Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 7


__ADS_3

Dengan wajah sedikit kesal Luna tetap berjalan menuju restoran tempat ia bekerja, kemudian karena semakin kesal ia mengentikan langkahnya dengan hentakan keras dan membalikkan badan.


“Ck.Kalian lagi ngapain sih!” Tanyanya heran.


Ternyata Juan, Vani, dan Dira menguntitnya sejak tadi hingga ke coffee shop seperti anak ayam.


“Mau nemenin loe kerja” Jawab Vani dengan wajah yang dibuat senyum imut.


“Buat apa? Yang ada nanti kalian bosen, 6 jam loh gue kerja. Udahlah pulang aja, capek juga kan pasti” Larang Luna.


“Gak…. Buat gue gak ada kata capek atau bosen kalo lagi nemenin sahabat tersayang gue” Balas Vani dengan wajah bangga.


KURANG LEBIH 2 JAM KEMUDIAN


“Ya Allah, bosen banget planga plongo bego disini, pegel lagi pantat gue duduk mulu” keluhan yang sedang Vani lontarkan terdengar sangat kontras dengan ucapannya dua jam yang lalu.


“Buat gue, gak ada kata capek atau bosen kalo lagi nemenin sahabat tersayang gue. Cih” Ledek Dira mengulang kembali ucapan Vani yang tadi.


Vani yang disindir hanya menyengir.


“Ngapain kek gitu, loe bedua jangan kayak kanebo kering gitu dong. Kan gue tambah bosen, main kek, atau cerita apa kek gitu” Kata Vani merengek.


Dira tampak sedikit berpikir dengan wajah datarnya yang sebelas dua belas dengan Juan.


“Ceritain gimana loe bisa jadian sama Luna aja deh wan. Gue belum pernah denger full story nya nih” Pinta Dira pada Juan. Wajar saja Dira tidak tau, Dira bertemu dengan Luna dan Vani saat SMA, sedangkan pertemuan pertama Luna dan Juan adalah di masa SMP. Dan Vani adalah sahabat Luna sejak TK.


“Nah seru nih” Sahut Vani mulai semangat.


“Yakin?” Juan bertanya memastikan kepada Dira yang dijawab langsung dengan anggukan.


“Yakinlah, kenapa emangnya?” Vani menyahut dengan cepat.


“Gapapa, takut loe berdua ngerasa miris aja. Kan loe berdua jomblo akut sampai sekarang. Apalagi elo” Jelas Juan dengan menggerakan dagunya ke arah Vani di saat kalimat terakhir.


Untuk beberapa detik, Vani hanya terdiam sebentar dengan wajah shock.

__ADS_1


“Loe itu udah jarang ngomong. Sekalinya ngomong bisa gak sedikit berakhlak” Ujar Vani dengan menekan setiap suku kata ucapanyya menahan kesal.


FLASHBACK ON


Tringgg Tringgg Tringgg!!!


Lonceng sekolah sudah terdengar di sepanjang koridor dan setiap sudut sekolah. Para siswa sisiwa SMP Pelita tampak sudah berhamburan tidak teratur menuju gerbang sekolah. Ya, waktu pulang sudah tiba.


Luna bersama dengan Vani juga sudah berada di balik gerbang sekolah.


“Eh udah dateng aja jemputan gue, tumben” Kata Vani heran.


“Yaudah loe duluan aja”


“Oke. Duluan ya Lun” Vani akhirnya pamit dengan tak lupa melambaikan tangan kanan perpisahannya pada Luna. Setelah mobil jemputan Vani meninggalkan area sekolah, Luna mendengar dering telepon dari HP nya.


“Halo Ayah, Luna udah pulang nih, Ayah masih jauh?” Tanya Luna dari balik telepon yang ia angkat barusan.


“Sayang, maaf Ayah masih ada pasien satu lagi. Kamu tunggu sebentar lagi gapapa ya? Bunda juga tadi katanya masih ada kerjaan yang gak bisa ditinggal”


“Ohh yaudah gagapa kok Yah, Luna tunggu di taman sekolah aja dulu kalo gitu” Sahut Luna mencoba mengerti dengan kesibukan Ayahnya.


“Iya Yah, Wa’alaikumsalam”


Setelah mengakhiri telepon tersebut. Luna lalu berbalik dan berjalan menuju taman sekolahnya. Selang 15 menit kemudian Luna duduk santai di taman tersebut, tiba – tiba ia di kejutkan dengan suara keras di dekatnya.


Brakk!!!


“Ehh!” Spontan Luna yang tersentak kaget mendengar suara jatuh yang cukup keras dari arah parkir sepeda yang berada di belakang taman.


Rasa penasarannya pun membuat Luna beranjak untuk mencari tau hingga tampaklah di matanya seorang anak laki – laki yang terduduk di tanah sedang kewalahan mengangkat tangga besi dengan sebelah tangannya yang menimpa tubuhnya. Perhatian Luna mulai tersorot pada tangan sebelahnya lagi, terlihat anak laki – laki itu memeluk seekor anak kucing. Luna pun lantas lari mendekat dan membantu.


“Makasih” Ucap anak laki – laki yang baru saja Luna tolong itu dengan wajah yang dipasang raut datar kemudian dengan santainya berjalan pergi melewati tubuh Luna.


“Eh Juan. Loe tuh gak tau terima kasih banget ya” Perkataan Luna cukup membuat laki – laki yang Luna panggil dengan nama Juan tadi berbalik setelah menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Gue udah bilang makasih tadi btw” Masih dengan raut wajah yang sama.


Luna masih terdiam dan bingung ingin menjawab apa. Oke Luna harusnya gak usah kaget dengan sikap dingin laki – laki bernama Juan ini. ternyata kebetulan juga Juan adalah teman sekelas Luna yang memang dikenal cukup cuek , dingin, dan tidak banyak bicara dan Iya benar dia udah bilang makasih, tapi caranya itu loh…


Selama 30 detik melihat Luna yang hanya diam tanpa menjawab, Juan akhirnya memilih pergi lagi saja. Selang beberapa waktu Luna menyusul keluar dari area parkir.


Dan kesalnya, Juan malah duduk di bangku taman yang tadi ia duduki sebelumnya.


“Ngapain ngikutin gue” Tanya Juan yang melihat Luna berada di dekatnya.


“Dih, gue kali yang tadi duluan disini. Tuh! Tas gue aja masih disini” Kata Luna tak mau kalah sambil menunjuk tas merah miliknya yang memang masih ada di samping bangku taman yang Juan duduki.


Tidak berniat menjawab. Juan lantas hanya diam dan mendudukkan anak kucing yang sejak tadi ia peluk ke atas bangku taman lain yang ada di dekatnya secara berhadapan. Mencoba membersihkan luka di kaki anak kucing tersebut menggunakan sisa air minum dari botol miliknya.


Menyadari anak kucing itu terluka, Luna dengan sigap menarik tasnya yang berada di dekat Juan lalu mengeluarkan kotak pensil. Membukanya kemudian mengeluarkan gunting, perban, dan obat antiseptic.


“Pake ini aja. Duhh kasian banget anak kucingnya. Loe apain nih kucing” Luna dengan tatapan mengintimidasi bertanya dengan nada kesal dan curiga.


“Asal nuduh loe. Gue justru yang nolongin nih kucing tadi nyangkut diranting pohon gak bisa turun. Ehh malah gue yang jatoh, ketimpa tangga lagi” Juan menjelaskan dengan nada kesal.


“Ohhh hehe kirain. Ya maaf kalo begitu” Luna hanya menyengir kemudian kembali bersuara.


“Ehh tapi salut deh. Cowok kayak loe bisa peduli juga ama kucing”


“Cowok kayak gimana maksud loe” Tanya Juan heran.


“Ya kayak gini. Manusia berdarah dingin” Luna menjawab sambil menunjuk Juan.


“Cuek bukan berarti gue gak punya hati” Tukas Juan masih dengan wajah datarnya (Tapi ganteng kok. Manis juga hehe)


.


.


.

__ADS_1


Jadi ginii awal pertemuan Luna dan Juan


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺


__ADS_2