
“M-mas bilang apa tadi?”
Yana bertanya takut-takut.
“Hmm? Apa?”
Jawab Rey heran.
“Tadi itu… Yang barusan Hmmm tentang anak?”
Yana menjelaskan dengan suara yang semakin memelan.
“Yang mana?”
Rey bertanya disertai kernyitan di dahi. Namun belum sempat Yana menjawab, Rey sudah kembali bersuara.
“Ohhhh… Apa yang kamu maksud itu tentang saya yang bilang “anak kita”?”
Ucap Rey memastikan. Yana hanya menjawab dengan anggukan yang sangat pelan juga lambat.
“Kenapa? Apa kamu merasa keberatan dengan itu?”
Tanya Rey dengan hati-hati.
Mendapat pertanyaan seperti itu. Alih-alih menjawab, Yana malah hanya bisa memutar bola matanya ke segala arah.
Melihat tingkah Yana, Rey jadi tidak tahan untuk tidak tersenyum.
“Kalau kamu memang keberatan gapapa, saya gak akan bilang itu lagi kok. Yaa paling tidak sampaikamu benar-benar sudah siap menerima pernikahan ini?”
“Dan saya”
Tambah Rey lagi setelah menjeda kalimatnya untuk beberapa saat.
Kemudian keheningan mengambil alih. Rey dan Yana kini larut dalam pikirannya masing-masing, sampai akhirnya Yana kembali bersuara. Dan seperti biasanya suara itu selalu terdengar ragu dan takut.
“Mas…”
Seru Yana.
“Iya?”
Rey menanggapi dengan sangat baik.
“Memangnya mas sendiri udah bisa menerima pernikahan ini?”
Rey sudah akan meraup udara untuk menjawab, namun Yana kembali menahannya.
“Nggak. Lebih tepatnya apa udah bisa menerima Yana… dan… anak ini?”
Kata terakhir Yana ucapkan dengan sangat pelan hingga hampir tak terdengar.
“Saya sudah menerima kamu bahkan semua hal tentang kamu sejak saya mengiyakan untuk menikahi kamu”
Rey serius mengatakan itu. Terlihat dari sorot matanya yang begitu dalam saat menjelaskan per kata kalimatnya.
“Mas tau kan kalau Yana itu…”
“Tau”
Ehh? Yana bahkan belum menyelesaikan jawabannya. Tapi Rey sudah menjawab saja. Setelahnya Rey menoleh.
“Saya tau kamu wanita yang baik. Sangat baik”
Ungkap Rey yang seketika menyulut kaca bening di mata Yana. Rey sengaja memotong kalimat Yana tadi karena sudah tau apa yang sedang istrinya itu maksud. Yaitu tentang masa lalu buruknya yang sampai menghasilkan nyawa baru di dalam perutnya sekarang. Rey tidak ingin membahas itu dan malah membuat Yana terguncang. Ia sendiri pun percaya bahwa Yana memang wanita yang baik.
__ADS_1
“Kamu gak malu mas?”
Ahh. Yana memberanikan diri membahas ini. Baru sekarang selama pernikahan mereka.
“Untuk apa?”
Sahut Rey cepat.
“Yana dan anak ini kan…”
“Sstttt”
Cepat Rey memotong kalimat Yana lagi.
“Jangan bahas itu dan jangan pernah mengatakan hal yang buruk tentang kamu apalagi bayi ini. Saya gak peduli orang bilang apa. Kita suami istri yang sah, gak ada hal yang memalukan dari itu. Kamu istri saya sekarang, dan anak kamu pun juga anak saya. Jadi saya gak akan tinggal diam kalau ada yang bicara buruk tentang istri dan anak saya. Termasuk kamu ya”
Jelas Rey yang menyisipkan nada jenaka di akhir kalimatnya. Mengingat tadi Yana pasti ingin merendahkan dirinya dan bayi yang di kandungnya.
Yana tidak menjawab. Tapi dari ekor mata Rey terlihat bahwa tangan gadis itu terangkat untuk menyeka air mata di pipinya. Rey membiarkan itu.
“Makasih..”
Yana terdengar seperti bergumam dan suaranya bergetar. Ia hela nafasnya dalam.
“Makasih buat semuanya mas”
Kata Yana lagi dengan lebih jelas dan keras.
“Sama-sama. Nih udah sampai, kita turun yuk”
Ajak Rey lembut dan tak lupa juga senyumnya.
- - -
Malam harinya. Rey mengantar Yana kerumah kedua orang tuanya. Ia pun ikut masuk sebentar untuk sekedar salam dan minta maaf karena tidak bisa ikut setelah itu langsung pamit kembali.
Tanya Lia sambil merangkul bahu putri bungsunya.
“Alhamdulillah baik bun…”
Jawab Yana seraya membalas pelukan itu dengan hangat.
“Kamu sama Rey…”
Lia menggantung kalimatnya dengan wajah yang terangkat.
“Baik juga, Rey memperlakukan Yana dengan baik banget banget banget”
Lia pun tersenyum dengan bahu merosot lega.
“Kamu udah bisa masak?”
Kali ini Edi yang bertanya dengan alis terangkat sebelah. Seketika Yana menyengir.
“Belum”
Jawabnya cengengesan.
“Jadi kalian makan?”
Lia menyahuti bingung.
“Mas Rey yang masak”
Cengiran itu semakin besar saat Yana kembali menjawab.
__ADS_1
Kedua orang tuanya langsung menghela nafas malas dan memutar bola matanya jengah.
“Udah keduga”
Ucap Edi.
“Ihh kamu jangan malu-maluin Bunda gitu dong. Nanti Bunda ajarin aja yaa”
“Iya, lagian Yana pernah kok masak buat mas Rey”
Yana mengatakan dengan bangga.
“Masak apa?”
Tanya Edi dengan lirikan remeh.
“Telur dadar, itu eenakkkk bangett, ya harusnya sih. Tapi gara-gara lupa garem jadi kurang dikit deh”
Lia sampai memundurkan tubuhnya heran karena penuturan Yana. Dan Edi hanya menggelengkan kepala.
“Lupa garam ya fatal Yan. Kalau masak itu harus-“
“Luna udah selesai”
Ucapan Lia terhenti tiba-tiba karena Luna datang.
“Yaudah berangkat sekarang”
Ajak Edi seraya berdiri. Yana pun langsung menghambur untuk menggandeng lengan Luna dengan gembira.
Edi dan Lia masuk ke mobil terlebih dahulu. Lia tampak memperhatikan sekitar untuk memastikan kedua putrinya belum masuk, barulah ia mengatakan sesuatu pada Edi.
“Makasih banyak mas”
Katanya lirih. Edi tidak menanggapi, wajahnya pun hanya datar dan tidak dapat diartikan.
“Ayoo yahh, Yana udah laper”
Serunya dengan kencang setelah ikut masuk ke mobil.
“Ini maksudnya Ayah resto favorit Yana sama kak Luna itu di restoran the seafood itu kan?”
Yana bertanya memastikan dengan antusias.
“Hmm”
Edi hanya menjawab dengan deheman sambil masih fokus menyetir.
“Asikkkk, udah lama gak makan seafood, iya kan kak”
Luna tersenyum mengangguk.
Setelah itu, perjalanan mereka hanya dilalui dengan sunyi. Mungkin hanya sesekali saja terdengar obrolan ringan antara Luna dan Yana. Sedangkan kedua orang tuanya hanya diam mendengarkan.
Sekitar 30 menit perjalanan yang di tempuh. Akhirnya mereka pun sampai. Dan ternyata benar keputusan Edi untuk memesan tempat disana terlebih dahulu karena pengunjung disana memang tidak pernah sepi. Seperti halnya saat ini, dari parkirannya yang padat saja sudah membuktikan.
Mereka berempat pun masuk dan Edi langsung menyebutkan namanya untuk memberitahukan bahwa ia sudah reservasi sebelumnya. Pelayan tersebut pun langsung menuntun mereka ke meja yang sudah disiapkan.
“Silahkan”
Kata pelayan tersebut dengan sopan. Mereka pun duduk di sebuah meja lesehan yang dekat dengan kolam ikan. Lalu disaat sedang memilih-milih menu, perhatian mereka terakhir pada pelayan yang datang kembali dengan kebingungan.
“Ehh astaga maaf Pak, saya lupa ini udah di reservasi. Saya mohon maaf sekali”
Ungkap pelayan tersebut. Tapi bukan pada keluarga kecil Edi melainkan pada dua orang pria yang ia tuntun barusan.
__ADS_1
“Loh?”
Yana menyeru dan menunjuk kaget pada dua orang tersebut. Luna dan kedua orang tuanya pun ikut menoleh