Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 25


__ADS_3

LUNA


Luna berjalan tanpa arah menyusuri jalanan kota yang hiruk pikuk oleh banyak kendaraan di akhir pekan ini.


Pikiran Luna rasanya buntu. Harus kerja apa dia? Tidak punya pengalaman apapun, apalagi di usianya yang masih sangat muda ini, tapi kakinya dengan lambat masih terus berjalan, kepalanya menyeleksi setiap kegiatan dan kejadian sekitar. Luna menangis pelan dan tertahan, ia ingin menyerah dan marah tapi perlahan Luna berhenti sebentar melihat seorang kakek bungkuk duduk dengan tangan menengadah di tepi jalan, pakaiannya lusuh tubuhnya kurus. Siapapun yang melihat pasti akan berpiki bahwa kakek tua itu adalah pengemis. Luna merogoh saku rok rumahannya, ada selembar uang lima ribu rupiah, sepertinya itu satu – satunya uang yang Luna pegang saat ini. Luna lebih memilih memberikannya pada kakek tua itu kemudian pergi. Ia sadar, masih banyak yang lebih kesusahan darinya. Ia berjalan dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya menuju sebuah rumah makan padang.


“Permisi…” ucap Luna pada seorang Bapak – Bapak yang tengah merapikan wadah – wadah lauk dagangannya yang tak lain adalah pemilik rumah makan padang tersebut.


“Iya neng, mau beli apa?” Jawab Bapak tersebut mengira Luna seorang pembeli.


Dengan senyum tak enak Luna Kembali bersuara.


“Hmm maaf Pak saya gak mau beli apa – apa, saya Cuma mau tanya apa Bapak perlu karyawan? Saya mau melamar kerja Pak, apa aja saya mau, cuci piring juga saya mau” Dengan nada ragu Luna bertanya penuh harap.


Pemilik rumah makan padang itu terlihat menyoroti Luna dari bawah sampai atas.


“Kamu yakin mau kerja disini? Kamu kelihatannya masih kecil, kenapa mau kerja? Masih sekolah?” Tanya pemilik rumah makan tersebut


“InsyaAllah yakin Pak, saya perlu banget pekerjaan ini. Saya masih sekolah, saya memang masih muda, tapi saya udah biasa kok bantu beres – beres sedikit, dan cuci piring” Luna menjawab mulai dengan semangat.


“Neng.. maaf sekali ya sebelumnya, bukannya saya gak mau bantu. Tapi kebetulan saya udah cukup dengan dua karyawan, itupun sudah maksimal untuk saya gaji, maaf ya”


Luna mencoba tersenyum tegar.


“Yaudah gapap Pak, makasih ya” Kata Luna ingin pamit


“Ehh sebentar neng” Luna menoleh, terlihat bapak tersebut membungkus sebungkus nasi dengan lauk lengkap.


“Ini buat kamu” Katanya sambil menyerahkan dengan kantong kresek hitam


“Ehh Pak, saya kan gak pesan, lagi pula saya juga lagi gak bawa uang” Luna mencoba menolak


“Udah gapapa gak usah bayar, kamu kayaknya belum makan , ini dimakan dulu baru kamu nanti jalan lagi. Mau dimakan disini juga boleh”

__ADS_1


MasyaAllah Luna terenyuh dengan orang baik yang tak dikenalnya ini. Dengan ragu ia menerima pesanan tersebut.


“Makasih banyak Pak, biar saya makan nanti aja gapapa ya. Sekali lagi Terimakasih”


Pemilik rumah makan itu hanya mengangguk dan tersenyum. Setelahnya Luna pamit dan pergi menjauh dari sana untuk mencari pekerjaan lagi.


Cuaca yang terik saat itu membuat Luna merasa cukup lelah dan gerah, ia tau ada sebuah rest area di sekitar taman kota yang tak jauh dari sana. Disana Luna duduk berteduh dan berniat menyantap nasi yang ia terima tadi. Tak lama ada seorang anak pengamen yang bernyanyi di depan Luna dengan seorang Wanita tua di belakangnya, mata Wanita itu tampaknya buta. Luna merasa iba.


“Dek.. kakak lagi gak pegang uang, tapi kakak punya makanan, mau?” Luna bertanya lembut pada pengamen kecil tersebut.


“Mau kak (Dengan polos mengangguk ceria, tapi tiba – tiba wajahnya berubah sendu) tapi… kakak makan apa?”


Luna tersenyum dan menjawab “Nanti kakak bisa makan dirumah, lagian tadi sebelum kesini juga udah makan. Jadi ini buat kamu sama Ibu kamu aja ya” Kata Luna sambil menyerahkan sebungkus nasi yang sebenanrnya ingin ia makan barusan.


Dengan Bahagia pengamen kecil itu menerima pemberian Luna. Tak lupa mereka mengucapkan Terimakasih sebelum pergi menjauh dari Luna.


Sekarang Luna sudah tidak ada makanan lagi untuk ia makan. Uang pun tidak ada, Luna sebenanrnya punya celengan nya di kamar, tapi tidak terpikir saja untuk bekal uang saat pergi tadi.


Brakk!!


“Makasih ya dek” Kata Wanita asing tersebut.


“Iya sama – sama, Ibu gapapa kan?” Tanya Luna memastikan.


“Iya Alhamdulillah gapapa” Wanita itu menjawab kemudian memperhatikan sekitar, ia lalu bergumam sendiri


“Aduh, pada penuh lagi” Gumamnya dengan pelan tapi sayup – sayup terdengar di telinga Luna. Mendengar itu, Luna langsung ikut memperhatikan sekitar dan mendapati semua tempat duduk memang penuh.


“Ibu duduk disini aja, saya Cuma istirahat sebentar kok disini” Kata Luna menawarkan.


“Gapapa memangnya? Gak ganggu kamu?” Tanya Wanita tersebut.


“Sama sekali nggak kok Bu, saya Cuma numpang duduk sebentar aja disini. Ayo silahkan Bu” Kata Luna sambil menarik sebuah kursi di depan sampingnya

__ADS_1


Wanita tersebut pun tersenyum dan duduk.


“Makasih ya”


Mereka akhirnya duduk bersama, mulanya baik Luna maupun Wanita asing itu hanya saling terdiam. Beberapa kali Wanita di dekat Luna tersebut mencuri pandang kecil pada Luna. Merasa canggung dan merasa letihnya mulai hilang, Luna berencana ingin pergi lagi saja.


“Hmm Bu, saya udah selesai istirahatnyam saya permisi dulu ya” Kata Luna.


“Ehh tunggu” Wanita itu dengan cepat mencegah, bahkan suaranya cukup keras.


“Masih panas banget ini, ayo duduk dulu” Katanya sambil menarik tangan Luna untuk duduk Kembali, Luna pun menurut dengan heran.


“Kamu dari mana mau kemana emangnya? Kok sendirian disini, biasanya anak muda seperti kamu juga sama teman atau ngerjain tugas kalau kesini, kalau kamu ngapain? Tadi katanya istirahat ya, emangnya capek kenapa sampai istirahat?” Pertanyaan beruntun tersebut cukup membuat Luna bingung dan malah hanya terdiam.


Wanita tersebut tampak sedikit bersalah sambil menggigit bibir bawahnya.


“Aduh maaf, saya banyak tanya ya hehe”


“Hmm iya gapapa Bu, saya tadi abis keliling aja, pengennya sih nyari pekerjaan, tapi bingung juga apa. Tadi sempat nyoba di rumah makan padang tapi katanya lagi gak butuh karyawan baru” Luna menjawab pelan.


“Ohh kamu nyari kerja?? Kebetulan banget. Saya malah lagi butuh karyawan, kamu mau kerja sama saya?” Ungkap Wanita tersebut.


Luna menaikkan kedua alisnya


“Ibu serius? Memangnya kerja apa Bu?”


“Saya punya café kecil gutulah, café coffee, kalau kamu mau kamu boleh kerja sama saya, nanti kamu bagian kasi raja. Gimana?” Tawar Wanita itu lagi.


“Iya saya mau Bu” Dengan semangat 45 Luna mengiyakan.


“Oke, kamu resmi Sekarang jadi karyawan café saya. Ohh iya perkenalkan nama saya Laras” Tangan Wanita yang mengaku bernama Laraas itu terangkat mengajak Luna berjabat tangan.


Luna menerimanya “Saya Lunara Ustman, panggil saja Luna”

__ADS_1


Mereka saling melempar senyum, Wanita itu tampak menoleh ke arah balik pohon di area taman yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Seolah memberi sebuah kode, iya mengangguk samar ke arah sana dimana ada seseorang yang mengawasi mereka kemudian pergi setelah anggukan tersebut.


__ADS_2