
“Wan??? Loe gapapa?” teriak Vani bertanya
“Loe marah gak? Marahh gak loe ama gue? Gue mau nolongin, tapi kalo gue kesana nolongin loe bakal jitak gue ga? Loe bakal mukul gue ga?” Teriak lagi Vani secara bertubi – tubi
Bukannya langsung menolong, Vani malah berteriak seperti itu. Dengan susah payah akhirnya Juan bisa berdiri kembali meski penampilannya sudah serabuta tak beraturan. Mata tajam nya Juan sudah siap ingin mengintimidasi gadis yang menyebabkan nya terjatuh barusan, tapi sayang gadis itu sudah lenyap dari sana.
“Vanii!!!!!!!!” Teriak Juan dengan keras dan panjang. Perhatian orang – orang yang melintas disana padanya sudah tidak lagi ia perdulikan
SEDANGKAN VANI
Dengan sekuat tenaga ia tengah berlari menyusuri tepian jalan raya dengan gelisah
“Mampus nih gue mampus aduhhhh” Ucapnya sambil mengacak – acak rambutnya sendiri dan tentu tanpa menghentikan kegiatan berlarinya
Waktu terus berjalan menuju gelapnya malam. Namun Luna tak kunjung pulang, membuat Yana cemas luar biasa
__ADS_1
"Gak bisa sih ini mas kalo cuma nunggu doang gini, Yana makin gak tenang" Katanya sambil beranjak dari duduknya yang memang tak terasa tenang sejak kepergian Luna tadi pagi
Rey tampak hanya menghela nafas berat. Kemudian Yana bergerak masuk ke dalam kamar, tak sampai 5 menit ia sudah keluar, dan sebuah tas selempang kecil yang terpasang di bahunya menarik perhatian Rey
"Kamu mau kemana? " Tanya Rey seraya berdiri
"Yana mau cari kak Luna, Yana gak bisa diam nunggu tanpa kejelasan disini" Sahut Yana dengan guratan kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya
"Kamu mau cari kemana?" Tanya Rey lagi
"Saya antar" Sahut Rey singkat disusul kakinya yang melangkah masuk ke ruang kerjanya. Tak butuh waktu lama sebuah jaket hitam sudah membungkus tubuh atasnya, di tangan kanannya sudah menggantung sebuah kunci mobil dan tangan lainnya tampak menggenggam sebuah gumpalan kain berwarna abu abu. Semua pergerakan Rey itu tak luput dari Yana yang juga terdiam menunggu. Rey semakin dekat dan tangannya membuka gumpalan kain tersebut yang ternyata adalah jaket, ia pasangkan jaket itu ke bahu kiri dan kanan Yana
"Ayo" Katanya kemudian. Yana pun hanya menurut sambil membenahi jaket pemberian Rey dan menggunakannnya dengan benar.
"Pertama kita pikirin dulu tempat - tempat yang kira - kira Luna ada disana atau tempat yang sering dia datangi" Kata Rey sambil menghidupkan mesin mobil
__ADS_1
"Pertama kita ke taman dekat rumah Yana dulu berarti" Jawab Yana langsung
Tanpa menjawab dengan suara Rey pun langsung menganggukkan kepala pelan pertanda setuju. mobil itu pun langsung dibawa Rey menuju ke taman yang Yana maksud
Mereka menelusuri gelapnya perjalanan malam kali ini dengan hening, tampak mata mereka sibuk juga mencari dibalik jendela mobil, harap - harap kakak semata wayangnya itu terlihat
SAMPAI.
Baik Rey maupun Yana langsung masing-masing membuka sabuk pengaman mereka dan keluar dari mobil.
"Kita mencar aja kali mas nyarinya di dalam taman" Saran Yana
"Nggak, sama sama aja, ini udah malam" Sahut Rey menolak. Tanpa aba aba Yana merasakan pergelangan tangan kanannya di genggam oleh Rey. Yana menoleh ke tangannya, menyadari itu Rey pun berkata
"Lantai semennya agak licin karna habis hujan lampu disini juga gak terlalu terang, jadi kamu saya pegang biar gak kenapa kenapa"
__ADS_1