
Masih di pagi yang sama, Luna terlihat masih terlelap di ranjangnya dengan wajah yang pucat, tanpa dia sadari sejak tadi ada seseorang yang masuk dan memandanginya tidur, orang itu tak lain adalah Edi. Sedangkan di luar ruangan tampak Rey juga datang dan hampir membuka pintu yang tidak tertutup sempurna tapi akhirnya terhenti karena menyadari keberadaan Edi melalui celah pintu ruang rawat inap Luna itu, Rey terus memantau apa yang terjadi hanya dari balik pintu
Disana Edi tampak tak bergeming sedikitpun dari tempatnya, raut wjaahnya pun sulit diartikan, beberapa saat setelah itu sayup – sayup Luna membuka matanya, dan Luna pun hanya diam terpaku melihat siapa yang ada di depannya, Edi pun kemudian keluar tanpa sepatah kata pun dan sempat berhenti mendengar Luna memanggilnya
“Ayah..” Suara Luna terdengar serak khas orang bangun tidur, hanya sekian detik Edi berhenti sampai akhirnya Kembali melangkah keluar, sesampainya di luar
“Saya perlu tanda tangan Om untuk bisa melakukan Tindakan operasi ke Luna” Sambut Rey begitu melihat Edi membuka pintu
“Antar suratnya ke ruangan saya” Jawab Edi tanpa menoleh dengan nada datar lalu Kembali pergi, mendengar itu Rey tersenyum kecil menatap kepergian Edi menurutnya sekarang ini juga ikut mengkhawatirkan kondisi Luna walau dia tidak mengakuinya, Rey pun masuk setelah mengetuk pintu
Ceklek.
Luna menoleh lalu perlahan mencoba duduk setelah melihat Rey masuk
“Luna, ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu” Ucap Rey memulai percakapan
“Apa itu dok?” Luna mulai penasaran
Dengan ragu, Rey menjawab
“Kamu harus di operasi”
Luna lantas memasang wajah bingung, seburuk itu kah dampak coklat yang di konsumsinya kemarin sampai harus membuatnya di operasi. Begitu pikir Luna
Rey memejamkan matanya sebentar sampai akhirnya Kembali bersuara
__ADS_1
“Dari laporan Kesehatan kamu, kami menemukan adanya jaringan sel kanker di hati kamu”
Jleb!
Hati Luna mencelos mendengar penuturan Rey, dia hanya terdiam kaget memandang ke arah Rey dengan mata yang mulai berkaca – kaca
“Kamu tenang dulu, kanker hati yang kamu alami ini masih gejala awal, itu sebabnya saya segera ingin dilakukan hepatektomi (prosedur pengangkatan organ hati dengan indikasi adanya tumor pada pasien kanker hati dengan fungsi hati yang masih memadai)” Luna masih terlihat syok dan bingung.
“Sebenarnya sejak pertama kali kamu di bawa kesini saya sudah curiga melihat mata kamu yang kekuningan, keluhan kamu yang sempat beberapa kali mual dan nyeri di perut kamu” sambung Rey mencoba menjelaskan
“Kau harus sabar, perbanyak do’a setelah ini kamu puasa dulu selama 6 – 8 jam sebelum operasi, lalu sekitar 2 jam puasa air, sebelum operasi kamu juga akan diperiksa dulu, saya akan mempersiapkan yang terbaik untuk kamu” Kata Rey mencoba menenangkan.
“Saya akan mengurusnya dari sekarang, saya permisi keluar dulu ke ruangan Om Edi untuk tanda tangan persetujuan operasi kamu, InsyaAllah percayalah semuanya akan baik – baik saja Luna”.
“Wa’alaikumsalam…” Luna menjawab dengan sangat pelan, Luna merasakan sesak di dadanya mendengar ada penyakit yang terkenal sangat mematikan tengah bersarang di dalam dirinya saat ini
Astaghfirullahal’adzim
Astaghfirullahal’adzim
Astaghfirullahal’adzim
Berulang kali Luna melantunkan dzikir dan memperbanyak istighfar sambil menangis. Sementara itu, di rumah Luna, tampak Lia gelisah di kamarnya, pagi tadi Lia tidak sengaja melihat notifikasi dari ponsel Edi yang berisikan pemberitahuan kondisi dan rencana operasi Luna dari dokter Rey, Lia memohon untuk pergi ke rumah sakit namun Edi masih ngotot melarangnya, meski Edi sendiri mengatakan akan menyetujui dan ikut mengurus soal operasi Luna tapi itu tidak cukup membuat hati Lia lega, Yana yang tidak ada mata kuliah pagi ini heran begitu melihat Bundanya masih di rumah padahal sudah jam kantor
“Bun…” Panggil Yana kemudian perlahan masuk
__ADS_1
“Udah jam segini, kok Bunda gak ke kantor?” Lia hanya diam seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan namun tertahan.
“Ada apa Bun?” tanya Yana lagi dengan serius
“Luna di diangnosa terkena kanker hati, malam ini akan di operasi” Yana spontan menutup mulutnya karena begitu terkejutnya dengan apa yang baru saja ia dengar
“Kita harus ke Rumah Sakit Bun, ayo” Ajak Yana sambil menarik lengan Bundanya namun ditarik Kembali oleh Lia
“Kamu tetap disini, tunggu kabar aja, Bunda mau ngantor dulu” Yana mengangkat kepalanya menatap Lia seolah tak percaya dengan apa yang barusan Lia lontarkan
“Yana gak salah denger Bun? Ngantor?” Tanya Yana memastikan
“Harus banget ya Bunda ngomong dua kali?” Sahut Lia menjawab sambil berdiri dan membenahi tas kerjanya di atas meja
“Dimana hati Nurani Bunda sebagai seorang Ibu?” Kata Yana dengan sedikit teriak yang membuat Lia menghentikan langkah kakinya yang sudah berada di ambang pintu. Lia mencoba mengontrol diri dengan menarik dan menghela nafas sekaligus untuk menetralkan perasaannya saat ini , barulah kemudian ia melanjutkan langkahnya.
Melihat hal itu Yana terduduk lemas di lantai sambil menangis. Kemudian ia meraih ponselnya berniat untuk mengabari Vani terkait kondisi Luna
SEMENTARA ITU
Juan melempar ponselnya dengan geram ke atas ranjang disusul dirinya pun ikut menjatuhkan diri di atas ranjang juga sambil memijit pangkal hidungnya yang terasa pusing ditambah dia tidak tidur semalaman, sejak kemarin Juan, Vani, dan Dira menghubungi ponsel Luna yang tidak di respon sedikit pun meski terus aktif sejak kemarin. Juan sebenarnya memang sudah berinisiatif mengantar Luna untuk bekerja ke toko buku kemarin itu namun sesampainya di rumah Luna ternyata kekasihnya itu sudah keburu berangkat duluan dan informasinya sudah lama, jadi pria itu berpikir bahwa Luna sudah sampai dan ia pun memutuskan Kembali pulang. Sore hari saat Juan hendak keluar mencari coklat yang kemarin ia perebutkan dengan Vani baru Juan memulai menghubungi Luna lagi tapi tidak di respon, mulanya Juan masih berusaha berpikir positif bahwa Luna sibuk, namun ia mulai kalang kabut Ketika Vani dan Dira menghubunginya dan mengatakan bahwa Luna kemungkinan hilang. Malam itu Juan juga sudah mencoba mencari Luna kemana – mana termasuk danau kesukaan mereka namun hasilnya nihil.
Tak lama ponsel Juan bergetar, dengan sigap ia mengambil dan mengangkatnya tanpa mengecek nama pemanggil terlebih dahulu
“Halo, Luna?”
__ADS_1