Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 41


__ADS_3

Prangg!!!


Bunyi barang jatuh yang terdengar bersama suara pertengkaran samar dari kedua orang tuanya membuat jantung Luna berdebar, seketika ada perasaan tidak enak yang memeluk Luna, perlahan ia berjalan menggapai gagang pintu memastikan apa yang sdang terjadi. Begitu pintu berhasil ia buka, tampak Edi sudah berada tepat di depan kamar nya dengan nafas yang memburu dan disusul oleh Lia yang terlihat ketakutan sambil menarik – narik tangan Edi. Dengan gugup Luna memberanikan diri untuk bertanya meski takut dan terbata – bata


“A-ayah ada a- apa?” Kata Luna dengan takut – takut. Bukannya suara Edi yang terdengar namun malah Lia


“Mas aku mohon aku minta maaf, aku akan lakuin apa aja kamu tenang dulu, jangan begini mas aku mohon.. Sekarang kita Kembali ke kamar ya, kita bicarain baik – baik. Ayo mas” Mohon Lia dengan sangat pada suaminya itu sambil menarik – narik tangan Edi. Hal itu membuat Luna semakin bingung tanpa mengurangi rasa takutnya. Dan Edi disana pun masih hanya terdiam.


Cukup lama mereka berada dalam ketegangan yang tidak diketahui Luna apa sebabnya, Edi kemudian tampak memejamkan matanya menghela nafas cukup dalam, tanpa bersuara ia menyentak tangan Lia dan pergi begitu saja dari sana, Lia langsung melemas lega melihat suaminya pergi


“Ada apa Bun? Bunda sama Ayah kenapa?” Tanya Luna pelan namun lancar, ia lebih berani membuka suaranya pada Lia dibandingkan pada Edi Ayahnya, Lia tampak menoleh sebentar menanggapi pertanyaan Luna namun sedetik kemudian ia Kembali menyusul Edi tanpa meninggalkan sedikit pun penjelasan pada Luna, meski sudah biasa tidak diperdulikan namun setiap detiknya Luna merasakan sakit yang sama dengan pertama kali ia di asingkan oleh Edi.


Sesak di dadanya membawa ia kesini di malam hari yang dingin ini, ke danau tempat yang sering dia kunjungi bersama Juan ataupun sendiri, entah apa yang dipikirkan Luna saat ini, ia duduk sendiri dengan tas berisi beberapa baju dan barang – barang nya lain di sisi kanan nya, selama ini dia selalu membujuk dirinya sendiri untuk tetap kuat dan bertahan apapun yang terjadi di tengah keluarganya, namun Luna tetaplah manusia biasa yang bisa merasakan lelah. Terlebih setelah melihat kejadian tadi, Luna bisa menerka jika itu karena dirinya, ia tak ingin terus menjadi duri dalam kelurganya apalagi hubungan kedua orang tuanya. Mungkin dengan pergi dari sana memanglah sebuah pilihan yang tepat. Entah sudah berapa kali Luna mengotak – atik ponselnya, tapi rasanya taka da satupun yang bisa ia hubungi atau di pintai tolong, ia pasti akan sangat merepotkan siapapun


Namun pada akhirnya, Luna berhenti pada kontak bertuliskan (Vani dengan symbol hati biru setelahnya). Dengan ragu Luna menekan tombol hijau di layar ponselnya. Hanya memakan waktu 3 detik saja untuk Vani sudah menjawab telepon dari Luna


Vani : Halo Lun? Ada apa nih, tumben malem – malem gini telepon, pake telepon biasa lagi


Luna : Hmm.. iya nih kuota gue abis, loe lagi dimana Van?


Vani : Di empang nih Lun


Luna : Hah? Ngapain Van? Di Empang mana?

__ADS_1


Vani : Itu dia Lun, gue juga gak tau di empang mau ngapain malamgini. Lagian ngapain juga kan gue di empang Lunara Ustman ya Allah, loe tau gak ini jam berapa, ya udah pasti di apartemen la gue di atas kasur nihh.. Cuma lagi gak bisa tidur aja


Luna : ihh gue serius tau


Vani : Yang bercanda juga siapa Lun. Nah jadi ada apa nih?


Luna : Loe lagi sama Dira juga?


Vani : ada nih Lun, gue lagi nginep di apartemen Vani (suara Dira)


Luna : Ohh gitu…


Hening


Hening


Hening


Luna : Hmm… gue boleh kesana juga gak?


Vani : ya elah pake tanya, dateng aja Lun. Mau kapan jam berapa juga silahkan. Pintu gue selalu terbuka buat loe, gue jemput sekarang ya


Luna : Ehh jangan Van, gue lagi gak dirumah

__ADS_1


Vani : Hah? Terus loe dimana dong kalau bukan dirumah semalam ini?


Luna : Udah gak usah panik gitu, gue bukan anak kecil, gue bisa kok kesana sendiri. Oh iya Van


Vani : Hm? Apa?


Luna : Jangan kasi tau Juan ya


Vani : Iya iya udah sekarang loe bilang aja dimana, biar gue atau Dira jemput loe aja


Luna : Gue sendiri aja ih, udah ya


Vani : tap- tutttt


“Lahh mati” Kata Vani melihat sambungan telponnya sudah terputus


“Coba telpon lagi aja” Suruh Dira. Vani pun menurut dan langsung menelpon Luna lagi tapi tidak diangkat


“Gak diangkatt”


“Yaudah lah kita tunggu dia di luar aja yuk, dia juga udah bilang jangan khawatir moga aja Luna cepet sampe” Kata Dira dan lagi – lagi Vani hanya menurut


Sedangkan Luna saat ini tengah gelisah karena ia tidak melihat ada ojek atau angkutan umum yang bisa ia naiki, kuotanya juga habis untuk membuka aplikasi ojek online. Jalanan tepi danau juga sepi sekali malam ini dan hampir tidak ada satupun kendaraan yang melintas, sedangkan malam semakin lama semakin larut, minta Vani dan Dira jemput rasanya sangat merepotkan. Di tengah langkah kaki Luna ada seseorang yang memegang pundaknya. Luna pun membeku seketika. Bukan hantu atau semacamnya yang Luna takutkan tapi penjahat

__ADS_1


Perlahan ia berbalik dan….


__ADS_2