Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 31


__ADS_3

KEMBALI KE VANI JUAN


“Oo iya, mari mas ke kasir dulu biar saya scan coklatnya dulu lalu saya kasih giftnya”


Juan pun mengikuti Wanita si pegawai mini market itu dari belakang menuju kasir, sedangkan Vani berbalik membuka kulkas chiller berisi beragam minuman botol, iya ambil sebuah botol teh berperisa apel lalu duduk di meja kursi fasilitas disana. Ia duduk untuk menunggu Juan pergi dulu baru akan ke kasir membayar minumannya. Tak lama, Nampak dari balik kaca Juan yang sudah keluar menenteng plastik berukuran besar yang sudah pasti berisi coklat dan hadiah yang dia inginkan.


“ishh jadi cowok nyebelin banget, gak mau ngalah banget sama cewek” Kata Vani bicara sendiri dengan pelan sambil menatap Juan yang sudah menjauh pergi dengan sepeda motornya.


Kemudian barulah dia menuju kasir untuk membayar.


“Ini saja mbak?” tanya pegawai yang tadi pada Vani


“Iya” Jawab Vani dengan singkat


“Totalnya enam ribu delapan ratus ya”


Vani pun menundukkan kepala untuk mengambil dompet dari tas nya, karena fokus mengambil uang, Vani sampai tidak sadar bahwa belanjaannya terlihat lebih banyak dari yang seharusnya hanya ia beli.


“Ini kembaliannya. Terimakasih” Vani meraih kantong plastiknya namun karna lebih berat ia berbalik lagi


“Mbak maaf, ini kayanya saya salah ambil, minuman saya tadi mana ya?” Tanya Vani dan mengembalikan belanjaan di tangannya


“Ohh nggak kok mbak itu benar, tadi itu loh cowok yang berebut coklat sama mbak, nyisain dua balok coklatnya terus gak mau ambil hadiah bonekanya, katanya nanti kasi ke mbak aja makanya saya masukin ke plastik belanjaannya mbak” Jawab pegawai tersebut


Vani terperangah sesaat, kemudian mengambil Kembali plastik itu dan melihat isinya. Ternyata benar ada dua balok coklat yang terlapis bungkus aluminium bersama satu boneka berbentuk coklat kecil yang lucu ada disana dan membuat garis senyum halus terbentuk di bibir Vani.


Tringg Tringg Tringg

__ADS_1


Vani tersadar begitu ponselnya berdering, ia berjalan keluar setelah berterima kasih pada kasir sambil mengeluarkan Hpnya. Tertera nama Dira sebagai pemanggil di layer Hpnya.


“Halo?” Vani menjawab


Tak lama Vani Kembali bersuara dengan terkejut


“Apa? Luna ilang? Oke – oke, gue pulang nih langsung, entar jelasinnya disana aja” Vani menutup telpon lalu bergegas pulang ke apartemennya.


Ngomong-ngomong, Vani dan Dira ini tinggal di satu lantai apartemen namun di unit yang berbeda, hanya bersebelahan saja. Sebenarnya Vani asli Jakarta dan memiliki rumah, namun karena sejak kuliah Ayahnya dipindah tugaskan ke luar negeri Vani memutuskan tinggal di apartemen yang lebih kecil dan aman saja yang cukup untuk satu orang, karena tinggal dirumahnya yang cukup besar sendirian terlalu takut dan melelahkan untuknya.


Vani berlari menuju sepeda motor matic berwarna pink muda miliknya kemudian mengendarai sepeda motor tersebut secepat dan sehati – hati mungkin.


SAMPAI


Vani memarkirkan motornya di area khusus parkir penghuni apartemen tempatnya tinggal lalu buru – buru berlari menuju unit apartemen Dira tanpa lupa membawa plastik belanjaannya


“Woii sabarr gilak loe ya” Kata Dira begitu membuka pintu


“Abis loe lama banget buka pintunya” Sahut Vani sewot dan langsung menyelinap masuk tanpa permisi ke dalam. Dira sampai tak bisa berkata apa – apa. Padahal belum juga satu menit dia sudah membukakan pintu, dari mana Vani menilainya lama


Vani yang masuk langsung duduk di sofa kemudian disusul oleh Dira yang duduk di sampingnya, mereka memutar tubuh ke samping dan duduk berhadapan di atas sofa.


“Gimana gimana?” Tanya Vani tak sabar tentang info Dira mengenai Luna.


“Luna gak bisa dihubungi gak ngangkat telfon gak bales chat. Gue tanya Yana dia malah ikutan panik, kan tadi pas gue mau ke toko buku tempat Luna kerja nyari bahan buat tugas madding itu loh sekalian la gitu bawain Luna cemilan eh disana pegawainya malah heboh nanyain Luna ke gue, katanya chat terakhir Luna itu bilang on the way ke toko tapi sampe malem gini juga Lunanya gak nyampe nyampe”


“Lahh?” Vani jadi semakin panik.

__ADS_1


“Juan udah tau?” Vani bertanya. Dira tampak hanya menaikkan kedua bahunya dan menggeleng menandakan ia pun tak tau


SEMENTARA VANI YANG PANIK BERSAMA DIRA. DI RUMAH SAKIT LUNA SUDAH KEMBALI KE RUANG RAWAT INAP LAGI


Rey tampak tertunduk lemas di kursi tunggu depan ruang rawat Luna, saat ini gadis itu belum juga sadarkan diri namun kondisinya sudah stabil. Rey tidak tau bagaimana dia harus menghadapi Luna saat sadar nanti. Rey tengah dikerumuni rasa bersalah yang menyeruak dari segala sudut hatinya karena kondisi Luna. Bagaimana tidak, Luna mengalami sesak nafas dikarenakan alergi berat terhadap coklat. Rey merutuki kebodohannya sendiri dan merasa sangat frustasi melihat Luna yang terbaring lemas di ranjang Rumah Sakit. Tak lama, datang lah seseorang dengan langkah yang tergesa – gesa


“Reyhan” Seru orang tersebut menyebut nama Rey, membuat si pemilik nama mendongak lalu berdiri


“Om Edi..”


“Gimana bisa dia makan coklat? Kamu mau bunuh dia? Hah?” Kata Edi dengan wajah merah padam khas orang menahan amarah.


“Saya minta maaf, saya benar – benar gak tau Luna alergi coklat, saya Cuma mau hibur- hah” Rey tak sanggup melanjutkan kalimatnya hingga terduduk Kembali


Edi kemudian mengusap kasar seluruh wajahnya


“Dokter Rey, Dokter Edi, pasien sudah sadar” Seru seorang Dokter Wanita yang menangani Luna dari dalam ruang rawat inap tempat Luna terbaring sakit


Sontak Rey dan Edi menoleh lalu langsung melangkah cepat menuju kamar Luna namun saat tepat di ambang pintu, Edi berhenti dan tampak wajahnya ragu


“Kamu saja yang masuk” Kata Edi yang langsung berbalik ingin pergi. Rey sangat ingin menahan Edi namun ia urungkan keinginannya itu karena yang terpenting baginya saat ini adalah kondisi Luna


Rey melangkah perlahan mendekati ranjang Luna, mata mereka bertemu sekejap dan Luna langsung mengalihkannya ke arah lain sambil mencetak segaris senyum halus sinis kecil dari bibir Luna, meski samar tapi Rey masih bisa melihatnya dan hal itu semakin menampar Rey akan rasa bersalahnya


Lama mereka hanyut dalam kebisuan sampai akhirnya Rey yang memecah keheningan itu


“Kenapa….” Kata Rey masih dengan tundukan kepalanya ke bawah, tapi Luna hanya mampu sebatas diam menghela nafas Panjang karena kondisi nafasnya pun seratus persen pulih

__ADS_1


“Ini gak ada bedanya dengan lompat dari atas Gedung, kamu sadar itu?” sambung Rey dengan nada bicara yang terdengar sedikit lebih tegas


__ADS_2