
Halo semuanyaa
Udah 3 hari nihh gak ketemuuu
Jadi kangen sama Luna dan tokoh lain
Dan tentu sama para pembaca aku jugaa
Ada salah satu pembaca yang DM aku, dia ngira ini udah tamat
Padahal belum kok, yaa paling masih 5 atau 6 part lagi lahh
Okee sekarang kita langsung aja ke ceritanyaa yaa
Selamat membaca 😊😊😊
.
.
.
Suasana sarapan di meja makan pagi ini mendadak terasa mencekam bagi Nia juga Arief. Setelah kepergian Juan yang entah kemana tadi, Nia dan Arief hanya saling melempar bisu.
Arief tampak sesekali melirik canggung pada Nia di sela-sela makannya. Hal itu diketahui dan disadari oleh Nia. Ia mulai merasa tidak enak. Juga terganggu.
“Kamu makan aja. Aku mau masuk”
Katanya dingin dengan suara yang terdengar sangat nyaring. Mungkin karna sebelumnya hanya ada keheningan disana. Jadi begitu timbul suara akan terdengar sangat keras.
“Maaf”
Arief menyahut lirih tepat setelah Nia bersuara. Membuat Ibu dari anak laki-lakinya itu terasa lumpuh di kursinya dengan menegang.
“Bertahun-tahun aku hidup dengan rasa bersalah yang sangat menyiksa. Tapi aku tau, semua itu gak akan pernah cukup untuk membayar kesalahan aku dan juga sakit hati kamu”
Tambah Arief. Ia menjelaskan itu dengan lambat karena nafasnya yang terasa habis di tengah kalimatnya akibat sesak di dada setiap mengingat kesalahannya di masa lalu. Kesalahan yang telah menghancurkan keluarganya bahkan keluarga Lia dan Edi. Dan parahnya semua juga berimbas pada anak-anak mereka.
Nia mendengarkan tanpa menoleh. Matanya hanya lurus ke arah lain dengan kerutan dahi yang dalam. Helaan nafasnya pun beberapa kali terdengar dilepas dengan berat. Ucapan Arief barusan pun ikut membawa ingatan Nia ke masa lalu.
“Aku akan belajar mencintai kamu Nia”
Kata Arief seminggu setelah mereka menikah karena perminta mendiang Ayah Arief. Nia hanya menjawab itu dengan anggukan dan senyum lembutnya. Kala itu ia masihlah gadis polos dan penurut berusia 19 tahun yang kedua orang tuanya jodohkan dengan pria sederhana seperti Arief.
Hari-hari pernikahan mereka berlalu dengan baik layaknya pernikahan bahagia lainnya. Nia adalah seorang istri yang baik juga tulus. Arief tidak memungkiri itu, sampai detik ini tidak ada satu kesalahan atau keburukanpun yang Arief dapat dari Lia sebagai seorang wanita, bahkan seorang istri, terlepas dari usianya yang masih belia, maka dari itu pun dia juga berusaha menjadi suami yang baik, meski dalam hatinya ia merasakan kejenuhan. Apalagi hatinya yang belum juga bisa melupakan mantan kekasihnya, semakin menyiksa Arief saja.
“Aku berangkat dulu ya”
__ADS_1
Pamit Arief setelah menelan tegukan terakhir kopi buatan Nia.
“Iya mas”
Jawab Nia seraya mengulurkan tangannya. Arief menyambut itu dengan baik. Sudah menjadi kebiasan baik mereka setiap Arief akan berangkat kerja setiap pagi.
Mengendarai sepeda motornya, Arief menyusuri jalanan kota Jakarta. Entah fokusnya yang sedang terganggu atau orang lain yang tidak hati-hati. Di luar kendalinya, motor Arief menyerempet seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari sebuah gang kecil. Arief pun buru-buru turun dengan cemas. Rambut panjang gadis itu terurai menutup bagian wajahnya. Gadis tersebut terdengar meringis menyentuh kakinya yang terluka.
“Mbak maaf saya gak lihat. Mari mbak saya bantu”
Ringisan gadis tersebut terdengar berhenti seiring suara Arief yang sedang panik dan menawarkan bantuan. Kepalanya pun dengan cepat mendongak dan mengibas rambut panjang miliknya, membuat wajahnya kini terpampang jelas di mata Arief.
Badan Arief yang mulanya sedikit membungkuk, sekarang berangsur menegak secara perlahan dengan mata membulat. Begitupun gadis yang sedang terduduk di tanah itu. Matanya juga sama membulatnya memandang Arief.
* * *
Di sebuah restoran kecil, mereka duduk saling berhadapan dalam diam. Setelah tadi Arief membeli obat antiseptik, plester dan alat P3K lainnya yang mungkin dibutuhkan.
Gadis yang duduk di hadapan Arief itu menurunkan pandangannya pada tangan kanan dan kiri Arief yang terlipat di atas meja. Bisa ia lihat ada cincin berwarna silver yang melingkar di jari manisnya.
“Kamu udah nikah?”
Suara gadis tersebut menarik kepala Arief untuk balik memandangnya. Dengan salah tingkah ia mencoba menjawab setelah melirik tangan kanannya dan berpikir benda kecil bulat inilah penyebab adanya pertanyaan barusan.
“Ehmm.. I-iya”
Dapat Arief lihat kepala gadis di depannya mengangguk.
Tanyanya lagi.
“3 bulan setelah kamu menikah”
Kepalanya tampak mengangguk lagi.
“Berarti udah 3 bulan ya sekarang”
Kali ini Arief yang mengangguk. Setelahnya keheningan kembali mengambil alih.
“Kamu bahagia Lia?”
Tanya Arief pada gadis yang ternyata adalah Lia, memecah keheningan antara mereka. Lia tercekat, bibirnya masih terkatup namun Arief membaca bahwa ada banyak kata yang disimpan Lia di matanya.
“Kenapa kamu diam?”
Arief bertanya lagi. Lia seakan tersadar dari lamunannya, matanya dengan gelisah menatap kesana kemari.
“Aku mau pulang, selamat untuk pernikahan kamu”
__ADS_1
Ucap Lia mengalihkan. Tubuhnya sudah berdiri, namun baru juga akan melangkah, tangannya sudah ditahan oleh Arief.
“Lihat kamu yang menghindar gini apa bisa aku artikan bahwa jawabannya kamu gak bahagia”
Sedetik kemudian, Lia menyentak tangannya namun pautan tangan Arief tidak juga terlepas.
“Lepas mas! Kita itu udah gak ada hubungan apa-apa lagi”
Dapat terdengar suara Lia yang mulai meninggi tidak suka. Arief melepas tangan Lia, tapi tubuhnya jsutru mendekat.
“Berarti benar kamu gak bahagia”
Kata Arief lagi.
“Aku bahagia. Udah kan? Sekarang aku pergi dulu”
Lia melirik dengan gemas, karena tangannya sudah ditahan lagi.
“Tapi yang aku lihat gak begitu”
Ucap Arief lirih. Dengan jarak sedekat ini membuat Lia bisa merasakan deru nafas Arief yang hangat.
Ohh tidak! Jika sudah begini Lia jadi lemah. Tatapannya, sentuhannya, wajahnya dan semuanya yang ada pada Arief sangatlah Lia rindukan selama 6 bulan ini. Melihat mata Lia yang mulai berkaca-kaca, Arief menaikkan tangannya ke bahu Lia.
“Apa… Kamu masih cinta sama aku?”
Tanya Arief dengan ragu-ragu. Mereka saling menatap dalam.
“Aku masih mencintai kamu Lia. Sangat, semakin aku berusaha melupakan kamu. Aku justru makin terikat lebih erat dengan cinta ini”
Kejujuran itu meruntuhkan pertahanan Lia. Astaga! Salahkah jika Lia ingin jujur kalau dirinya pun merasakan hal yang sama?
.
.
.
Hmmm gimana guys salah gak menurut kalian???
Berapa hari sih aku gak update?
Kira-kira ada yang nungguin gak ya hihi 😆
By the way itu udah masuk part penjelasan masa lalunya Lia, Edi, Arief, dan Nia yaa
Dari sini mungkin udah ketebak lahh yaa kenapa Ayah Edi ngamuk bangett 😂
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dengan poin, dan rating bintang limanya yaa setelah membaca
Makasihhh 😘😘😘