Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 57


__ADS_3

Membeku di tempatnya berpijak. Suasana malah menjadi hening dan menegangkan setelah mendengar apa yang diucapkan Rey. Luna mendadak pias, tidak berharap banyak. Ia malah menundukkan kepalanya takut. Tidak berani menatap siapapun, apalagi Ayahnya. Sangat jelas wajah Edi memerah, menahan sesuatu yang memanas dari dalam dirinya.


Nafasnya terdengar memburu. Tapi beberapa menit setelahnya Edi mengehela nafasnya dalam. Mencoba menetralkan sesuatu yang tengah bergemuruh dalam dadanya. Setelah merasa cukup tenang. Ia baru membuka suara.


"Baik" Luna mendongak, menatap lekat Ayahnya dengan melotot.


Benarkah yang ia dengar? Benarkah ia akan dicintai seperti dulu? Ingin rasanya dia menanyakan itu secara langsung, tapi nyalinya belum sejauh itu meski Edi telah mengiyakan.


"Om serius?" Tanya Rey meyakinkan.


"Tentu, sekarang tidak ada yang lebih penting dari kehormatan Yana"


Ahh iya Yana. Ya Tuhan... Bagaimana bisa Luna melupakan adik kesayangannya itu. Untuk sebentar harapan dan nafsu dalam dirinya membuat ia serakah. Benar. Jika Edi menyetujui syarat itu, dirinya mungkin kembali dicintai seperti dulu. Tentu hal itu adalah sesuatu yang paling ia dambakan selama ini. Tapi... Bagaimana dengan Yana? Ia tentu akan kehilangan suara untuk membebaskan diri dari perjodohan ini. Luna tidak ingin egois. Sebesar apapun kesempatan dan cinta yang akan kembali kepadanya, tidak akan lebih penting dibanding kebahagiaan Yana saat ini. Luna menggeleng di tempatnya.


"Nggak" Katanya lirih dan nyaris tidak terdengar. Tapi suaranya yang samar seperti gumaman itu cukup disadari oleh Edi dan Rey di dekatnya. Rey mengernyit heran.


"Apa maksud kamu, ka-"


Kalimat Rey terpotong oleh suara Edi.


"Mau kamu apa sihh. Jangan kamu pikir saya melakukan ini untuk kamu, semua yang saya lakukan itu semata-mata hanya untuk Yana. Yana!" Kata Edi angkuh dengan menekankan nama Yana. Luna tersenyum.


"Iya Yah... Luna tau. Dan yang Luna lakuin sekarang pun juga untuk itu. Ada yang lebih penting disini dari pernikahan dan kehormatan" Luna menahan kalimatnya sebentar.


"Perasaan Yana"

__ADS_1


Deg!


Edi terpaku disana. Wajahnya yang menantang tadi seketika melembut.


"Yang Yana butuhkan saat ini dukungan, bukan hanya pernikahan. Memberikan lelaki sebaik Rey untuk menikahi Yana memang bagus. Tapi belum tentu hal itu bisa membahagiakan Yana. Kehamilan dan kehilangan yang Yana rasakan ini sudah cukup menyiksanya Yah. Kalau dia harus dipaksa lagi untuk menikah Luna khawatir dengan kesehatan mentalnya" Tak terasa telaga bening itu jatuh dari matanya seiring menjelaskan semua itu. Edi semakin tertohok. Kenapa air mata itu masih saja ikut menyakitinya. Bertahun-tahun ia sudah membenci Luna. Tapi kenapa air mata itu masih saja menjadi kelemahnnya. Tidak ingin terlihat lemah dan semakin hancur seiring air mata Luna yang jatuh. Ia menggerakkan kakinya kasar dan cepat keluar dari ruangannya meninggalkan Rey dan Luna. Rey memutar tubuhnya menghadap Luna.


"Saya sudah bersedia menikahi Yana. Dan saya juga sudah berusaha mengembalikan separuh hidup kamu yang sempat hilang. Meskipun kamu gak pernah cerita tapi saya cukup tau hubungan kamu dengan keluarga kamu sendiri sedang ada kesalahpahaman, dan saya disini ingin membantu Yana sekaligus kamu sesuai janji saya dulu. Tapi apa yang kamu lakukan?" Tanya Rey tidak habis pikir.


"Jujur.. saya memang sempat serakah tadinya. Tapi mendengar nama Yana, saya sadar saya gak bisa egois hanya karna itu. Saya gak ingin bahagia di atas penderitaan adik saya sendiri. Lagipula bukankah itu artinya Ayah bukan menyayangi saya dengan tulus, tapi karna sebuah perjanjian, seperti transaksi. Kasih sayang itu gak bisa dibeli dok. Saya mau bahagia dan Yana pun begitu. Saya ingin bahagia bersama-sama. Mendapatkan cinta Ayah lagi memang sesuatu yang saya dambakan dan membahagiakan. Tapi kebahagiaan Yana pun adalah salah satu alasan bahagia saya juga." Rey tertohok. Melihat sisi Luna yang seperti ini hanya membuatnya semakin mencintai gadis ini.


- - -


Marah. Sakit. Sedih. dan rindu. Semua bercampur menjadi satu di hati Edi. Pria itu sekarang melamun di lantai paling atas rumah sakit. Berdiri menatap lurus ke depan. Memutar kembali ingatannya pada kejadian beberapa tahun silam. Tepat saat dia mengasingkan gadis kecil yang amat ia sayangi. Luna.


Flashback On.


Prang!


Lia menutup telinga dan matanya erat sambil menangis selagi Edi di depannya teriak, mengamuk, menghempaskan... melempar segala hal yang ada di hadapannya. Edi terduduk menunduk setelah tenaganya dirasa habis. Bahunya terlihat bergetar, Lia memberanikan diri mendekat. Ikut mendudukkan tubuhnya lesu di hadapan suaminya.


"Maafin aku mas..." Katanya lirih dengan tangannya mengelus bahu dan tangan Edi. Sedangkan yang disentuh belum juga bergeming.


"Kenapa... Kenapa Lia... Apa salah aku?" Tanya Edi frustrasi dan kedua tangannya menangkup pipi Lia. Lia menggeleng memejamkan matanya masih menangis, kesalahan yang ia lakukan dulu membuat ia tak berani menatap mata laki-laki yang menjadi suaminya ini.


"Lihat aku" Perintah Edi dengan mengguncang wajah Lia.

__ADS_1


"Lihat aku!!!" Kini ia membentak. Lia masih tak berani membuka matanya.


"Aku gak bisa terima ini. Kamu harus membayarnya lewat anak kamu" Lia tersentak dan langsung mendongak dengan mata yang sudah terbuka lebar-lebar.


"Apa maksud kamu mas?" Lia bertanya dengan dada yang bergemuruh takut. Bayang-bayang Edi akan menyakiti Luna menghantui pikirannya sekarang.


"Aku gak mau mengurus anak haram itu. Usir dia dari sini atau kamu gak akan melihat aku dan Yana lagi"


Deg!


Lia menggeleng. Tidak. Dia tidak bisa memilih. Luna dan Yana sama-sama putri yang dia sayangi. Melihat Lia hanya terdiam dengan mata kosong. Edi menyentak wajah itu dengan kasar dari tangkupan tangannya.


"Kalau begitu aku dan Yana akan keluar negeri" Kata Edi langsung berdiri mengambil koper.


"Nggak mas. Aku mohon aku gak bisa kehilangan Luna maupun Yana. Aku mohon jangan pisahkan aku dengan siapapun. Silahkan hukum aku apa saja asal jangan bawa anak-anak" Lia memohon di bawah kaki Edi. Ia pegang erat-erat kaki itu. Merendahkan dan memohon dirinya serendah mungkin demi kedua putrinya.


Edi terdiam sebentar.


"Baik" Lia mendongak.


"Anak itu boleh tetap tinggal disini. Tapi tentu tidak seperti dulu. Jangan harap aku akan bersikap seperti dulu. Dia tetap disini tapi jangan ada yang memperdulikannya. Bagaimana?" Lia mencelos.


"Kalau gak bisa gapapa. Saya bisa buang dia malam ini juga"


"Jangan!" Lia menahan kaki itu. Kepalanya bergerak mengangguk pelan dengan hati yang berkecambuk. Lia bisa apa. Dia tidak ingin jauh dari kedua putrinya. Edi pun tersenyum miring. Setelahnya ia berjalan menuju kamar Luna. Membentak. Mengusir gadis kecil itu menuju gudang. Itu adalah malam dimana mimpi buruk Luna dimulai.

__ADS_1


Flashback Off.


__ADS_2