Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 28


__ADS_3

2 JAM SEBELUMNYA


Drrtt drrtt drttt


Luna menoleh pada ponselnya yang entah sudah berapa kali bergetar, Luna tidak berminat untuk bicara dengan siapapun rasanya saat ini. Gadis itu terlihat lesu dan rapuh sambil terduduk lemas di ranjang rawatnya sambil terus melamun


Tringg


Ponsel milik Luna Kembali berdering, namun kali ini bukan dering sebuah telpon melainkan sebuah pesan. Sebelumnya pun tak sedikit Luna sudah menerima pesan dari Juan, Vani, Dira, bahkan sang adik, Yana. Mungkin mereka tengah mengkhawatirkan Luna yang tak ada kabar sejak pagi.


Namun Luna tetap hanya terdiam tak bergerak, hanya matanya yang sesekali berkedip serta dadanya yang naik turun teratur menandakan ia bernafas, matanya sudah sembab karna terus menangis tadi tapi sekarang ingin menangis lagi pun air matanya seolah sudah kering.


Di pikirannya saat ini terus saja berputar bayangan punggung sang Ayah yang sungguh ia rindukan, punggung yang menutup banyak rahasia dari dirinya, pertanyaan demi pertanyaan yang tak bisa ia katakan, punggung yang dulunya hangat untuk ia sentuh dan peluk namun sekarang sangat jauh dan sukar meski hanya untuk dilihat.


Sikap acuh sang Ayah tadi rasanya cukup menampar Luna sekali lagi akan sebuah fakta bahwa ia sepertinya memang sudah tak diharapkan. Tiba – tiba bisikan – bisikan jahat masuk ke dalam otaknya mengatakan bahwa dunia itu tidak adil…


Mengatakan bahwa dunia tidak akan memihak padanya


Mengatakan bahwa kematian adalah jalan keluar

__ADS_1


Mengatakan bahwa lebih baik ia mati saja!


Setelah suara – suara bisikan itu memenuhi kepalanya, Luna kemudian menoleh ke jendela lalu ia menarik selang infus di lengan kirinya tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela. Ia lempar selang infus itu hingga terjatuh ke lantai kemudian kakinya mulai melangkah ke arah jendela, tangan Luna perlahan bergerak membuka jendela dua pintu di hadapannya itu, ia condongkan sedikit kepalanya keluar jendela dan melihat ke bawah. Lalu ia berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar.


Luna berjalan dengan raut wajah yang tidak dapat di artikan, di luar ruangan ia di tegur oleh salah seorang suster jaga


“Mbak, mau kemana? Ada yang bisa saya bantu gak? Mbak perlu sesuatu?” Tanyanya khawatir, apalagi mata Luna terlihat sembab.


“Nggak sus, saya mau cari udaha segar aja sebentar ya. Saya pusing di kamar terus” Jawab Luna lalu langsung berjalan lagi tanpa menunggu jawaban sang suster lagi


“Ta-tapi” Suster tampak ingin mencegah namun Luna sepertinya tetap ingin pergi akhirnya diam saja, toh Cuma sebentar pikirnya. Suster itu pun mencoba berpikir positif dan tak mencegah Luna lagi, ia terus memandang Luna yang semakin menjauh, kening suster sedikit mengerut kala melihat Luna memasuki sebuah lift. Tapi lagi – lagi ia tidak ambil pusing dan Kembali duduk memainkan ponselnya. Di dalam lift, tanpa pikir Panjang Luna langsung menekan tombol lantai paling atas


Entah apa yang Luna pikirkan, tapi disinilah ia sekarang, di ujung lantai semen tanpa pagar dan pemabatas, meleset sedikit saja, tubuh Luna sudah bisa dipastikan berakhir hancur dibawah sana. Hebatnya untuk seseorang yang biasanya sedikit takut akan ketinggian seperti Luna, ia tampak tak ragu apalagi takut sama sekali saat ini. Dengan angin malam dingin yang mengibas seluruh tubuh dan rambutnya, Luna hanya memandang dengan raut wajah frustasi ke arah depan. Dimana suasana jalanan raya kota masih beraktifitas dengan padat, dunia masih terus berjalan seperti biasa tapi Luna rasa dunianya sudah cukup sampai disini.


“AKHHHH!” Luna berteriak lagi dengan suara yang lebih keras dan kali ini disertai tangisannya pecah


“Luna salah apa Yahhh!!!” Teriaknya sambil menangis


“Luna salah apa sama Ayah dan Bunda!” “Kenapa kalian sekarang begini ke Luna!”

__ADS_1


“Dan Engkau dimana ya Allah?” “Bertahun – tahun aku memohon dan minta pertolongan, selalu berharap tanpa henti tapi kenapa pertolongan itu gak pernah datang….”


“Untuk apa aku dilahirkan kalau hanya untuk menderita seumur hidup begini”.


“Bunuhh aja Luna Yah” “Bunuh aja Luna Bun”


“Ambil saja nyawaku ya Allah” “Aku sudah tidak tahan lagi…” ia semakin menangis


“Dosa apa yang sudah aku buat ya Allah”


“Dunia ini gak adil!!!!”


“Gak adil!!!!!!!” Luna berteriak dengan penuh emosi yang meluap


“Mana keadilan untukku ya Allah?! Mana?!!!”


Hikss Hikss


Luna semakin menangis tak terkendali, tangannya berkali – kali memukul dadanya yang terasa tak ada ruang untuk bernafas. Untuk beberapa saat Luna seperti itu, setelah cukup tenang, ia maju sedikit demi sedikit dan melihat ke bawah, tak ada lagi rasa takut terhadap ketinggian menyingkap di hatinya seperti biasa meski hanya sedikit. Mental Luna benar – benar dalam keadaan tidak baik – baik saja saat ini.

__ADS_1


Luna seakan sudah siap terjun, namun masih ada sedikit keraguan yang menghalanginya untuk langsung melompat, Luna bahkan tidak menyadari Namanya sudah berkali – kali di teriaki dari belakang.


Suara itu sudah pasti berasal dari suara dokter Rey yang tengah kalang kabut mencarinya hingga ke atas sana


__ADS_2