
"Itu Ibu sama Bapak udah dateng" Ucap Marni sambil menunjuk ke garasi.
Mendengar itu, Juan langsung meletekkan telfonnya dan menuju ke garasi. Tapi ia melihat ada yang tidak beres pada raut wajah kedua orang tuanya.
Begitu melewati pintu masuk dari garasi, Papa Juan terlihat sedang memohon dan mengejar Mamanya, belum lagi mata Mama Juan yang sembab seperti habis menangis. Mereka kemudian terpaku begitu melihat Juan ada di depan mereka.
"Juan" Ucap pelan sang Mama.
"Ma.. Pa.. Kenapa? Ada masalah? Kok baru pulang jam segini? Mama sama Papa habis dari mana?"
Juan bertanya secara beruntun. Mama dan Papanya disana hanya saling melempar tatap tak dapat bicara.
"Ma Pa" Panggil Juan lebih keras karna antara kedua orang tuanya hanya berdiri membisu di tempatnya.
Akhirnya sang Mama menarik nafas dalam dan dengan tegas bicara
"Juan ayo ikut Mama, kita ambil barang - barang kamu dulu" Kata Mama Juan yang bernama Nia. Lalu langsung menarik lengan putranya itu, tapi ditahan oleh Arif, Papa Juan.
"Tunggu, apa maksud kamu? Kamu mau bawa Juan?? Kemana???" Tanya Arif mulai panik.
Tapi Nia seakan tak ingin menanggapi Arif dan masih mencoba menarik Juan lagi. Arif masih menahan.
"Nia, aku mohon. Kita coba bicarakan lagi baik - baik" Arif memohon dan Nia masih tak peduli.
"Nia aku mohon"
"CUKUP MAS!" Bentak Nia. Tapi beberapa detik kemudian, wanita itu malah menangis tidak terkendali. Juan tertegun sebentar
"Ma.. Kenapa??? Paa ini ada apa sih?" Juan mulai gelisah dengan percakapan tidak jelas antar kedua orang tuanya.
Arif tidak menjawab, ia hanya mencoba perlahan merangkul istrinya itu, tapi ditolak. Nia mencoba mengendalikan dirinya, menghapus air matanya dan kembali menarik Juan.
__ADS_1
Lagi - lagi Arif menahan.
"Lepas" Ucap Nia. Arif tidak memperdulikannya, tangannya masih menahan tangan Nia.
"Lepas" Ucap Nia lagi masih dengan nada yang sama.
"LEPAS!" Sekarang Nia kembali mengeraskan suaranya. Percayalah, ini pertama kalinya Nia bicara dengan suara keras, Juan dan Arif pun sebenarnya cukup terkejut.
Arif belum juga melepaskan tangan Nia, ia mulai terlihat menekuk kakinya dan berlutut di hadapan Nia.
Nia membuang wajahnya ke lain arah untuk menahan tangis.
"Aku mohon Nia. Aku mohon... Tolong maafkan aku... Aku mohon" Kali ini Arif yang tak kuasa menahan tangisnya.
Nia mencoba untuk tidak terpengaruh, ia pun melepas tangan Arif dan menarik Juan. Arif tertunduk dalam tangisnya dengan posisi masih berlutut disana.
Di sisi lain, Bi Mar yang melihat hal tersebut pun hanya berdiri mematung dengan takut, bingung, sedih, dan gelisah. Ia tidak bisa melakukan apapun meski ia ingin melerai perkelahian suami istri itu. Tapi di sisi lain ia merasa tidak berhak juga untuk ikut campur.
Di kamar Juan, Nia menurunkan koper dari atas lemari, berjalam cepat menuju lemari, membukanya, lalu mengambil dan memasukkan baju - baju Juan dengan sembarang ke dalam koper.
"Kamu tunggu disini dulu, jangan kemana-mana sampai Mama datang lagi, Mama mau ambil barang - barang Mama dulu. Ya" Pinta Nia pada Juan. Wanita itu terlihat hancur dari matanya. Juan tidak mengangguk ataupun menggeleng, keningnya hanya mengerut menunjukkan kebingungan pada apa yang terjadi saat ini.
Nia sudah akan pergi dan menjauhkan kedua tangannya dari pipi Juan, namun putranya itu menahan tangan sang Mama. Menatap nya lekat seolah menanti sebuah penjelasan. Nia pun balas menatap Juan. Ibu jarinya tergerak mengelus halus pipi putra semata wayang nya tersebut.
"Juan... Ada sesuatu yang terjadi, yang kamu juga harus mengerti. Tapi Mama akan jelaskan nanti ya. Soal pertanyaan kamu kita mau kemana, kita akan ke Bandung malam ini juga, ke rumah orang tua Mama" Nia berujar dengan suara bergetar.
"Kenapa?" Juan bertanya singkat dengan hati yang berat.
"Mama akan jelaskan nanti disana ya" Pinta halus sang Mama.
"Kenapa?" Juan kembali menanyakan hal yang samaa. Membuat Nia tidak tahan untuk menangis kembali. Ia pun berbalik, menunduk, dan menangis.
__ADS_1
Juan hanya di tempatnya memandang punggung Nia dari belakang. Juan sekarang mulai merasa sedih untuk sesuatu yang ia tidak tau alasannya. Pikirannya menerka ke hal terburuk pada orang tuanya. Tapi ia mencoba menepis itu dan berharap semuanya akan baik-baik saja.
Nia menarik nafasnya dalam - dalam, menghapus sisa - sisa air mata di pipinya kemudian melangkah keluar dengan cepat menuju ke kamarnya, mengambil baju - bajunya dan memasukkannya ke koper secara sembarang juga. Setelah penuh ia pun sudah siap akan keluar dan ke kamar Juan lagi, Tapi begitu ia berbalik, ternyata Arif sudah disana.
Arif menahan koper yang di pegang Nia.
"Kalaupun ada yang harus pergi, berarti itu aku. Aku akan pulang ke Bandung. Sekali lagi maafkan aku" Ucap Arief dengan wajah yang mencoba tegar, tapi hatinya sebenarnya hancur juga saat ini. Koper itu ia ambil dari Nia yang masih membeku menatap Arief dengan wajah menahan tangisnya. Tak disangka, Nia tak menolak, tangannya lemah tak ada penolakan saat kopernya di ambil Arief.
Arief lalu berjalan menuju lemari, membenahi pakaian Nia kembali ke dalam lemari dan mengganti isi koper dengan pakaiannya sendiri.
"Jaga diri kamu baik - baik. Maaf untuk semua luka yang sudah aku beri. Tapi kali ini aku memang jujur Nia. Tapi caraku pun tetap salah, dan itupun hasil dari kesalahanku juga dulu. Maaf" Arief diam sebentar lalu kembali bersuara "Maaf" Ulangnya lagi.
Hahhhhh.... Edi menghela nafas yang terasa sangat berat baginya kali ini.
"Aku sayang kamu"
Dan itu menjadi kalimat terakhir Arief sebelum pergi. Sekakigus kalimat terakhir yang ia ucapkan sampai akhirnya mereka benar - benar berpisah dengan Nia, istri yang mendampingi nya selama kurang lebih selama 18 tahun.
Nia terduduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya begitu Arief menutup pintu kamar mereka dari luar.
.
.
.
Iiiii Mama sama Papa Juan ada apa yaa...🥺🥺🥺🥺
Emang nya apa dan sebesar apa sih kesalahan yang sudah dilakukan Papa Arief sampai Mama Nia kayaknya sekecewa itu...
Ternyata gak hanya Luna yaa yang punya masalah...
__ADS_1
Kalau dari kalian kira - kira kenapa nih sama Mama Nia dan Papa Arief?
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺