
21.10
MEMBACA DENGAN POSISI DUDUK DI MEJA BELAJAR
23.07
MEMBACA SAMBIL DUDUK DI LANTAI BERSANDAR PADA KAKI KASUR
00.02
MEMBACA SAMBIL BERBARING (SUDAH MULAI MENGUAP)
01.05
Entah sudah berapa kali Luna menguap dan berganti posisi baca. Tapi dengan mata yang sudah berat pun ia masih memaksakan dirinya untuk membaca kata demi kata setiap tulisan yang ada di buku berjudul “Hati” karya Muf In Rosas yang sangat ia inginkan sejak lama itu.
02.45
Entah di pukul berapa tepatnya. Tapi di jam ini, Luna sudah terlelap dengan buku yang masih terbuka di atas perutnya.
06.30
“Lunaa!!” Teriak suara seorang wanita dari balik pintu kamar Luna yan tak lain adalah Lia, Bunda Luna. Dari arah belakang, menyusul lah Edi.
“Belum bangun juga?” Tanya Edi, Lia mengangguk membuat Edi mengangkat tangan kanan tempat jam tangannya melingkar.
“Udah jam segini loh” Ucap Edi heran.
“Itu dia, gak biasanya tuh anak. Aku bangunin lagi” Sahut Lia, lalu meninggalkan Edi.
Ceklek!
Pintu pun terbuka. Tampaklah Lia, Bunda Luna memasuki kamar, berjalan dan bergerak mendekat pada kasur. Disana terlihat Luna masih terbungkus mukenah putih sisa salat subuh tadi dalam posisi masih meringkuk terlelap.
“Ya ampunn Luna kamu kenapa sihh. Tumben – tumbenan susah dibangunin gini. Lunaaa udah setengah tujuh. Jam berapa mau sekolah jam berapa mau siap – siap jam berapa mau sarapan… mau berangkat” Kata sang Bunda sambal terus mengguncang tubuh putri sulungnya.
Luna bangkit secara tiba – tiba.
__ADS_1
“HAHHH UDAH SETENGAH TUJUH???” Katanya shock. Mata dan kepalanya bergerilya mencari jam dinding. Mencoba memfokuskan penglihatannya yang masih buram – buram bangun tidur. Tampak juga di matanya jarum jam memang sudah merujuk pada pukul 06.34. Luna pun segera bangkit melewati sang Bunda cuci muka lalu sikat gigi, tidak lagi mandi dan langsung memakai seragam sekolahnya.
“Loh gak sarapan dong?” Tanya Lia mendapati Luna yang bergegas dari kamar langsung menuju rak sepatu.
“Aduhh gak keburu Bundaa” Jawab Luna sambal memasang kaos kaki dengan terburu – buru.
“Yok Yahh, Yana mana? Udah di mobil?” Tanya Luna dengan tergesa – gesa.
“Yana libur hari ini, gurunya ada rapat tentang ujian katanya” Sahut sang Bunda.
Tanpa memanjangkan cerita Yana, Luna tanpa bersuara langsung menyambar tangan Lia lalu berlari menuju garasi.
Lia yang menyadari pergerakan Luna langsung mengatakan “Assalamu’alaikum” Katanya sediit teriak menyeterakan jarak Luna yang tengah berlari mennjauhinya.
“Ohh iyaa, Assalamu’alaikum Bun” Sahut Luna tanpa mengehentikan langkahnya.
“Wa’alaikumsalam” Lia menyahut pelan kali ini, disertai gelengan kepala samar melihat tingkah Luna.
Di perjalanan Luna tak henti – hentinya menyuruh sang Ayah untuk mempercepat mobilnya. Namun, kondisi jalanan yang mendekati pukul 07.00 pagi itu pastilah sangat padat. Luna sudah sangat gelisah sambal terus bergantian menoleh jalanan dengan jam tangan yang melingkar di pergelengan kirinya.
SAMPAI.
Luna berlari secepat yang ia mampu menuju kelasnya, melewati parkiran terbesit sekilas dipikirannya, mengapa parkiran masih sepi. Murid – murid lain pun sepi. Ehh? Murid sepi? Jangan – jangan udah masuk lagi. Luna pun Kembali mempercepat larinya.
SEMENTARA ITU DI DEPAN KELAS LUNA.
“Hah? Yang bener Luna belum datang?” Tanya Vani yang kaget mendapati Luna yang belum tampak di kelasnya. Ia tampak diam sebentar dan berpikir “Surat izin gitu juga gak ada?” Tanyanya lagi pada salah seorang teman sekelas Luna. Vani hanya mendapat gelengan kepala sebagai jawaban untuknya.
“Yaudah, makasih ya” Ucap Vani yang lagi – lagi hanya mendapat jawaban melalui gerakan kepala, kali ini teman sekelas Luna itu menjawab dengan senyum dan mengangguk.
Tak lama kemudian, terdengar suara Langkah berlari yang mendekat.
“Nahh loh, datang juga ternyata, kirain gak masuk hari ini” Kata Vani yang melihat Luna berlari mendekatinya.
Dengan nafas terengah – engah Luna berkata
“Udah bel belum? Gue gak telat kan?”
__ADS_1
Vani terbengong sebentar.
“Lagian hari ini telat juga gapapa kali”
Ehh? Luna menoleh heran. Tiba – tiba ia teringat sebuah suara yang di siarkan di sekolah menjelang pulang kemarin. Bunyinya kira – kira begini.
“Assalamu’alaikum, berhubung besok sekolah kita akan mendapat kunjungan dari SMP Matahari Bandung, maka besok pembeajaran ditiadakan. Namun para siswa tetap diwajibkan masuk asal tidak datang lebih dari jam 8, kalau tidak akan diberi sanksi sebagaimana siswa yang terlambat seperti biasanya. Sekian Assalamu’alaikum”
Seketika kedua lutut Luna terasa lemas. Padahal habis berlari tadi tenaganya untuk ke kelas menggebu – gebu.
“Huaaaa gue ampe gak sarapan, lari kayak orang gila biar gak terlambat, Taunya malah gak belajar hari ini” Keluh Luna di depan Vani. “Parahnya lagi gue ampe gak mandi tau” Tambah Luna dengan posisi berdiri membungkuk memegang kedua lututnya.
Mendengar itu, Vani yang sedang menggosok pelan punggung Luna mulai menjauhkan tangannya secara perlahan. Dengan wajah heran dan kepala yang ia mundurkan sedikit, Vani pun bertanya.
“Loe gak mandi? Seorang Luna yang mau ke warung depan rumah aja mandi dulu tapi sekarang gak mandi? Seorang Luna yang merupakan miss on time sekarang telat?” Ucapnya sambal bersyair.
Plakk!
“Aww” Luna memekik kaget dengan serangan Vani yang tiba-tiba menampar pipinya kanannya. Tidak kuat memang, tapi Luna kan jadi kaget.
Plakk!
“Awww!” Sekarang giliran pipi kiri.
Luna tidak membalas atau pun bertanya. Ia hanya membalas tatapan datar Vani padanya sambil memegang kedua pipinya wajah bingungnya.
Setelah beberapa saat perang tatap. Vani maju selangkah disusul Luna yang juga mundur selangkah. Vani maju selangkah lagi, begitupun Luna mundur selangkah lagi. Mulai kesal Luna akhirnya sadar dan bicara sambal menonjok pelan bahu kiri Vani di depannya, lalu Kembali mundur menjauh ke tempat semula. Takut – takut Vani berulah lagi padanya
“Hehh loe ngapain sihh! Tiba – tiba berubah gitu, kerasukan loe?” Protes Luna
“Loe kali yang kerasukan, Luna gak mungkin bentukkannya gini. Datang telat, mandi kagak, mata juga item kayak pantat panci gitu” Jawab Vani.
Belum juga Luna menjawab, datanglah Juan dari arah belakang Vani. Mulanya Juan hanya melirik sebentar dan seperti hanya ingin lewat. Namun pada lirikan kedua Juan tampak kaget dan mendekat ke depan wajah Luna. Sontak Luna memundurkan wajahnya dong. Sadar dengan spontanitasnya, Juan menetralkan sikap dan menjauh sedikit.
“Tuh mata kenapa?” Tanya Juan dengan nada biasa.
Luna yang merasa Juan sedikit lebih perhatian masih shock tidak menjawab dan bingung.
__ADS_1
“Hehh, matanya kenapa ?? ditanya kok malah bengong?” Tanya Juan lagi.
“Hahh eemm i-ini. Gak papa kok, mungkin cuma karna kurang tidur aja semalem” Jawab Luna sedikit gagap.