Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 12


__ADS_3

Luna terdiam syok dengan yang di dengarnya, sedangkan Rey yang juga ada tidak jauh dari Luna langsung menubruk pintu. Masuk dan tak dapat menahan air matanya untuk jatuh. Hati Luna ikut sakit menyaksikan keharuan antara Rey dan Jihan. Jujur… Luna sendiri pun ikut merasakan kehilangan. Dirinya pun sudah merasa dekat dengan Jihan hingga begitulah air mata Luna juga ikut jatuh. Luna menangis dalam pelukan Edi di depan pintu.


...***...


Rey akhirnya tiba di waktu pemakaman sang Ibu. Raut frustasi dan kehilangan yang mendalam amat tergambar di wajah tampannya yang lembab. Rey benar – benar sendiri sekarang, merasa tidak memiliki siapapun lagi. Tangannya masih tak bergeser dari nisan sang Ibu. Dapat ia rasakan ada yang menyentuh pundak kirinya. Ia pun berbalik, tampaklah Edi disana bersama istri dan kedua putrinya. Edi memandangnya, begitupun Rey. Tak kuasa menahan, beberapa waktu setelahnya tangis Rey kembali runtuh di pelukan Edi. Setelah mulai sedikit reda, Rey perlahan melepas pelukannya dan tiba – tiba mencium tangan Edi.


“Makasih Om, makasih banyak. Berkat Om, Ibu bisa mendapat tempat dan pengobatan yang baik di saat – saat terakhirnya. Terima kasih” Kata Rey dan kembali mencium tangan Edi kembali. Edi meletakkan tangannya ke kepala Rey.


“Kamu anak yang baik. Sabar.. Ikhlas.. Om yakin Ibu kamu sudah di tempat yang lebih baik” Ucap Edi.


“Aamiinn Aamiinn Om. Terima kasih sekali lagi”.


“Kamu tenangi diri kamu dulu, kalau sudah merasa lebih baik. Tolong kamu temui saya di rumah sakit sekitaran waktu zuhur ya. Ada yang mau saya bicarakan” Kata Edi.


“Ada apa Om?” Tanya Rey penasaran.


“Nanti saja saya jelaskan kalau kita sudah ketemu” Jawab Edi. Rey pun akhirnya mengangguk dan menurut saja.


“Kamu biar Om antar aja pulang sekalian sama kita. Yuk” Ajak Edi.


“Makasih sebelumnya Om, tapi gapapa biar saya nanti pulang sendiri aja. Saya masih mau disini dulu sebentar” Tolak Rey secara halus.


“Yaudah kalau gitu Om dan keluarga permisi dulu ya” Pamit Edi.


“Iya makasih sekali lagi Om, Tante, Luna dan adek” Ucap Rey sambil memandang mereka satu persatu.


Saat melihat ke Luna. Mereka saling memandang sebentar, Luna tampak tersenyum sedikit, Rey pun membalas dengan hal yang sama. Setelah itu Luna ikut bersama keluarganya pergi dari sana. Meski hanya begitu, tapi Rey merasa sedikit terhibur, senyum yang saling mereka lemparkan tadi meninggalkan kesan yang membekas dengan penuh makna.


Rey masih merasakan sesak yang teramat menyekat dadanya untuk bernafas normal. Seolah ia ingin berhenti bernafas saja sekarang. Ia sendiri… tidak punya siapa – siapa lagi. Sesaat ia berpikir dunianya sudah hancur.

__ADS_1


Berhari – hari Edi menunggu, tapi belum juga tampak di depannya sosok Rey datang. Edi tetap sabar, ia mengerti akan kehilangan yang dirasakan Rey. Ujiannya saat ini bukanlah hal yang mudah untuk anak muda seperti Rey. Karena merasa Rey tidak akan datang hari ini, Edi akhirnya memutuskan pulang ke rumah saja. Ia kemudian membenahi tasnya, berjalan menuju mobil, mengendarai mobilnya dengan santai hingga sampai ke tujuan. Dan disana tampak seorang laki – laki memegangi sepeda hitam berdiri di depan pagar rumahnya. Edi yang juga berada disana membuka jendela mobil.


“Cari siapa dek?” Tanya Edi.


“Ohh, Assalamu’alaikum (Edi pun disana langsung menjawab salam tersebut), saya teman sekelas Luna Om, boleh saya ketemu sebentar. Mau ngembaliin barang dia yang ketinggalan di sekolah” Jawabnya dengan ramah.


“Ohh teman Luna, oke bentar ya” Edi setelah itu keluar dan membuka pagar, kemudian kembali menaiki mobilnya dan masuk. Anak laki – laki yang mengaku teman Luna itu masih di tempatnya meski paagar telah terbuka, sepertinya ia menunggu untuk dipersilahkan terlebih dahulu.


Edi yang sudah memarkirkan mobilnya pun turun dan mempersilahkan anak itu masuk, dan barulah ia masuk. Setelah membuka pintu, Edi berbalik dan kembali mempersilahkan anak itu untuk masuk ke dalam.


“Ayo silahkan” ucap Edi.


“Ehmm gapap Om, biar saya tunggu disini saja” Jawab anak tersebut sambil menunjuk kursi teras rumah Edi.


“Ohh yaudah, silahkan duduk dulu. Biar Om panggilkan dulu Luna nya ya”


“Kenapa ini?” Tanya Edi yang baru sampai.


Melihat Edi yang tiba – tiba muncul, spontan Lia dan Luna mencium tangan Edi secara bergantian.


“Kenapa Lun, kok kayak susah gitu mukanya?” Kata Edi kembali bertanya.


“Buku Luna Yahh, buku terakhir Muf In Rosas yang belum Luna baca. Yang kemarin Ayah beliin sampe 5 judul itu loh. Nahh ada satu yang belum Luna baca, yang judulnya “Indah” tapi dicari – cari gak ada” Jawab Luna semakin merengek.


“Kamu kali yang gak hati – hati nyimpennya, atau lupa taruh dimana” Ucap Edi mengira – ngira.


“Enggak Yah, Luna inget banget tadi pagi itu Luna bawa ke sekolah, dan udah Luna masukin ke tas juga deh perasaan pas pulang” Sahut Luna.


“Nahh kan, mungkin ketinggalan di sekolah kali. Yaudah nanti Ayah bantuin cari, sekarang kamu ke depan dulu. Ada teman kamu tuh di depan” Kata Edi memberi tau.

__ADS_1


Luna yang mulanya memasang raut sedih kini malah bingung.


“Siapa Yah?” Tanya Luna penasaran.


“Ohh iya Ayah lupa nanya namanya tadi. Pokoknya dia bilang teman sekelas kamu dan mau ngembaliin barang kamu yang ketinggalan di sekolah, siapa tau itu buku kamu?”


Mendengar itu, Luna langsung melotot dan berlari ke depan. Edi tersenyum dan menggeleng samar melihat tingkah Luna.


“Juan?” Sapa Luna heran serta kaget mengetahui yang datang dan tengah duduk di terasnya adalah Juan. Hufftt pria paling menyebalkan bagi Vani. Ya.. bagi Luna juga sih, dikit hehe.


“Ngapain kesini, kok tau juga rumah gue disini?” Tanya Luna yang masih heran. Dan seperti biasa, tanpa basa basi tanpa bicara, Juan tidak menjawab, tapi malah langsung menyerahkan sebuah buku.


Dan saat itulah Luna langsung kegirangan dengan perasaan lega juga. Ternyata Juan mengembalikan buku yang ia cari dari tadi. Luna senang bukan main.


Ehh tunggu! Kok bisa sama Juan sih? Luna menyoroti Juan dengan mata curiga. Juan kan suka buku Muf In Rosas juga, jangan – jangan dia sengaja ambil buku Luna.


“Gak usah fitnah. Ini gue nemu di lapangan, syukur gak dibuang” jawab Juan ketus dan seolah mengerti isi kepala Luna.


Luna seketika menciut menelan ludahnya. Pria seperti apa yang ada di depannya ini, padalah Luna hanya meliriknya, belum berbicara sepatah katapun, tapi Juan bisa tau apa yang ia maksud.


.


.


.


Juan mahh gituu. Sok sok cuek, padahal ujungnya kepincut juga kan sama Luna hihi


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺

__ADS_1


__ADS_2