Hati Lunara

Hati Lunara
Bab 71


__ADS_3

Morning guys


Jarang-jarang nih update pagi hihi


Soalnya inspirasi tiba-tiba nongol


Yaudahh langsung cus aku tulis dehh


Enjoy yaa 😊😊😊


.


.


.


“Kamu bilang mau ngomong semalam, mau ngomong apa?”


Tanya Arief yang tiba-tiba teringat dengan perkataan Nia tadi malam.


“Gak jadi mas”


Nia menjawab dengan murung.


“Kamu kenapa?”


Tanya Arief lagi yang menyadari perubahan air muka istrinya.


“Kemarin tuh aku coba test pack, dan hasilnya positif”


Arief seketika menoleh dengan terbelalak.


“Tapi syukur deh semalem aku gak jadi bilang, karena ternyata pagi ini aku malah datang bulan”


Kata Nia lagi menambahkan. Terlihat jelas guratan kecewa pada wajahnya.


“Gapapa kok, lagian kita kan baru nikah”


Kata Arief sedikit menghibur. Mulanya Arief memang kaget, entah apa yang dipikirkannya hingga respon pertama yang ia rasakan seperti itu, apa karena kehadiran Lia membuat dirinya ragu untuk terus berada dalam pernikahan ini? Entahlah. Namun jika Nia benar hamil tentu ia juga akan bahagia. Arief tidak akan sejahat itu sampai harus meninggalkan istri dan anaknya demi orang lain, termasuk Lia.


Nia masih tampak cemberut. Arief pun mendekat untuk sekedar mengusap pucuk kepala sang istri.


“Jangan terlalu dipikirkan, anak itu kan rezeki. Kalau sudah waktunya, Allah pasti akan mempercayakannya ke kita”


Ucap Arief lembut tanpa menggeser sedikitpun tangannya dari kepala Nia.


Setelahnya Nia mendongak membalas tatapan Arief dengan tersenyum kemudian mengangguk.


Sejak pertemuannya dengan Lia kemarin yang berkunjung ke Bandung sehari mengunjugi rumah orang tuanya. Hari-hari setelahnya Arief jadi sering pulang telat dengan alasan lembur. Tentu hal itu dipercayai oleh Nia. Padahal sebenarnya, Arief pergi menemui Lia ke Jakarta setiap harinya selepas pulang kerja dan kembali lagi ke Bandung. Setiap hari seperti itu. Sampai pada sebulan setelahnya, Arief dan Lia bertemu lagi di tempat mereka bertemu biasa. Danau. Sebuah tempat yang nantinya juga Arief perkenalkan pada Juan. Sebuah tempat yang juga menjadi tempat kesukaan Juan dan Luna.


Sore hari ini, Lia mendesak Arief untuk datang ke danau lebih awal dan sesegera mungkin. Begitu sampai, Arief mendapati Lia yang duduk dengan menunduk.


“Ada apa? Kamu kenapa?”


Arief langsung bertanya begitu ia berada di samping Lia. Mendengar suara Arief, Lia langsung mengangkat wajahnya. Ia tidak menoleh namun tangannya menyerahkan sebuah benda pipih kecil.


Tangan Arief terulur mengambil benda itu. Dadanya berdetak lebih cepat seiring matanya yang menangkap garis merah berjumlah dua pada benda itu. Artinya… positif? Lia?

__ADS_1


“Begitu usia janin aku 3 bulan, aku akan coba tes DNA untuk tau siapa Ayahnya”


Ungkap Lia. Arief tampak berpikir.


“Apa kalau itu anak Edi, kita akan berpisah lagi?”


Tanya Arief.


“Apa kalau ini anak kamu, kamu akan meninggalkan Nia dan bersama aku?”


Bukannya menjawab, Lia malah balik bertanya yang menohok untuk Arief. Benar saja, Arief langsung bungkam dengan helaan nafas berat.


“Iya”


Uacpnya beberapa saat kemudian. Lia langsung menoleh kaget.


“Ka-kamu serius? Apa kamu gak sayang sedikitpun pada Nia?”


“Aku rasa dengan tetap bersama Nia hanya akan menyakitinya. Dia wanita baik, setiap bersama kamu atau pun dia. Aku sama merasa bersalahnya pada kalian”


Arief menjawab dengan rasa bersalah yang memang terus menyesaki dadanya. Lia tidak menjawab, jauh dalam hatinya pun ia juga memikirkan Edi. Bukan ingin egois dengan meninggalkan suaminya itu. Namun dia hanya merasa tidak pantas dan sama merasa bersalahnya seperti Arief karena telah mengkhianati pria baik seperti Edi. Astaga! Mereka sudah menghancurkan hati dua orang baik sekaligus. Tapi semua di luar kendali mereka.


* * *


“Kamu kenapa sih mas?”


Tanya Nia di sela kegiatan sarapan mereka. Arief tersentak dari lamunannya.


“Hah? Kamu bilang apa tadi?”


Tanya Arief kelabakan.


Ucap Nia khawatir.


Kamu gak akan bisa bantu Nia. Tolong jangn terlalu baik seperti ini. Semua perlakuan dan perhatian kamu hanya semakin membunuh aku dalam rasa bersalah. Arief membatin lagi dalam lamunannya tanpa sadar.


“Tuh kan kamu melamun lagi”


Kata Nia lebih keras mendapati suaminya kembali terdiam.


“Nggak papa, cuma lagi banyak kerjaan. Jadi rasanya capek dan kurang istirahat aja”


Jawab Arief kembali berbohong. Nia tampak tidak percaya.


“Kamu gak perlu khawatir, aku benar-benar gapapa”


Ucapnya lagi dengan senyum yang dipaksa.


“Yaudah. Tapi kalo ada apa-apa cerita ya mas”


Pinta Nia dengan wajah memelas. Masih dengan senyum terpaksanya, Arief mengangguk menanggapi.


“Oh iya, kalau bisa kamu pulang cepat ya, malam ini aku mau masak spesial. Ya sekalian kita dinner romantis sekali-sekalilah”


“Aku usahain ya, nanti aku kabari lagi”


Nia mengangguk pelan.

__ADS_1


Tringg!


Arief dengan cepat memeriksa ponselnya yang baru saja berdering di atas meja.


Tes DNA udah keluar. Kita harus ketemu hari ini


Begitu isi pesan yang Arief terima dari Lia. Jantungnya langsung berdetak tidak karuan. Ia sendiri tidak tahu berharap apa. Yang ia harapkan hanyalah, apapun yang terjadi jangan sampai Nia ataupun Lia terluka. Cukup dirinya saja. Tapi apapun hasil tes DNA itu, Nia tetap akan terluka karena Arief sudah berkhianat. Jari-jarinya kemudian dengan lincah mengetikkan pesan balasan pada Lia.


“Aku berangkat sekarang ya”


Nia pun langsung bangkit dan mencium tangan Arief. Suaminya itu tampak pergi dengan tergesa-gesa. Tapi seperti biasa, Lia dengan segala prasangka baiknya hanya menduga Arief sedang ada pekerjaan penting pagi ini.


Sore harinya, pintu rumah Arief dan Nia di ketuk bersamaan salam seorang pria.


“Wa’alaikumsalam, Eh Kang Ahmad ada apa ya?”


Ucap Lia begitu membuka pintu dan tampaklah sesosok pria sepantaran suaminya yang ia ketahui sebagai teman kantor Arief.


“Ini tadi di kantor si bos bagi-bagi makanan karena syukuran anaknya lulus sekolah gitu. Yaa berbagi kebahagiaan lah. Arief gimana? Udah sehat?”


Katanya seraya menyerahkan bingkisan makanan yang diterima Lia dengan bingung.


“Maksudnya kang? Ini kok sampe dianterin, kenapa gak Mas Arief aja yang bawa pulang sendiri?”


“Loh? Arief kan sakit katanya tadi pagi izin. Makanya ini saya anter kesini sekalian lewat”


Deg!


“Saya permisi dulu ya, istri saya minta jemput soalnya dari tadi udah ditungguin, salam ya untuk Arief”


“I-iya kang, Makasih yaa maaf ngerepotin”


Nia menjawab dengan perasaan yang gundah dan gelisah. Setelah saling membalas salam dengan kang Ahmad. Nia masuk dan memandangi bingkisan makanan itu di atas meja.


Nggak papa, cuma lagi banyak kerjaan. Jadi rasanya capek dan kurang istirahat aja


Mendadak kalimat Arief tadi pagi berkelabat kembali dalam kepala Nia.


Mas Arief bohong? Tapi kenapa?


.


.


.


Kenapa yaa tante Nia?? Author juga gak tau huhu


Ehh salah Kak Nia dong ya, kan itu ceritanya pas masih mudaa wkwk


Wahhhh jadiiii danau Juan dan Luna itu juga punya sejarahhh yaa


Dipikir-pikir kayaknya pacaran di danau itu bikin gak langgeng deh, lihat aja tuh Arief-Lia sama Juan-Luna 😂😂😂


Oke dehh jangan lupaa like, komen, vote dengan poin, dan rating bintang 5 nya setelah membaca


Makasihhh

__ADS_1


(Kalo ini reviewnya lama berarti up-nya siang. Percayalah guys yang aku bilang di atas kalau ini up nya pagi itu beneran kok 😀)


__ADS_2