
"Kamu cinta kan sama Luna?" Tanya Rina lagi, dapat Rey lihat wajah Rina
begitu serius bersama guratan kekhawatiran yang.
"Ma... Inget gak dulu Mama pernah bilang ke Rey waktu Rey gagal ngelamar di salah satu Rumah Sakit yang pengen banget Rey masukin di Jerman?" Rey menjeda sebentar kalimatnya untuk menunggu jawaban sang Mama. Sedangkan Rina hanya sedikit mengerutkan dahinya.
"Mama bilang, semua yang kita dapetin itu gak selalu tentang apa yang kita mau, tapi yang dibutuhkan. Dan Allah tau itu" Bahu Rina merosot.
"Mungkin Yana memang adalah jodoh Rey
yang sebenarnya, Allah gak akan pernah salah memberikan apa yang kita butuhkan. Iya kan Ma?" Bukannya menjawab. Tangan Rina malah terangkat mengelus kepala putra angkatnya itu. Seiring gerakan tangan lembut Rina di kepalanya, Rey pun bergerak dan berbaring di paha Rina. Menyandarkan sebentar beban hati dan pikiran yang sedang ia pikul saat ini.
"Mama cukup yakin aja kalau Rey akan bahagia. Dan terus do'ain Rey ya Ma" Lirih suara pria itu masih dengan membaringkan posisi kepalanya di paha Rina yang secara tak langsung sebenarnya sedang meminta restu sang Mama.
"Gak perlu dipinta, do'a Mama dan Papa sudah pasti akan terus mengalir buat kamu" Rina mengatakannya dengan jujur dan tulus. Setelahnya ia tangkup wajah Rey dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kalau memang menikahi Yana adalah jalan yang sudah Allah pilihkan untuk kamu, tentu Mama gak punya kuasa apa-apa selain hanya memberi restu dan do'a untuk kebahagian kalian selalu" Ia menurunkan pandangannya sebentar ke bawah. Baru setelah itu kembali bicara sambil menatap mata teduh Rey.
"Maafin sikap Mama kemarin ya, setelah ini Mama akan belajar menerima Yana dan keluarganya" Mereka saling melempar senyum kasih. Kemudian berpelukan hangat layaknya Ibu dan anak.
- - -
"Itu besok, gimana perasaan kamu?" Tanya Luna sambil memandangi adiknya. Saat ini mereka tengah berada di ranjang yang sama, yaitu kamar Yana. Setelah salat isya' mereka lebih memilih untuk langsung berbaring dan beristirahat. Mengingat besok pagi adalah hari dimana akan dilaksanakannya sebuah acara sakral bernama akad.
"Biasa aja kok" Yana berkata lirih.
"Lepaskan semua yang mau kamu keluarkan, termasuk air mata kamu. Kakak disini buat dengerin kamu" Wajah Yana mendadak terenyuh, begitupun hatinya. Dan air mata itupun tak lagi dapat dibendung olehnya. Ia menangis, tepat di pelukan hangat sang kakak. Hati Luna serasa diremas kuat melihat duka lara adiknya saat ini.
"Yudha bakalan maafin Yana kan kak?" Di tengah isak tangisnya Yana bertanya seperti itu. Sudah Luna duga, Yana tidak sepenuhnya menerima pernikahan ini. Luma tidak menjawab, dan dia memang tidak berniat menjawabnya. Tangannya hanya tergerak untuk mengelus dan sesekali menepuk punggung sang adik. Menyalurkan sedikit kekuatan untuk wanita yang sedang berada dalam pelukan nya itu. 30 menit berlalu. Kira-kira selama itulah Yana menangis dan meracau banyak hal tengang Yudha maupun anak yang belum ia lahirkan. Hingga perlahan suara itu mulai terdengar semakin pelan dan hampir tidak terdengar. Luna menurunkan sedikit kepalanya untuk mengintip wajah Luna di dadanya. Ternyata Yana sudah mulai terlelap, tapi mulutnya masih meracau dan menyisakan sisa-sisa isak tangis. Setelah deru nafasnya terdengar teratur di telinga Luna, Yanapun di baringkan ke bantal dan di selimuti hingga batas lehernya. Luna menyeka sisa-sisa air mata di wajah Yana yang sudah masuk ke dunia mimpi itu.
"Kamu pasti akan bahagia sayang... " Ujar Luna lirih yang tentu tidak di dengar oleh Yana. Akhirnya hari esok pun tiba. Semua orang tentu sibuk mengurus ini dan itu. Tapi tidak dengan Yana. Sejak matanya terbuka dini hari tadi belum Luna lihat meski sedikit ada tarikan senyum di bibirnya. Matanya kosong, tidak perduli dengan apapun yang ada di sekitarnya. Saat ini wajahnya masih di hias oleh para perias pengantin. Yana layaknya boneka yang sedang di dandani. Membuat Luna khawatir saja.
__ADS_1
"Cantik" Kata pertama yang keluar dari bibir Luna setelah ia mendekatkan diri dari ranjang menuju meja rias tempat Yana duduk. Luna mengatakannya sambil tersenyum menatap bayangan Yana di cermin.
Hhhh....
Dapat Luna dengar helaan nafas berat dari Yana. Bersamaan dengan itu juga terdengar suara ketukan yang disusul dengan suara pintu yang terbuka.
"Udah siap. Ayo, waktu nya pengantin wanita turun" Yana tak bergeming dengan kalimat ajakan sang Bunda, Lia yang berada di ambang pintu kamarnya.
"Biar Luna yang bawa Yana ke bawah Bun" Sela Luna di situasi hening antara Bunda adiknya.
"Jangan lama-lama ya" Luna mengangguk cepat. Setelah memastikan pintu tertutup rapat kembali, Luna berjalan ke arah Yana dan menggapai pundaknya sambil memberi sedikit usapan pelan.
"Yana... Kita harus ke bawah. Ingat janji kamu untuk memperbaiki semuanya. Dan ini adalah jalan yang sudah kamu pilih" Yana memejamkan matanya sesaat setelah Luna mengucapkan kalimat itu. Dadanya semakin sesak. Ia tidak menjawab dengan bibirnya, tapi tubuhnya bangkir dan berdiri, pertanda ia sudah siap. Yana berjalan pelan sambil diiringi oleh Luna di sebelah kirinya. Mereka menuruni tangga menuju ruang tengah dimana beberapa tamu beserta keluarga dari kedua mempelai, disana sudah dihias penuh oleh bunga dan dekor berwarna putih. Rey terpaku begitu menyadari dua orang gadis yang masih berada di tengah anakan tangga berjalan ke arahnya. Dadanya bergemuruh antara takjub dan juga duka yang bersarang. Tentu semua itu dikarenakan gadis di depannya, yang sedang menggandeng calon istrinya. Ohh miris sekali kehidupan cinta pertamanya. Buru-buru ia mengalihkan pandangan itu sebelum ada yang menyadarinya. Lia menyambut kedatangan Yana, ikut meraih tangannnya dan merangkul bahu Yana hingga diiring untuk duduk tepat di sebelah Rey. Sekarang waktunya. Pernikahan yang merupakan ikatan lahir batin sepasang insan dan menjadi hari yang paling bahagia, justru menjadi hal yang sebaliknya untuk Rey dan Yana.
Dengan lantang Rey mengucap janji suci berupa akad yang sakral di hadapan banyak orang disana.
__ADS_1
"Sah" Akhirnya. Rey dan Yana telah dipersatukan oleh ikatan ibadah terlama bernama pernikahan. Air matanya jatuh. Semua tamu disana ikut berucap syukur dan menebar senyum bahagia. Melihat tangisan Yana, tidak ada yang berspekulasi buruk, semua hanya mengira hal itu wajar dan lumrah tercipta suasana haru di acara akad pernikahan.