Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 32


__ADS_3

Jika sesuatu yang fatal terjadi sama kamu tadi, saya mungkin gak akan pernah bisa memaafkan diri saya sendiri…


.


.


.


“Kenapa….” Kata Rey masih dengan tundukan kepalanya ke bawah, tapi Luna hanya mampu sebatas diam menghela nafas Panjang karena kondisi nafasnya pun seratus persen pulih


“Ini gak ada bedanya dengan lompat dari atas Gedung, kamu sadar itu?” sambung Rey dengan nada bicara yang terdengar sedikit lebih tegas


Masih tidak terdengar jawaban apapun dari mulut Luna, Rey memutuskan mengalihkan matanya melihat Luna yang juga masih memalingkan wajahnya, Rey pun bergerak untuk duduk di sofa. Setelah cukup lama ruangan itu berada dalam hening, giliran Luna kali ini yang memecah kebisuan antara mereka


“Beda…” hanya satu kata itu yang keluar dengan serak, lemah dan amat pelan. Rey spontan mendongakkan kepalanya ke asal pemilik suara.


“Sudahlah, gak usah kita bahas sekarang, yang terpenting sekarang kondisi kamu sudah stabil, istirahat saja dan fokus ke pemulihan kamu. Kita bisa bahas ini di lain waktu” Ucap Rey disusul pergerakannya yang bangkit dari duduk, ia sudah siap akan pergi tapi tertahan oleh suara Luna Kembali


“Udah 7 tahun saya gak pernah dapat pemberian apa – apa lagi dari Ayah, saya Cuma mencoba menerima pemberian Ayah saja untuk pertama kalinya setelah 7 tahun ini”


Rey langsung mantap membalikkan tubuhnya Kembali


“Coklat itu hanya bentuk kebodohan saya saja, itu murni inisiatif saya sendiri yang hanya berusaha menenangkan dan menghibur kamu tapi kejadiannya malah seperti ini” Rey menarik nafas sebentar lalu Kembali bicara dan kali ini sambil menyoroti mata Luna dengan dalam “Luna… Om Edi gak pernah menitipkan coklat itu ke saya, apalagi sampai ingin mencelakai kamu” Jelas Rey yang khawatir Luna semakin terpukul jika berpikir Edi sengaja memberinya coklat untuk melukainya.


Tapi gadis di depannya itu malah hanya tampak menanggapi ucapan Rey dengan segaris senyum tipis miring, membuat Rey heran dan menerka – nerka


“Apa sebenarnya kamu sudah tau kalau coklat itu bukan dari Om Edi” Rey bertanya setengah ragu dan penasaran sambil mendekat selangkah ke arah ranjang Luna, sedangkan Luna yang ditanyai masih setia mengalihkan matanya ke kaca jendela.


“Jawab saya Lun!” Rey mulai tidak sabaran, Luna sudah terlihat menanggapi, ia memejamkan matanya sebentar lalu balik menatap Dokter muda asing yang baru dikenalnya itu.

__ADS_1


“Kamu sendiri. Kenapa harus bilang itu dari Ayah?”


“Karena saya mau kamu tenang dan saya Cuma niat menghibur”.


“Kenapa harus mencegah saya, kenapa kamu gak biarin aja saya lompat, apa urusannya saya dengan kamu?” sahut Luna mulai meluapkan emosi juga


“Karena saya mau kamu turun dari sana, saya mau kamu berpikir jernih saya juga udah bilang akan bantu kamu” Jawab Rey yang mulai kesal


“Untuk apa?!” Luna pun tak kalah kesal


“Saya gak mau terjadi sesuatu terhadap kamu!” Tegas Rey membuat Luna terdiam dan mereka hanya saling menatap dalam diam dengan emosi masing - masing yang mulai mereda.


Rey menarik nafas dan memejamkan matanya


“Jika sesuatu yang fatal terjadi sama kamu tadi, saya mungkin gak akan pernah memafkan diri saya sendiri.”


Memang benar adanya jika Luna sudah tau bahwa Rey hanya berbohong mengatakan coklat tersebut dari Ayahnya, Luna sendiri pun tak habis pikir dengan dirinya yang serasa hilang akal akan sesuatu hal gila yang ingin ia lakukan di rooftop hingga menelan coklat itu hingga tak bersisa tadi.


Apakah yang dilakukan Luna itu tadi egosi? Luna terus mempertanyakan itu dalam hatinya mengingat perkataan dan raut bersalah Rey tadi. Jika tadi Luna benar – benar kehilangan nyawanya karena coklat pemberian Rey, dia justru seperti meninggalkan seluruh beban miliknya beserta beban baru yang akan dipikul Rey dalam rasa bersalah selama hidup Rey. Tak berasa air mata mengalir dari pelupuk mata kiri Luna


SEDANGKAN EDI


“Gimana Luna?” Lia bertanya pada Edi yang baru saja masuk ke kamar sambil menghidupkan lampu


“Udah stabil, palingan sekarang lagi tidur” Edi menjawab dingin


“Aku mohon mas, sekali ini aja aku mau liat dia ya, dari luar aja kok gak dan aku pastiin Luna gak akan lihat aku. Sebentar aja”


“Silahkan” Kata Edi, Lia yang mendengarnya sudah keburu senang.

__ADS_1


“Kalau kamu memang sudah ingin liat dia angkat kaki dari rumah ini” Jawab Edi yang seketika meluluh lantahkan harapan Lia yang ingin menjenguk Luna. Lia akhirnya hanya terduduk diam di tepi ranjang, setelah selesai Edi keluar dari kamar mandi dan langsung menaiki ranjang membelakangi Lia yang masih saja terduduk


“Ini terakhir kalinya kita membahas ini” Kata Edi tanpa berbalik.


- -


“Sampai kapanpun aku gak akan pernah bisa menerima semua ini” Tambah Edi sebelum dia memejamkan matanya, Lia hanya duduk tertunduk tanpa berminat menjawab suaminya itu


KEESOKAN PAGINYA


Rey tengah duduk di ruangannya menatap selembar kertas yang berisikan hasil pemeriksaan Luna dengan tatapan sendu


“Ya Allah cobaan apalagi yang harus dihadapi gadis malang ini…” Kata Rey bersuara dalam hatinya


.


.


.


Hmm kira – kira Rey kenapa yak ok ampe kayak sedih gitu


Emangnya isi surat pemeriksaan Luna kenapa ya?


Penasaran gak??


Kalo iya baca terus ya kelanjutan Hati Lunara


Hehe makasihh

__ADS_1


__ADS_2