
Haiiii ketemu lagiii
Selamat membaca yaaa 😊
.
.
.
Seperti biasa, kedua pasangan pengantin yang baru menikah sehari ini hanya saling berpartisipasi dalam suasana hening di mobil yang mereka tumpangi. Setelah mengantar Luna pulang, Rey dan Yana langsung pulang tanpa mampir terlebih dahulu. Keduanya larut dalam pikiran mereka masing-masing. Rey terlihat menekuk wajahnya sejak tadi, biasanya pria yang sudah menjadi suaminya itu memiliki paras lembut dan selalu memancarkan aura hangat yang ramah.
"Udah makan?"
Suara Rey tiba-tiba saja bertanya di tengah lamunan Yana. Secepat mungkin iya mengerjap dan merespon Rey dengan anggukan.
Pria itu bertanya dengan datar. Tanpa menoleh.
Tapi bukan itu masalah utama yang mengganggu benak Yana. Semua terlebih pada sikap Rey dan juga Luna, dua orang yang selalu saling tegur sapa hangat setiap bertemu kini juga seperti sedang beradu bisu. Meski mereka tidak terlalu dekat, namun Yana cukup peka mengartikan situasi yang sedang mendingin begini.
Sampai. Rey keluar terlebih dahulu. Tidak ada ajakan "ayo" atau "mari" atau sekedar basa-basi pemecah kebisuan mereka seperti sebelumnya. Tidak masalah untuk Yana, dia pun ikut turun dan membuntuti langkah Rey dari belakang.
"Assalamu'alaikum"
Rey yang mengucapkan salam itu. Sebuah kegiatan yang dapat Yana simpulkan sebagai kebiasaan baik dari pria ini. Terbukti dari kali pertamanya kesini semalam dan hari ini, Rey tidak pernah absen mengucap salam tiap memasuki apartemennya.
"Assalamu'alaikum"
Yana menurut. Rey pun berbalik melihat wajah polos istrinya itu sebentar.
"Wa'alaikumsalam"
Tanpa sadar Yana menarik bibirnya hingga tercetak lengkungan senyum yang manis disana. Rey hanya membalas itu dengan seringai tipis kemudian pergi memasuki ruangan di sebelah kamar Yana.
Yana pun menghela nafasnya lalu masuk ke ke kamarnya juga. Padahal Yana benar-benar baru mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, namun suara adzan langsung terdengar menyusul membuatnya beranjak kembali untuk sekedar bersih-bersih dan salat.
- - -
Di guliran tasbih terakhirnya di salat isya', Yana mendongak dari tempatnya duduk di atas sajadah menuju jam dinding di sisi kanannya. Entah kenapa sekarang waktu terasa berjalan sangat lambat bagi dirinya.
Mencoba menjadi istri yang baik Yana berniat memasak untuk makan malam hari ini. Ehh? Istri, kenapa aneh rasanya bergumam seperti itu. Dibanding menjadi istri yang baik, mungkin maksud Yana hanya sebatas ingin sedikit berguna disini terlebih ia hanya menumpang. Ya, hanya sebatas itu.
Berjalan keluar tidak ia dapati Rey di dapur maupun ruang tengah. Yana langsung menuju dapur, melihat kesana kemari dengan kelinglungan. Ia garuk sebentar kepalanya yang tidak gatal sambil mengedarkan pandang ke sekitar dapur. Menimbang-nimbang apa yang akan dia masak. Salah! Lebih tepatnya apa yang bisa dia masak?
Membuka kulkas, ia melihat jejeran telur ayam yang juga menjadi bahan dasar paling masuk akal yang bisa ia masak. Diambilnya 3 butir bersama beberapa sayuran seperti wortel dan seledri.
__ADS_1
Ya, telur dadar doang mah kecil. Pikirnya jemawa. Meracik telur, sayur, dan bawang yang ia siapkan dengan sedemikian rupa. Yana akhirnya menyajikan sepiring omlete sayur yang cukup menggugah selera, harumnya saja sudah bisa mengatakan itu.
Ceklek!
Loh? Ada yang membuka pintu. Sesaat jantungnya berdebar tapi netral kembali begitu tau yang masuk adalah Rey yang menggunakan sarung, baju koko dan peci. Dari penampilannya Yana tau bahwa pria itu baru saja pulang salat di masjid.
"Kamu masak?"
Rey bertanya demikian sambil membuka peci dan kancing koko nya. Eits. Kancing baju koko? Yana memutar matanya gelisah. Ohh ternyata di balik koko itu Rey sudah menggunakan kaos putih rumahan.
"Iya"
Yana menjawab pelan dengan senyum kikuk.
"Yana sajikan dulu ya, m-mas duduk aja"
Astaga! Masih saja lidahnya ini berbelit hanya untuk mengucap kata "mas" saja. Sepertinya setelah ini Yana harus senam bicara menyebut kata "mas".
Menyajikan nasi hangat dan sepiring omlete sayurnya dengan bangga ke atas meja. Yana akhirnya duduk di depan Rey.
"Silahkan"
Katanya disertai isyarat tangan sopan.
"Maaf ya cuma ini, Yana taunya ini. Nanti Yana bakal baca-baca di internet tentang resep masakan lain"
"Gapapa, apapun yang disajikan saya pasti makan"
Jawab Rey dengan senyuman. Sepertinya pria itu sudah mencair kembali seperti biasanya.
Yana masih menatap lekat Rey hingga kunyahan di mulutnya tertelan. Menanti reaksi dan komentar dengan dag dig dug. Yana menaikkan kedua alisnya begitu Rey mengangkat wajahnya ke arah Yana yang sedang menunggunya memuji masakannya itu.
"Enak?"
Akhirnya Yana bertanya karna Rey tak kunjung bicara. Pria itu tampak tersenyum kikuk.
"Hmm enak kok, cuma kurang asin kali ya?"
Percayalah, Rey mengatakan itu dengan penuh kehati-hatian.
Yana yang awalnya mengertukan dahi mendadak terbelalak. Garam!? Ya ampun, bisa-bisanya ia lupa dengan bagian terpenting itu. Yana merutuki kebodohannya sendiri.
"Maaf ya m-mas, ihh bisa-bisanya sih lupa sama garam"
Yana mengerucutkan bibirnya gemas. Membuat Rey terkekeh.
__ADS_1
"Gapapa, masih bisa dimakan kok. Sebentar"
Rey mendorong kursinya ke belakang dan masuk ke dapur, ia membuka lemari disana mengambil dua buah botol saus berwarna abu-abu. Yana tidak tau apa isinya.
"Itu apa?"
"Nih, tinggal di kasi kecap asin sama kecap manis, telur dadar buatan kamu jadi makin enak"
Ungkap Rey sambil menuang kecap asin dan kecap manis yang tadi dibawanya secara melingkar ke atas telur.
"Kalo gak enak gak usah dimakan juga gapapa kok, Yana aja gak mau makannya"
Katanya merasa tidak enak.
"Bisa kok, ini tuh enak"
Setelah mengatakan itu, Rey kembali menyuap nasi dan telurnya dengan lahap. Yana hanya memperhatikan itu dengan wajah masih tertekuk.
"Kamu kok gak makan?"
Tanya Rey yang melihat Yana hanya diam disana.
"Telur gak pake garam pasti rasanya aneh banget. Yana takut mual terus malah ganggu mas Rey"
Ohh iya, kenapa Rey bisa lupa kalau wanita di depannya ini sedang mengandung. Salah makan sedikit saja yang tidak sesuai dengan seleranya bukan tidak mungkin bisa menyulut Yana untuk mual dan muntah. Wahh, baru saja Yana menyebut kata "mas" tanpa terbata-bata. Suatu kemajuan yang bagus.
"Yaudah ini biar saya aja yang habiskan, saya masakin kamu makanan dulu"
Rey berujar seraya berdiri.
"Ehh jangan mas, kok jadi gitu sih. Yana kan masak biar mas gak masak, udah mas makan aja dulu"
Rey memandang Yana sebentar yang menahannya. Beberapa detik kemudian Yana mengangguk kepalanya mengisyaratkan untuk mendesak Rey duduk kembali. Yahh, Rey pun menurut dan menghabiskan makanan pertama istrinya itu.
.
.
.
Ihhhhh so sweet bangettt sihh Rey 😍😍😍
Belum cinta aja udah gini ya gimana kalo cinta benerann haduhhh, telur mentah juga lahap kali ya Rey wkwk
Btw aku sedihhhh deh tiap liat komentar sepi bangett. Yang ngelike juga 😢😢😢 Padahal tiap update viewsnya selalu ratusan per-bab huhu
__ADS_1
Setelah ini jangan lupa yaa tinggalkan like, komen, vote dengan poin, dan rating bintang 5 nya habis membaca
Makasihhh 😘😘😘