
Vani dan Dira merawat Luna secara bergantian dengan sangat baik namun ada keanehan yang mereka bertiga rasakan, yaitu Juan. Seminggu berada di luar kota belum pernah Juan menghubungi Luna, bahkan ketiga wanita itu sudah bergantian menghubungi Juan karena khawatir, tidak biasanya Juan seperti ini
"Terakhir loe ngomong sama dia kapan Lun?" Luna tampak berpikir sejenak menjawab pertanyaan Vani
"Ya minggu lalu, waktu gue baru keluar rumah sakit itu"
"Ihh kenapa ya si Juan gak biasanya tuh anak kayak gini" Luna tidak menjawab, tapi jauh di dalam hatinya dia merasakan kecemasan yang sangat besar
"Loe pacaran, sahabatan sama dia udah bertahun-tahun tapi masa gak punya sih nomor papanya, aduhh Lun Lun"
"Ya orang Papanya gak tinggal disini, Mamanya juga sibuk gak pernah ada waktu kalo mau kenalan, aku juga gitu kan kalo gak kuliah ya kerja" Jelas Luna mengingat hubungannya dengan Juan sampai saat ini belum juga berkenelan dengan keluarga si lelaki
Drrtttt
"Hp loe tuh” Vani menunjuk dengan dagunya ke arah ponsel Luna yang bergetar di atas tempat tidur rumah sakit
"Iya halo Yan?" Luna menjawab panggilan telepon tersebut yang ternyata dari sang adik, Yana
"Kak.. " Dari balik telepon Luna dapat mendengar dengan jelas suara yang lirih dan bergetar dari Yana
"Kamu kenapa Yan, kok suaranya kayak orang nangis gitu?” Tidak menjawab, namun malah terdengar suara isak tangis di balik telpon sang adik
"Yan kamu kenapa!? Tanya Luna sedikit keras mulai cemas
"Yana mau bicara sama kakak, kenapa kakak pergi dari rumah, Yana bener-bener lagi butuh kak Luna sekarang" Kata Yana masih sambil menangis pelan
"Kakak masih di Rumah Sakit, kamu kalau mau ngomong kesini aja, maaf ya gak ngabarin, kakak cuma gak mau kamu khawatir" Yana seketika menyema air matanya
"Kakak masuk Rumah Sakit lagi? Kenapa?? Sakit apa sekarang?Parah gak?" Gantian kini giliran Yana yang cemas
"Gakk... cuma kecapekan aja, jangan terlalu di cemasin"
__ADS_1
"Yaudah Yana kesana sekarang juga, di RS Ayah ya? Ruangan apa?"
"Iya, di ruang Anggrek 1" Setelah menyebutkan nama kamarnya, Luna pamit dan salam lalu segera siap-siap menyusul sang kakak
"Kenapa Yana" Tanya Vani ingin tahu
"Gak tau, kayak nangis gitu, paling ada masalah di kampus kali"
"Ooo... “ Kata Vani disertai gerakan anggukan pelan. Cukup lama mereka menunggu kedatangan Yana, dihitung dari terakhir panggilan Luna dengan Yana, sudah 2 jam hingga sekarang
"Tadi katanya salat dulu kan ya baru kesini?" Luna hanya mengangguk menjawab pertanyaan Dira
"Di Al-Aqsa kali salatnya" Sahut konyol Vani karena yang ditunggu tak kunjung datang, padahal jarak dari rumah Yana ke Rumah Sakit ditambah salat dulu tidak sampai memakan waktu selama ini
ceklek
Ketiganya pun menoleh ke arah pintu. Yana masuk dengan mata sembab dan sayu
"Nah dateng juga, nyangkut dimana sih loe, terus tuh muka kenapa, udah kayak cucian gue dirumah" Tukas Vani menyambut kedatangan Yana
"Masalah apa? Kamu Ayah dan Bunda baik-baik aja” Tanya Luna cepat
"Ohh baik kok alhamdulillah, masalah itu aku sama temen aku tadi ngobrol lewat telepon gak sadar sampe sejaman"
"Ohh gitu yaudah duduk sini" Dira berdiri dan mempersilahkan Yana duduk di sisi ranjang Luna tempat yang ia duduki tadi
"Jadi ada masalah apa? Apa yang mau kamu ceritain?" Tanya Luna lembut begitu Yana sudah duduk di sampingnya, sedangkan Vani dan Dira duduk di sisi ujung ranjang Luna
Hening
Hening
__ADS_1
Hening
Vani yang memang suka ceplas ceplos pun membuka suara karena tidak tahan dengan keheningan yang menyeruak di ruangan itu
"Ehemm... Ehhmmm...Ehemm ehmm ehmm" Vani berdehem menciptakan sedikit bunyi disana meski belum di gubris oleh siapapun disana membuat ia kembali berdehem lebih keras
"Ehmm Ehmm ehmm..." Yana tampak memejamkan mata mengumpulkan kekuatan untum bicara dan melontarkan satu kalimat singkat yang membuat Vani malah ikut menghening
"Aku hamil"
Uhukk uhukk uhukkk
Vani batuk tersedak saat dehemannya di cegat oleh kalimat Yana kemudian melongo tak percaya tanpa suara. Luna tampak masih terdiam berusaha menteralkan jantungnya yang berdegup lebih kencang pada saat ini, sedang Yana hanya menunduk menahan tangisnya sambil tangannya meremas celana kulot yang sedang dia pakai itu
"Liat ekspresi kamu sekarang kakak yakin ini bukan candaan, meskipun kakak berharap ini memang kamu lagi bercanda" Diam sebentar kemudian Luna melanjutkan perkataannya
"Mau marah juga gak ada gunanya, gak akan memperbaiki apapun, saat ini kakak udah pasti ingin tau itu anak siapa, dan keluarga kita harus ketemu untuk membahas ini semua" Diam lagi, lalu kembali bicara namun terdengar sedikit lebih tegas
"Dan, kakak gak mau dengar kamu berniat aborsi atau semacamnya, jangan membuat seorang bayi gak berdosa menanggung kesalahan yang dibuat oleh orang tuanya" Begitulah sikap bijak yang diambil Luna, Yana masih terdiam menunduk cukup lama
"Maaf... ” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Yana. Sedang Dira dan Vani hanya saling menatap canggung dan ikut shock mendengar semuanya, mereka tau Yana adalah wanita baik-baik, lembut, dan penyayang tidak jauh berbeda dari sang kakak, Luna
"Apapun yang terjadi sebelum ini, gak ada gunanya disesali, apapun yang terjadi sekarang harus kamu terima, dan apapun yang terjadi di masa depan ada pelajaran yang harus kamu ambil dari kejadian dulu dan sekarang" Dira ikut menambahkan nasihat kepada Yana
"Ayah Bunda tau?" Yana mengangguk lemah menanggapi pertanyaan Luna
"Lalu apa kata mereka?"
"Ayah mau nikahin aku" Luna menghela nafas panjang
"Tapi bukan dengan Ayah bayi ini" Sontak Luna, Vani dan Dira menoleh kaget, jika tidak dengan Ayah bayi itu, lalu dengan siapa lagi Yana akan di nikahkan?
__ADS_1
"Sama siapa dong?" Tanya Vani heran. Yana mengangkat kepalanya ragu secara perlahan
"Ayah mau jodohin aku sama... "