Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 19


__ADS_3

“Kalau boleh tau kenapa Om baik sekali ke saya?” Rey tiba – tiba bertanya demikian. Wajar saja, mereka ini dua orang asing yang belum lama kenal tapi kebaikan Edi yang sampai ingin membiayai kuliahnya rasanya sedikit berlebihan. Bukan Rey meragukan kebaikan Edi, tapi itu hanya pertanyaan dari bagian rasa penasaran Rey saja.


“Dulu saya punya kakak laki – laki, cita – citanya sama dengan saya, sama dengan kamu juga, jadi dokter. Kami selisih 5 tahun. Saat baru lulus SMA, orang tua kami kecelakaan dan meninggal. Saya masih SMP waktu itu. Sepeninggalan orang tua saya, maka saat itu juga tanggung jawab mereka dipikul oleh kakak saya sebagai anak sulung-“ Edi berhenti sejenak dan terpejam. Ia merasakan sesak di dadanya mengingat masa sulitnya dulu.


“Dia juga sudah lulus tes masuk kuliah kedokteran waktu itu tapi gak jadi dia ambil karna ternyata usaha orang tua kami sedang bermasalah, dan uang yang dipersiapkan untuk kuliah dan sekolah kami pada saat itu adalah uang pinjaman. Kakak saya akhirnya kerja serabutan untuk menghidupi sekaligus menyekolahkan saya, saya gak pernah tau pasti apa saja yang dia kerjakan. Tapi setiap pulang saya gak pernah dengar dia mengeluh, alhamdulillahnya saya juga dapat beasiswa untuk kuliah sampai selesai. Tapi pasti kan butuh biaya juga untuk keseharian kuliahnya, dan itu tetap dia yang membiayai. Kadang saya juga sedih ingat dia gak bisa kuliah karna saya. Tapi dia selalu menyemangati saya dan melarang saya berpikir seperti itu, melarang saya kerja. Sampai akhirnya alhamdulillah saya lulus saya lanjut s2 koas dan sebagainya sampai benar-benar jadi dokter, tapi justru dia adalah pasien pertama saya. Kakak kena kanker otak, saya kacau rasanya. Saya sadar ini pasti pola hidupnya yang gak terjaga selama menghidupi kami berdua, pasti karna dia terlalu bekerja keras. Saya gak bisa menyelamatkannya, dia meninggal bahkan sebelum merasakan keberhasilan saya sedikitpun” Edi berhenti lagi, air matanya tampak sudah membendung dan hampir jatuh.


“Saya merasa kehilangan hidup saya, sama seperti kamu. Hidup rasanya sudah gak berarti karna satu – satunya orang yang kita punya sudah pergi. Tapi ap akita gak jahat kalau harus menyerah karna kesedihan itu, jahat karna perjuangan mereka yang sudah pergi akan sia – sia karna keputus asaan itu. Jadi daripada menyia-nyiakannya dengan kesedihan, saya ubah air mata itu jadi semangat dan alasan untuk bangkit dan membuat kakak beserta orang tua saya bangga dari tempat mereka sekarang. Singkatnya, saya melihat diri saya sekaligus diri kakak saya dalam diri kamu. Anak muda yang masih semangat sekolah dengan cita – cita mulia seperti saya sekaligus anak muda yang pekerja keras seperti kakak saya. Saya tergerak untuk membantu kamu, mewujudkan mimpi kamu itu. Selain itu, sejak pertama lihat kamu, saya teringat kakak saya, perawakan dan pembawaannya mirip dengan kamu, baik dan santun” selesai.


Air mata Edi kini sudah mengalir melewati pipinya. Sungguh masa lalu yang tidak terduga jika melihat kehidupan Edi sekarang, ternyata ia pernah susah bersama pengalaman yang menyedihkan bersama sang kakak. Pengalaman itu kini ia jadikan landasan untuk menjadi orang yang peduli dan suka menolong sesama.


Rey disana ikut terhanyut. Ia sekarang semakin sadar, kehidupan itu adil. Setiap orang punya masalahnya masing-masing. Benar… dia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia dibesarkan sang Ibu untuk menjadi orang yang berguna di masa depan. Bukan sebaliknya. Perjuangan sang Ibu terhadapnya sekarang akan ia lanjutkan. Sendiri.


“Om” Seru Rey.


“Iya?” Tentu Edi menyahut.


“Saya rasa…” Edi menoleh dan menungu kalimat menggantung Rey barusan


“Saya akan ambil beasiswa tersebut” Katanya dengan mantap.


Edi mengangguk bangga dengan senyum.


“Bagus, Om akan bantu biaya keseharian kamu disana, dan mohon untuk tidak ditolak” Kata Edi.

__ADS_1


Rey menggeleng “Terima kasih banyak sebelumnya, tapi di Jerman ini kesehariannya pun juga ditanggung, jadi disana akan lebih banyak praktek dan sambil kerja juga hitungannya, itu akan digaji rata semua nya dan sudah cukup untuk memenuhi sehari – hari disana, apalagi saya difasilitasi termasuk asrama dan makan, jadi InsyaAllah akan aman” Kata Rey menjelaskan.


“MasyaAllah. Semoga semuanya lancar ya” Ucap Edi.


“Aamiinnn. Terima Kasih banyak Om”


“Untuk?” Tanya Edi.


“Semuanya.” Rey menjawab singkat mulanya kemudian Kembali bicara setelah beberapa detik terdiam.


“Untuk pertolongannya ke Ibu saya, Untuk merawat Ibu saya, Untuk peduli kepada saya. Untuk nasehat Om hari ini, jujur itu menyadarkan saya bahwa saya gak boleh berhenti disini. Terima Kasih untuk semua kebaikan Om. Saya yakin almarhum kakak Om bangga karna adiknya sudah berhasil menjadi dokter, bahkan tidak hanya profesi Om saja yang mulia, tapi Om pun juga menjadi orang yang sangat mulia”


Edi tersenyum. Tangan kanannya terangkat dan menepuk pelan bahu Rey.


“Kamu anak yang baik Rey, semoga semangat kamu gak pernah padam sampai kapanpun”


“Kalau begitu saya permisi dulu dan akan mulai mempersiapkan semuanya dari sekarang” Ucap Rey seraya berdiri dan disusul oleh Edi.


“Semoga yang kamu cita cita kan berhasil ya” Kata Edi diakhiri dengan uluran tangan kanannya kepada Rey.


Rey menyambutnya dengan baik.


“Aaminn Om, mohon do’anya dan sekali lagi Terima Kasih untuk semuanya” Entah sudah berapa kali Rey mengatakan Terima Kasih, karna memang rasa itu sangat besar ia rasakan pada orang di hadapannya ini.

__ADS_1


“Pasti. Kamu baik – baik disana, jangan sungkan sedikitpun untuk bilang ke saya kalau kamu perlu sesuatu. Saya juga keluarga kamu sekarang, kamu gak sendiri. Ingat itu!” Kata Edi menegaskan.


Rey tergelak kecil sedikit. “Iya Om. Terima Kasih” Jawabnya kemudian


Edi menghela nafasnya mulai lelah “Jangan Terima Kasih terus, bosen saya dengarnya”


Rey Kembali tergelak dan lebih keras kali ini, ia pun mengangguk mengiyakan Edi.


“Kalau gitu saya permisi pulang dulu sekarang ya Om” Pamit Rey.


“Iya hati – hati. Saya tunggu kamu di Indonesia dan jadi dokter yang lebih hebat dari saya ya Dokter Reyhan” Ucap Edi menggoda sekaligus jadi do’anya juga karna memang itu juga yang Edi harapkan untuk Rey.


“Om bisa aja. Saya akan berusaha yang terbaik” Melepas jabatan tangan mereka lalu Rey pun mengucap salam sebelum benar – benar meninggalkan ruangan Edi.


“Assalamu’alaikum” Kata Rey


Wa’alaikumsalam. Jawab Edi dan Luna bersamaan.


Ehh? Rey dan Edi menoleh ke meja kerja Edi yang terdapat Luna duduk disana. Mereka sampai lupa jika masih ada Luna di ruangan itu, dari tadi hanya diam tapi tiba- tiba suaranya ikut menjawab salam. Bikin kaget Edi dan Rey saja.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺


__ADS_2