Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 139


__ADS_3

Juan duduk dengan kepala tertunduk lesu di bawah teriknya matahari. Entah sudah berapa lama ia disana. Sejak dari danau tadi ia kembali ke apartemen, tidak benar-benar kembali masuk. Melainkan tertahan di bangku taman area apartemen hingga siang hari begini.


Kemudian ia merasa sengatan matahari yang menusuk kulitnya mulai hilang. Tidak! Bukan hari yang mulai meredup, matanya menangkap ada sebuah benda yang menutupinya saja. Ia pun mendongak dan melihat ada sebuah jaket pink yang di rentangkan sepanjang kepalanya.


“Ngapain loe disini. Gue suruh loe sama Dira nemenin Luna buka gue” Ujar Juan secara ketus.


“Ck, gue dari sana” Sahut seorang gadis dengan nada kesal. Dari kalimat Juan sebelumnya sudah dipastikan jika gadis itu adalah Vani.


“Gue sama Dira niatnya mau ajak dia pulang. Tapi begitu sampai, kita ngerasa Luna memang butuh waktu sendiri. Akhirnya kita tetap di mobil, nemenin dia dari jauh. Dia udah pulang kok, baru setelah itu gue sama Dira juga ikutan pulang” Vani menjelaskan dengan nada lembut dan iba. Tidak seperti biasa dirinya yang bicara heboh serta blak – blakkan. Juan menghela nafasnya dan melirik jaket yang masih Vani bentangkan ke atas kepalanya.

__ADS_1


“Terus ngapain loe disini” Ucap Juan lagi dengan lebih ketus. Vani langsung memutar kepalanya dengan kesal ke arah pria ini. Tangannya yang sejak tadi melindungi Juan dari sengatan matahari pun ia Tarik, membuat Juan langsung menyipit menghalau silau.


“Emang dasar loe ya. Gue udah baik nutupin kepala loe panas – panasan gini ter- “


“Ya gue kan ga minta. Ngapain juga loe gitu” Juan menyerobot ucapan Vani. Membuat gadis itu semakin menggeram. Selanjutnya gadis itu melempar jaket di tangannya ke arah wajah Juan kemudian menghentakkan kakinya menjauh dari sana. Karena kaget dan mencoba mengelak, Juan mendorong tubuhnya ke belakang.


Ternyata bangku taman yang ia duduki tersebut sudah tua dan tidak tertanam dengan baik di lantai semen disana. Membuat Juan terjatuh bersama bangku itu denga posisi terjengkang. Ia masih terlihat duduk di bangku tersebut namun bedangnya dalam keadaan berbaring. Kepalanya pun masih tertutup jaket. Sedangkan kaki dan tangannya kelabakan mencoba berdiri. Seperti seekor kumbang yang sedang dalam posisi terbalik.


“Wan??? Loe gapapa?” teriak Vani bertanya

__ADS_1


“Loe marah gak? Marahh gak loe ama gue? Gue mau nolongin, tapi kalo gue kesana nolongin loe bakal jitak gue ga? Loe bakal mukul gue ga?” Teriak lagi Vani secara bertubi – tubi


Bukannya langsung menolong, Vani malah berteriak seperti itu. Dengan susah payah akhirnya Juan bisa berdiri kembali meski penampilannya sudah serabuta tak beraturan. Mata tajam nya Juan sudah siap ingin mengintimidasi gadis yang menyebabkan nya terjatuh barusan, tapi sayang gadis itu sudah lenyap dari sana.


“Vanii!!!!!!!!” Teriak Juan dengan keras dan panjang. Perhatian orang – orang yang melintas disana padanya sudah tidak lagi ia perdulikan


SEDANGKAN VANI


Dengan sekuat tenaga ia tengah berlari menyusuri tepian jalan raya dengan gelisah

__ADS_1


“Mampus nih gue mampus aduhhhh” Ucapnya sambil mengacak – acak rambutnya sendiri dan tentu tanpa menghentikan kegiatan berlarinya


Yahh begitulah Vani dan kerandoman nya. Niat ingin menghibur tapi malah membuat Juan apes.


__ADS_2