Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 127


__ADS_3

Meski tidak tidur dengan cukup dan baik tapi subuh hari ini Luna tetap bisa melaksanakan salat subuhnya dengan tepat waktu. Tentu bersama Yana. Beda hal nya dengan Yana yang memilih untuk langsung tidur setelah salat, Luna malah keluar kamar berencana untuk membuat sarapan. Begitu keluar ternyata Rey sudah lebih dulu ada di dapur dengan masih mengenakan baju kokonya.


"Ehmm" Luna berdehem untuk menyadarkan Rey akan keberadaan dirinya disana. Tentu Rey pun menoleh mendengarnya.


"Ehh Luna. Ada apa? Butuh sesuatu?" Tanyanya sambil meletakkan pisaunya kembali.


"Saya rencananya mau bikin sarapan untuk kita bertiga" Jawabnya dengan kikuk.


"Ohh gapapa kok, ini saya mau masak. Kamu kalau mau istirahat lagi sama Yana silahkan, mungkin kamu masih lelah" Luna menggeleng.


"Nggak, saya udah lebih baik. Lagi pula tidur saya nyenyak banget semalam" Kata Luna berbohong.


"Hmm soal Yana, maaf ya kalo dia memang belum bisa masak dan kelihatan seperti malas. Padahal sebenarnya dia rajin kok, hanya aja semenjak hamil dia memang mudah lelah dan suka tidur" Rey tampak menganggapi dengan kekehan kecil.


"Kamu gak usah khawatir, saya ngerti itu kok" Katanya kemudian.


"Biar saya aja mas yang masak" Ucap Luna kembali menawarkan jasa memasaknya.


"Gak usah biar saya aja. Kamu kan tamu. Masa masakin tuan rumah sih" Tolak Rey lagi.


"Gapapa kok. Biar saya ada kegiatan, jadinya gak kepikiran ini dan itu" Wahh. Dalam hal ini Luna dan Yana sangatlah mirip. Pandangan Rey berubah menjadi iba setelahnya. Ia tau yang Luna maksud adalah sedang mencoba melupakan kejadian semalam.


"Mas, kok diem sih. Boleh yaa, saya tuh kakak ipar Mas jadi iyain aja" Ucap Luna menggoda Rey dengan jenaka. Rey pun menyambutnya dengan gelak tawa kecil.

__ADS_1


"Yaudah, saya bantuin ya" Luna menggeleng.


"Biar saya sendiri aja gapapa. Meski gak jago banget masak tapi yaa masakan saya bisa sedikit diterima lah" Sahut Luna sambil membolak-balikkan tangannya menimbang-nimbang dalam mengkritik masakannya sendiri. Rey pun pasrah dan menjauh dari dapurnya menuju meja makan. Disana ia memperhatikan Luna yang cekatan dalam memotong sayuran, sosis, bawang dan segala bahan-bahan yang akan dia buat. Namun tiba-tiba ia berhenti, membuat Rey yang mulanya sedang senyum-senyum sendiri menonton pertunjukan memasak Luna jadi datar.


"Kenapa?" Tanya Rey saat Luna mulai berbalik dengan masih memegang pisau di tangan kanannya.


"Mas suka nasi goreng gak? Saya lupa nanya. Kalau Yana itu suka banget sama nasi goreng "


"Ohhh suka kok. Saya gak cerewet kalau soal makanan" Jawab Rey. Setelahnya Luna kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda barusan. Beberapa saat kemudian, nasi goreng ala Luna pun siap. Ia menyajikannya di atas meja bersama irisan timun segar dan 3 butir telur mata sapi.


"Alhamdulillah udah jadi" Kata Luna setelah meletakkan sajian terakhir di atas meja.


"Cepat juga kamu masak" Puji Rey dengan memandang satu persatu masakan yang Luna hidangkan ke hadapannya.


"Loh mana Yana?" Tanya Rey karena melihat Luna keluar sendirian.


"Nyebelin tuh anak. Katanya lagi gak pengen nasi goreng. Dia suruh kita makan duluan aja, dia mau mandi dulu katanya" Sahut Luna kesal sambil berjalan menuju meja makan. Rey pun terkekeh mendengarnya.


"Selama tinggal dengan Yana saya cukup ngerti dengan mood makan dia yang sering berubah, jadi saya udah terbiasa. Ya maklumi aja, mungkin itu bawaan hamil. Dia pun pasti tersiksa juga sama mood dia sendiri" Luna yang baru saja duduk tersenyum mendengar penuturan Rey yang begitu menyentuhnya. Rey terlihat sangat sabar dan pengertian. Ayahnya memang tidak salah sudah memercayai Rey.


"Makasih ya Mas" Kata Luna tulus.


"Untuk?"

__ADS_1


"Udah jadi suami yang baik sekali untuk Yana. Saya sangat bersyukur untuk itu dan Yana beruntung punya Mas" Entah kenapa Rey mendadak teringat akan rasa bersalahnya atas kejadian semalam.


"Maaf ya" Loh? Luna menyerngit.


"Untuk?" Kali ini Luna yang terheran.


"Untuk semalam. Kalau saja saya gak bawa Om Arief kesana mungkin kejadian semalam gak akan pernah terjadi" Ucap Rey menyesal.


"Gapapa kok Mas, lagipula it-" Ehh. Tunggu. Mendadak Luna menyadari sesuatu. Benar! Tadi malam Luna terlalu hanyut dalam perasaan shock dan sedihnya karena Edi, sampai-sampai ia lupa hal penting bahwa Rey adalah orang yang datang bersama pria yang ia ketahik adalah Ayah Juan itu. Berarti besar kemungkinan Rey mengetahui sesuatu. Astagaa... Kenapa Luna baru sadar sekarang. Buru-buru iya mengganti perkataannya yang terhenti tadi.


"Mas tau sesuatu?" Tanya Luna dengan sorot mata dalam. Rey sampai memundurkan tubuhnya di kursi itu. Ia kembali gelagapan jika sudah ditanya tentang hal itu.


"Mas tolong jawab mas" Luna mulai mendesak Rey.


"Kalau Mas memang tau sesuatu tolong kasi tau saya. 7 tahun... 7 tahun saya mencari tau ada apa sebenarnya. Apa salah saya, jadi tolong sekali, tolong.. " Kali ini mata Luna berkaca-kaca penuh harap seperti ikut bicara dan memohon. Rey memejamkan matanya dengan tarikan nafas dalam.


"Itu Papa Juan kan?" Luna bersuara lagi.


"Kenapa Ayah kelihatan benci banget sama Papa Juan? Dan apa hubungannya itu dengan Luna?"


"Mas jawab mas. Saya yakin mas tau sesuatu " Kata Luna lagi karena melihat Rey yang tak kunjung menjawab dan menghindari matanya. Luna yang gemas akhirnya bangkir lalu berlutut.


"Mass tolong kasi tau Luna" Katanya di hadapan Rey sambil menunduk juga. Rey pun tersentak dan langsung meraih kedua bahu Luna untuk diajak berdiri dan duduk di kursinya kembali.

__ADS_1


"Baik. Tapi kamu tenang dulu" Rey akhirnya mencoba menjelaskan dengan sangat hati-hati. Itupun hanya poin penting yang ia tau saja karena memang baru sedikit info yang ia dapat dari Arief. Mengingat pertemuan mereka tidak berjalan mulus semalam membuat mereka gagal melanjutkan pembicaraan mereka yang terputus kemarin siang. Setiap kata yang Rey sampaikan membuat Luna menganga dan matanya membulat tidak percaya. Air matanya pun lolos begitu saja. Jantungnya seperti berdentam lemah dan semakin tidak teratur.


__ADS_2