Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 117


__ADS_3

Tidak! Edi tidak ingin menatap mata Luna. Air mata gadis itu masih menjadi kelemahan dalam dirinya. Situasi yang mulai cair meski masih Edi batasi dengan tembok tak kasat mata yang tinggi. Meneguk sisa kopi yang sudah tidak terlalu panas di tangannya hingga habis. Edi menyeka bibirnya menggunakan punggung tangannya.


"Tidur, udah malam" Katanya datar setelah berdiri dan melangkah pergi menuju kamarnya. Luna tidak menjawab, sekedar mengangguk atau menggeleng pun tidak untuk merespon, ia juga tidak menahan Edi. Setelah bunyi pintu kamar Ayahnya terdengar ditutup dari dalam Luna tanpa sadar menarik sudut bibirnya. Entah kenapa ia menganggap respon Edi tadi adalah jawaban yang mengatakan "iya".


 


Meski secara perlahan dan bertahap Luna diterima kembali. Namun, kecanggungan di rumah itu masih mendominasi, terlebih Yana yang bisa dibilang merupakan satu-satunya penengah dari keretakan antara orang tua dan kakaknya itu sudah tidak tinggal disana lagi. Mengingat waktu 7 tahun itu bukanlah waktu yang sebentar untuk mengembalikan sesuatu yang sempat hilang. Interaksi antara Edi, Lia, dan Luna terbilang masih sama, tetap adu bisu serta acuh. Yang berbeda hanya Luna sudah bebas makan makanan yang ada di rumah meski belum bisa semeja bersama orang tuanya. Kehadiran Luna pun tidak diasingkan seperti dulu, dimana untuk menampakkan wajahnya saja ia tidak punya keberanian. Tapi sekarang Luna sudah dengan leluasa kemanapun di setiap sudut rumah itu. Sesekali berpapasan dengan Lia dan Edi tapi tidak ada tegur sapa dan selebihnya. Sulit memang.


"Ini mas" Lia meletekkan secangkir kopi dengan asap yang masih mengepul ke atas meja tepat di hadapan sisi kanan Edi.


"Mas" Lia menyapa lagi disertai senggolan kecil di bahu suaminya. Mengerjap kaku, Edi menoleh dengan raut wajah yang sudah dinetralkan cepat seperti biasa.


"Kamu melamun?" Tanya Lia menyoroti dalam.

__ADS_1


"Gak" Edi menjawab singkat kemudian langsung meniup kopi buatan Lia dengan buru-buru lalu meneguknya cepat.


"Tumben pagi banget?" Samar-samar Lia dan Edi mendengar suara bi Narti (Asisten Rumah Tangga) yang mendekat dari arah kamar Luna.


"Pagi apanya sih bi jam set 8 gini" "Yah kan biasanya juga nulis dirumah"


"Hari ini ada tanda tangan kontrak sama penerbitnya bi, do'ain Luna ya"


"Pasti dong, do'a bibi selalu buat non. Jangan lupa makan ya nanti" Luna mengangguk senang. Percakapan terakhir itu pun pas sekali sampai di depan meja makan. Lia yang melihat itu merasa iri. Sebagai Ibu ia tidak bisa memberikan perhatian untuk Luna. Malah asisten rumah tangga yang menggantikannya.


"Bunda Ayah, Luna berangkat dulu ya, Assala-"


"Sarapan dulu disini" Edi memotong salam Luna seraya berdiri dan menenggak air putih sebentar.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" Ia pun bersalam sebelum pergi tanpa menoleh. Ketiga orang disana terpaku di tempatnya sampai sosok Edi tak lagi terlihat. Mengalihkan pandangannya pada bi Narti di belakangnya, Luna melihat bi Narti yang tersenyum haru kepadanya, begitupun Luna. Namun senyum itu ia turunkan seraya menoleh pada Lia yang juga sedang menatapnya canggung.


"Hm Luna biar makan di luar aja" Luna merasa tak enak hati begitu matanya bertemu dengan mata Lia.


"Duduk Lun" Lia menyahut seraya tangannya mengganti piring di tempat Edi dengan piring baru, tak lupa ia isi juga dengan nasi goreng dan ayam goreng tepung serta beberapa irisan timun segar yang sudah tersaji. Luna mendekat dan duduk dengan gerakan kaku. Merasa mimpi, ia tidak pernah menyangka Lia akan melayaninya lagi di meja makan ini seperti dulu.


Tak ada pembicaraan antara keduanya. Luna menyendok nasi goreng sajian Bundanya dengan bibir bergetar ditambah hidung dan matanya yang sedikit memerah karna menahan air mata haru. Tapi semakin lama kaca bening dari pelupuk matanya itu tak lagi dapat terbendung hingga akhirnya lolos begitu saja di pipi mulusnya yang dengan cepat ia seka. Lia menyadari itu. Mendadak khawatir ia lalu bertanya.


"Kenapa?” Luna menggeleng, tangisnya seperti tak mau berhenti tapi anehnya Luna malah tampak tersenyum bersama tangannya itu terus menghapus air matanya.


"Luna cuma bahagia aja" Kalimat itu Luna lontarkan dengan bergetar. Ada banyak segala macam emosi yang menggebu di dadanya penuh haru. Lia mencelos. Sakit sekali melihat Luna dengan alasan sederhananya mengungkapkan kebahagian hanya dari hal kecil seperti ini. Begitu menderitanyakah putrinya itu selama ini?. Lia menoleh ke lain, tidak ingin terlihat ikut larut dalam air mata Luna. Ia membiarkan putri pertamanya itu menghabiskan sarapannya. Sesekali ia tersenyum dengan sembunyi-sembunyi melihat lahapnya Luna. Setelah suapan terakhir masuk ke mulutnya, Luna dengan cepat menyambar air putih yang sudah disiapkan oleh Lia tadi di sela makannya.


"Kalau gitu Luna berangkat sekarang ya, takutnya telat Bun, Assalamu'alaikum" Pamitnya dengan terburu-buru dan tak lupa menyambar tangan sang Bunda untuk menciumnya sebelum berangkat. Lia hanya terbawa oleh gerakan cepat Luna, kemudian menghangat saat Luna mencium tangannya lagi setelah bertahun-tahun.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, semoga berhasil" Lia menjawab salam Luna. Tak lupa disisipi sepotong kalimat penyemangat namun tetap dengan nada datar dan tanpa menoleh.


"Pasti Bun, makasih ya. Luna berangkat" Balasnya dengan tersenyum dan keluar dengan jalan cepat. Pagi ini akan ia lalui dengan penuh semangat. Menunggu beberapa menit di depan pagar, akhirnya taksi online yang ia pesan pun tiba. Luna langsung menyambar pintunya dan masuk. Setelah taksi itu jalan, dari jarak yang cukup jauh sebuah mobil juga tampak menjalankan mobilnya pelan mengikuti Luna dengan jarak yang dibatasi agar tidak ketahuan.


__ADS_2