
Terkadang untuk menjadi baik-baik aja di tengah masalah bisa kita mulai dengan mengatakan "aku baik-baik aja", semacam do'a yang kemudian hari akan Allah wujudkan.
.
.
.
"Boleh kok" Yes. Yana sontak kegirangan mendengar persetujuan dari mulut Luna. Rey bersyukur, kehadiran Luna memang membawa keceriaan tersendiri untuk Yana. Setelah semalaman penuh dan setengah hari ini bersama Yana, yang ia lihat hanya kilat mata takut dan canggung dari Yana, bahkan bicaranya saja seirit itu.
"Ohh iya kak" Luna menanggapi dengan menaikkan kedua alisnya.
"Udah lama deh gak liat kak Juan, dia masih di Bandung ya?" Luna berubah pias. Entah kenapa secara bersamaan Luna dan Rey saling melirik melalui kaca mobil. Luna merasa seperti Rey tau sesuatu tapi mungkin juga tidak. Memangnya Rey tau apa tentang dia, Ahh Luna tidak terlalu memikirkan itu, tapi lebih kepada mendengar nama Juan lagi membuat moodnya jadi down saja.
"Alhamdulillah udah sampe nihh" Kata Rey mencoba mengalihkan pertanyaan Yana. Gadis itu memutar tubuhnya kembali menghadap depan. Luna menyadari Rey yang beberapa kali melirik dirinya setelah terlontar pertanyaan Yana mengenai Juan.
"Kamu bisa kabari saya kalau sudah selesai. Nanti saya jemput" Yana langsung mengangguk menanggapi. Luna di sampingnya malah terlihat lesu. Dan itu tidak lepas dari pengawasan Rey. Ehh. Tiba-tiba Rey teringat sesuatu. Ia pun merogoh sakunya mengambil sebuah ponsel.
"Oh iya, kita belum tukeran nomor kan, nomor kamu berapa?" Tanyanya sambil menyalakan perangkat telekomunikasi elektronik di tangannya itu.
"Yana gak hafal, ponsel Yana juga mati, nanti mau numpang nge-charge sama kak Vani. Tapi gapapa kak Luna kan punya nomor m-mas" Kata terakhir Yana itu sulit sekali diucapkan dengan lancar, rasanya sangat tidak biasa. Tapi Rey mengerti itu dengan baik. Ngomong-ngomong sebelum berangkat ke rumah sakit tadi Rey menyarankan untuk Yana memanggil dirinya mas dan mendapatkan respon berupa anggukan samar dari Yana.
"Iya kan kak?" Hah? Luna mengerjap kaku. Seakan kesadarannya baru kembali.
"Kakak kenapa?" Yana malah mengalihkan pertanyaannya karena khawatir. Begitupun Rey yang sedang menatap lekat ke arahnya.
__ADS_1
"Gapapa kok, tanya apa tadi?" Berusaha bersikap sebiasa mungkin.
"Kakak punya nomor mas Rey kan, buat minta jemput nanti" Yana bertanya setelah diam sebentar tadi mencoba menerawang mata Luna yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada kok" Jawab Luna cepat. Ehh sebentar? Ada yang aneh. Luna kembali bersuara menoleh pasangan suami istri di depannya ini.
"Kalian berduaan dari kemarin ngapain aja sampe tukeran nomor aja gak bisa?" Tanya Luna tidak habis pikir.
"Ihh gak kepikiran aja, udah ah ayo masuk" Desak Yana agar pembicaraan mereka tidak semakin meluber kemana-mana.
"Kita masuk ya" Yana berpamitan lagi pada Rey yang dibalas anggukan pelan dari suaminya itu. Kemudian mata Rey beralih pada wajah Luna yang kini ikut membalas tatapannya. Untuk sesaat mereka saling melempar pandang sampai akhirnya Luna yang memutus tatapan itu dengan berbalik masuk ke dalam apartemen menjauhi Rey. Dari tempatnya berpijak, Rey masih menatap lekat punggung Luna yang semakin menjauh.
"Ada yang kakak sembunyiin ya?" Luna langsung menghentikan langkahnya yang sudah berada dekat dengan unit apartemen Vani tepat setelah pertanyaan itu tiba-tiba saja terlontar dari bibir Yana. Memposisikan dirinya untuk menghadap Yana, Luna hanya gelagapan dengan tarikan nafas beratnya.
"Kalau diinget-inget itu, disini hanya Yana yang selalu terbuka. Tapi kak Luna nggak, kakak cuma selalu bilang gapapa. Padahal sebenarnya kakak jauh dari itu" Kata Yana sambil menggelengkan kepalanya ringan menyayangkan ketidakterbukaan sang kakak.
"Berarti bener kan ada yang kakak sembunyiin" Baru akan meraup udara untuk menjawab, datang Vani menyapa yang entah kapan datangnya.
"Heiii" Sapaan itu mulanya Vani lontarkan dengan ceria tapi di pengucapan akhirnya malah berubah menjadi intonasi terkejut karena kehadiran dirinya membuat Luna dan Yana tersentak kaget cukup kuat.
"Ihhh kok gitu sih kagetnya. Kan berasa setan tuh gue. Hayuk cus masuk" Huhhh. Bukan merasa terganggu, Luna malah bersyukur dengan kehadiran mendadak Vani, membuat iya ada alasan untuk menghindar dari keinginantahuan Yana.
"Masuk aja yuk" Luna pun menarik tangan Yana yang kini sedang mendengus sebal.
"Aduhh gue gak tau kalo loe mau bawa adek loe juga, jadi gak enak kan gue berantakan gini, sorry yah Yan sibuk soalnya mau beberes" Katanya sambil mempersilakan kedua kakak beradik itu duduk menggunakan isyarat tangannya.
__ADS_1
"Gapapa kok kak, santai aja" Jawab Yana tersenyum. Dari arah dapur menyusullah suara Dira menyindir.
"Emang kalo loe tau Yana bakal kemari loe bakal bersih-bersih?" Kata Dira dengan jelingan mata remeh.
"Yah nggak juga sih" Begitulah jawaban menyebalkan Vani bersama cengirannya.
"Heh ketebak" Dira menjawab jutek. Sedangkan Yana dan Luna hanya menggeleng dan tersenyum tidak heran dengan kelakuan Vani.
"Ehh udah disini aja loe, kirain belum dateng"
"Baru juga kok Lun, 10 menitan sebelum elo lah" Jawab Dira pada Luna.
"Apa kabar Yan?" Sekarang perhatiannya langsung beralih pada keberadaan Yana di samping Luna.
"Alhamdulillah" Kemudian Vani menyela.
"Alhamdulillah pasti baik dong pengantin baru, haduh kalo diinget-inget agak miris yahh, gue yang PDKT tapi yang dinikahin malah Yana, berasa gagal gue jadi cewek" Kata Vani mulai drama.
"Maksudnya?" Tanya Yana heran menatap ke arah Vani dan Dira lalu terakhir pada sang kakak.
"Suami kamu itu incerannya Vani dulu, katanya udah tercatet dari lauhul mahfudz" Luna menjawab sedikit mengejek mengingat kalimat Vani pada saat itu disertai gelak tawa kecil. Yana melotot dan menganga.
"Jangan gitu dong Yan muka loe, berasa jadi pelakor gue secara gak langsung" Kata Vani dengan tampang sedikit tidak terima melihat respon Yana.
"E-ehh bukan gitu kak, cuma gak nyangka aja. A-apa gara-gara Yana kak Vani sama-"
__ADS_1
"Nggak. Gak usah mikir aneh-aneh Yan, hubungan yang berlangsung antara Vani dan Rey itu cuma sebatas kehaluan dia aja" Buru-buru Dira menyekat ucapan Yana yang sepertinya berpikir telah merusak hubungan Yana dan Rey yang sebenarnya tidak pernah ada.