
Nihhh aku update lagiii
Suka gakk??
Kalo iya ayo dong tekan like nyaa dan aku pengen kalian sapa para tokoh di kolom komentarr
Aku tunggu pake bangett 😁😁😁
Selamat membaca 😊
.
.
.
Hari ini, Arief sudah boleh pulang. Sesampainya di rumah bersama istrinya, Nia. Arief melihat sekeliling rumah yang ia sadari sedikit berbeda. Setiap sudut rumah sudah dihias dengan lebih banyak bunga dari biasanya.
“Selamat pulang kerumah”
Ucap Nia menyadari Arief yang sedang sibuk memperhatikan sekeliling rumahnya.
“Ohh jadi ini yang kamu lakuin tadi pagi sampe lama banget dan rela bolak-balik rumah dan Rumah Sakit?”
Tanya Arief sambil tersenyum yang dijawab dengan anggukan ceria oleh Nia.
“Sekarang ikut aku”
Ajak Nia yang masih merangkul lengan Arief dan menuntunnya menuju ruang makan. Disana sudah tersusun indah karangan bunga besar dengan wadah lilin yang cantik. Taplak meja yang berbeda dari biasanya, begitupun dengan alat makannya.
“Ayo duduk mas”
Nia mempersilahkan Arief yang tampak masih terpaku di tempatnya melihat meja makan yang sudah disiapkan oleh Nia. Mengerjap kaku, Arief pun duduk menuruti permintaan sang istri. Setelahnya Nia langsung menuju dapur untuk mengambil makanan yang sudah ia siapkan sedemikian rupa pagi tadi ke dalam piring dan ia simpan dalam lemari sebelum akhirnya ia pergi lagi untuk menjemput Arief di Rumah Sakit. Menyajikannya dengan rapi dan semangat. Nia kemudian duduk berhadapan dengan Arief.
“Nah sekarang kita makan ya”
Ucap Nia seraya mengambil piring Arief dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk yang sudah ia siapkan secara spesial.
“Makasih”
Kata Arief yang dibalas dengan senyuman. Mereka makan dalam diam, tanpa ada pembahasan apapun seperti biasanya. Setelah selesai, Nia bangkit dari duduknya menuju kamar dan kembali dengan sebuah kotak kecil berwarna merah hati di tangannya.
“Udah selesai makannya? Enak gak?”
Tanya Nia sesudah ia duduk kembali di kursinya.
“Enak dong. Masakan kamu mana pernah gak enak”
Puji Arief. Dan itu memang jujur.
__ADS_1
“Itu apa?”
Tambah Arief yang mulai penasaran dengan kotak di tangan Nia.
“Ini hadiah buat kamu. Nih, semoga suka ya"
Jawab Nia kemudian menggeser benda itu ke dekat Arief.
“Ini ada apa sih sebenarnya? Dalam rangka apa?”
Arief bertanya heran.
“Buka aja”
Tangan Arief sudah tergerak untuk membuka tutup kotak tersebut sampai akhirnya kegiatannya itu tertahan oleh Nia yang kembali bersuara.
“Ehh tunggu mas”
Cegah Nia dengan tangannya yang terulur menahan Arief.
“Sore sebelum kamu kecelakaan, kamu bilang sama aku kalau ada yang mau kamu omongin ke aku lewat telepon. Dan itu kedengarannya kayak serius banget. Aku mau kamu ngomong dulu sebelum buka hadiah dari aku”
Dalam sekejap raut wajah Arief tampak gelisah, tangannya pun sudah terlepas dari kotak hadiah Nia.
Apa sekarang waktu yang tepat? Arief berpikir dengan kebingungan yang berkecambuk di kepalanya. Saat ini ia seperti berada dalam dilemma dua sisi yang ada pada dirinya. Sisi yang lain mengatakan ia tidak siap juga tidak sanggup kalau harus melihat Nia terluka. Tapi sisi lainnya lagi mengatakan semua ini harus segera diselesaikan apapun resikonya. Mengulur waktu lebih lama lagi hanya akan membuat luka yang ia ciptakan untuk Nia semakin menumpuk.
“Mas?”
“Kamu mau ngomong apa? Penting banget ya sampe kamu keringat dingin gitu?”
“Emm Nia. Kamu adalah wanita yang baik. Istri yang baik. Sangat baik”
Arief memulainya dengan tarikan nafas berat. Nia yang mendengar itu langsung tersenyum tidak enak.
“Kamu mau ngomong apa sih mas? Jangan bikin aku takut deh”
Balas Nia yang semakin merasa tidak karuan.
“Aku mau kita pisah”
Deg!
Arief mengatakan itu dalam satu tarikan nafas setelah sebelumnya ia tampak menarik nafas begitu dalam. Matanya pun hanya tertutup dan sesekali terbuka untuk melihat ke bawah. Ia seperti tidak ada keberanian untuk memandang Nia di depannya yang sudah diam membeku di tempatnya.
Satu gelak tawa kecil keluar dari bibir Nia.
“Apaan sih mas. Aku gak suka candaan kamu ini, gak lucu”
Percayalah, kalimat itu hanya sebatas pengabur sakit hati Nia. Tentu ia sadar Arief sedang tidak bercanda dengan raut wajah seperti itu apalagi saat ini ia malah bungkam dengan menunduk sayu.
__ADS_1
Nia merasakan perutnya melilit dan dadanya sesak, ia memutar kepalanya ke samping dengan mata yang sudah membendung kaca bening.
“Ada apa? Kita ada masalah apa? Orang… ketiga?”
Nia menanyakannya dengan suara yang tersendat pada kata terakhir.
“Jawab mas!!”
Kali ini suaranya sudah meninggi. Ini kali pertama Nia membentak Arief. Selalunya, ia adalah wanita dengan tutur kata lembut dan baik. Arief sudah mengangkat kepalanya tapi ia belum berani menatap mata Nia yang sudah tampak terluka itu.
“Apa itu bisa disebut orang ketiga? Aku sudah mencintainya jauh sebelum mengenal kamu”
Astaga! Sakit sekali. Bagaimana bisa Arief mengatakan itu di depan Nia. Istrinya. Nia bahkan tidak sanggup untuk bicara lagi. Hingga yang ia lakukan adalah berdiri dan melangkah pergi. Arief dengan cepat menahannya.
“Lepas!”
Nia menyentak kasar.
“Jangan kemana-mana, rumah ini untuk kamu. Kalaupun ada yang harus pergi, biar aku saja”
Ucap Arief setelahnya. Nia tidak perduli, ia tetap ingin pergi. Setidaknya sampai ia tenang. Kali ini Arief tidak menahan. Mungkin Nia memang perlu waktu sendiri.
Sudah 6 jam sejak Nia pergi. Jangan tanya bagaiman Arief sekarang, tentu dia sedang menyelami rasa bersalah yang amat besar karena perbuatannya sendiri. Di samping itu ada kekhawatirannya yang lebih besar tentang keberadaan Nia. Memandang lingkungan luar yang hujan lebat dari balik jendela, Arief masih tiada henti mencoba menghubungi Nia, memastikan bahwa istrinya itu baik-baik saja.
Di tengah kegelisahannya, ingatannya mendadak tertuju pada kegiatannya yang tertunda tadi di meja makan. Kotak hadiah? Entah kenapa Arief jadi merasa ada sesuatu yang penting dalam kotak tersebut. Rasa penasarannya itu pun membawa kakinya kembali melangkah ke meja makan. Di sana, kotak pemberian Nia itu masih belum bergeser. Dengan cepat ia membukanya. Membaca dua surat yang berbeda di dalam kotak tersebut. Satu surat dari Rumah Sakit dan satu lagi surat yang Nia tuliskan secara langsung. Kali ini Arief merasa semakin dihujami oleh ribuang belati tak kasat mata. Air matanya pun tak bisa tertahan dan lolos mengalir begitu saja.
.
.
.
Ihhh apa yaa kira-kira isi kotak dari Nia???
Author penasaran juga nihh
Menurut kalian apa genkss??
Ayo tebak-tebak kan di kolom komentarr hehe
Nahh udah 4 part nih. Wahh beneran crazy up hari ini hihi
Masih mau lagi gak??
Kalau mau ayo dongg ngegass di kolom komentarr
Aku tungguin 😁😁
Setelah itu jangan lupa like, komen, vote dengan poin, dan rating bintang 5 nya yaa setelah membaca
__ADS_1
Makasihhh 😘😘😘