
Reyhan Abyasa atau panggil aja Rey. Sesosok pemuda sebatang kara yang beberapa waktu lalu dipertemukan dengan Edi dan Luna sekaligus menjadi penolong ia dan Ibunya yang kala itu pingsan tak berdaya di tengah derasnya hujan serta segala keterbatasan materi mereka. Namun Edi seolah diturunkan oleh Tuhan menjadi penyelamatnya kala itu, meski sang Ibu pun pada akhirnya tak tertolong juga, tapi jasa Edi akan selalu Rey ingat.
Hari – hari setelah sang Ibu meninggal menjadi hari – hari paling berat dalam hidupnya. Kehidupan seolah menjadi hitam dan putih. Tidak ada keindahan di matanya, tidak ada yang bisa ia nikmati. Kosong dan kelabu, paling bodohnya ia sempat ingin menyusul sang Ibu saja. Syukurlah masih tersisa iman dihatinya untuk menjauhi salah satu dosa besar bernama bunuh diri itu. Rey perlahan bangkit, ia harus sadar bahwa hidup masih berlanjut, Ibunya pun pasti akan sedih jika ia terus begini, Rey mulai bertekad untuk tetap berjalan dan pelan – pelan akan mewarnai hidupnya. Suatu malam ia teringat pesan Edi yang meminta ia menemuinya jika sudah merasa pulih.
Dan disini lah pemuda bernama Rey itu berada. Di sebuah rumah sakit swasta Jakarta, tempat Edi bekerja. Ia sudah berjalan masuk ke kawasan rumah sakit sampai langkahnya tiba – tiba terhenti di taman depan rumah sakit setelah matanya menangkap sosok Luna yang sedang memberi minum pada seekor kucing. Rey tau, Luna memang sering ikut Ayahnya kemari, yang Rey lakukan setelahnya adalah menghampiri Luna
“Assalamu’alaikum” salamnya yang berbunyi dekat dengan posisi Luna. Merasa ada suara yang dekat, Luna mendongak kemudian berdiri. Ia dapati Rey berdiri dengan tersenyum di menatapnya. Luna mengecek lingkungan sekitar. Tidak ada orang yang di sekitar mereka selain mereka berdua. Jadi salam tadi untuk dia begitu? Menyadari hal tersebut barulah Luna menjawab
“Wa’alaikumsalam. Maaf dengan siapa ya?” tanyanya dengan wajah polos.
“Saya Reyhan, kamu lupa sama saya? Yang kemarin kamu dan dan Ayah kamu tolong bawa Ibu saya ke rumah sakit saat hujan deras. Ingat?”
“Ohh astaghfirullah iya anaknya Bu Jihan, maaf ya Luna lupa. Oh iya, Luna juga turut berduka ya soal Bu Jihan, Luna juga sedih, meski baru kenal tapi Luna udah saying sama Bu Jihan, beliau baik banget” Kata Luna yang mulai memasang raut sedih mengingat Bu Jihan.
Rey tersenyum “Makasih, tapi Ibu InsyaAllah udah di tempat terbaik sama Allah. Udah gak sakit lagi, kamu gak perlu sedih dan tolong do’akan Ibu saya juga ya” Tutur Rey dengan tabah.
Luna mengangguk dengan senyum samar.
“Ngomong – ngomong kamu ini pencinta kucing ya?” Rey bertanya, mengingat tadi ia lihat Luna yang dengan telaten memberi minum seekor kucing liar disana.
“Ohh gak juga kok, Cuma kasihan aja ngeliatnya”
Reyhan hanya mengangguk mengerti.
“Oo iya, kebetulan saya kesini mau ketemu Ayah kamu, beliau pasti ada kan? Lagi kerja atau lagi di ruangannya kalau boleh tau?”
“Hmm Luna kurang tau sih, tapi bisa aja Ayah sekarang lagi di ruangannya, Luna juga mau kesana”
__ADS_1
Mereka pun akhirnya berjalan bersama menuju ruangan Edi.
Tok Tok Tok!
“Masuk”
Terdengar suara dari dalam yang sudah bisa dipastikan itu suara Edi.
Reyhan langsung menoleh pada Luna.
“Berarti Ayah ada, yaudah kak ayo masuk aja” Kata Luna.
“Assalamu’alaikum” Ucap Juan sambil perlahan membuka pintu dan maju menunjukkan dirinya.
“Wa’alaikumsalam. Ehh Rey ayo silahkan masuk” Edi menjawab dengan sedikit kaget dan antusias mempersilahkan Rey duduk.
Luna di belakangnya menyusul.
“Iya Om gak sengaja ketemu di taman RS tadi” Rey menjawab Edi.
Edi pun mengangguk mengerti.
“Gimana keadaan kamu?” Edi bertanya setelah mereka duduk.
“Alhamdulillah baik Om” Jawab Rey dengan santun.
“Memang ini pastinya berat buat kamu, tapi saya tau kamu juga pasti kuat”
__ADS_1
“Makasih Om. Dan kedatangan saya kemari karna Om waktu itu minta saya menemui Om, sebelumnya ada apa ya?” Tanya Rey penasaran.
“Iya, emm itu saya punya rencana untuk kamu. Berniat ingin membiayai sekolah kamu, saya mempertimbangkan ini karna saya tau kamu punya Riwayat prestasi yang sangat baik”
Rey kaget sampai lidahnya terasa kelu dan terharu.
“Rey?” Tegur lembut Edi melihat Rey yang hanya diam saja.
“Haa? I-iya om?” Ia tergagap sedikit saat menjawab.
“Kamu mau kan melanjutkan Pendidikan ke perguruan tinggi? Kamu masih mau jadi dokter?” Tanya Edi.
“Hmm sebenarnya sebelum lulus saya pernah ikut tes beasiswa Om”
“Ohh iyaa? Lalu gimana hasilnya? Udah keluar?” Tanya Edi beruntun
Rey mengangguk pelan kemudian menunduk “Sehari sebelum Ibu meninggal hasilnya keluar yang isinya Alhamdulillah diterima”
“Alhamdulillah, lalu beasiswa itu kamu ambil kan?” Tampak Edi merespon dengan antusias.
Rey tersenyum lirih “Sejak pertama kali tau kalau diterima pun saya sudah gak tertarik” Edi yang mulanya tampak senang mendadak mengerutkan dahi, lalu Rey melanjutkan kalimatnya “Yang menjadi bahan pertimbangan saya saat itu adalah Ibu, saya merasa gak akan sanggup kalau harus pergi meninggalkan Ibu saat kondisinya begitu, dan setelah Ibu meninggal saya lebih tidak tertarik karna merasa dunia saya sudah berhenti karna kepergian Ibu. Semangat saya hilang dan lenyap untuk kehidupan ini” Tambah Rey semakin lirih.
Edi mengerti. “Sedih itu boleh. Wajar. Yang gak boleh itu menyerah, kematian itu bisa terjadi kapan aja dan ke siapa saja, itulah roda kehidupan. Apa dengan kamu putus asa begini akan menghidupkan Ibu kamu? Nggak. Kamu justru mengecewakan dia. Maaf jika saya terdengar lancing, tapi saya yakin harapan dan dukungan Ibu kamu masih disini (Edi menunjuk dada Rey) sekarang tinggal kamu mewujudkannya dan buat Ibu kamu bangga”
Rey tersenyum, hatinya merasa lega dan tenang dengan wejangan Edi barusan.
“Terima kasih Om… Terima kasih” Rey mengulang ucapan terima kasihnya hingga 2 kali, suara dan tekanan yang ia ucapkan jelas terdengar dengan penuh makna.
__ADS_1
“Kalau boleh tau kenapa Om baik sekali ke saya?” Rey tiba – tiba bertanya demikian. Wajar saja, mereka ini dua orang asing yang belum lama kenal tapi kebaikan Edi yang sampai ingin membiayai kuliahnya rasanya sedikit berlebihan. Bukan Rey meragukan kebaikan Edi, tapi itu hanya pertanyaan dari bagian rasa penasaran Rey saja.
“Dulu saya punya kakak laki – laki, cita – citanya sama dengan saya, sama dengan kamu juga, jadi dokter. Kami selisih 5 tahun. Saat baru lulus SMA, orang tua kami kecelakaan dan meninggal. Saya masih SMP waktu itu. Sepeninggalan orang tua saya, maka saat itu juga tanggung jawab mereka dipikul oleh kakak saya sebagai anak sulung-“ Edi berhenti sejenak dan terpejam. Ia merasakan sesak di dadanya mengingat masa sulitnya dulu.