey mengingatkan
"Istirahat itu semuanya Lun, kamu juga gak boleh terlalu banyak pikiran, gak hanya tubuh yang perlu istirahat, tapi hati dan pikiran juga" Tambah dokter Rey
"Iya makasih dok" Jawab pelan Luna
"Yaudah kamu istirahat lagi aja, makanannya harus dihabiskan dan langsung minum obat setelah itu ya" Ucap lagi dokter Rey namun kali ini arah matanya menuju pada Vani dan Dira dengan maksud membantu Luna untuk makan dan minum lebih teratur, mereka mengerti dan langsung mengangguk mengiyakan
__ADS_1
"Baik dok, terimakasih" Sahut Dira kemudian