Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 8


__ADS_3

Hmm hmmmm…..


Sambil berjalan, Vani bersenandung ria dengan ceria menuju kelas sahabatnya Luna. Tentu senandung yang ia nyanyikan hanya alunan yang berasal dan di dengar oleh dirinya saja alias dalam hatinya.


Ehh sebentar. Ia terhenti, melihat sesosok siswa laki - laki yang ia ketahui sekelas dengan Luna sedang berjalan juga dari arah yang berlawanan dengan dirinya. Tanpa pikir panjang Vani langsung mencegatnya dengan mengangkat kedua tangannya di depan wajah siswa kemudian bertanya bertanya


“Ettss maaf, Luna udah dateng belum?” tanyanya dengan sumringah.


Sedetik kemudian kedua bahu siswa laki – laki yang baru saja Vani cegat itu tampak kompak terangkat dengan satu gerakan dan disusul tubuhnya yang menjauh dari Vani tanpa permisi.


Gadis malang itu hanya menganga terlena menanggapi jawaban tak terduga yang baru saja ia dapatkan. Dengan dahinya yang masih mengerut kesal, Vani menyabarkan dirinya sendiri dengan menarik dan menghela nafas sedalam – dalamnya. Setelahnya ia berbalik untuk langsung mengecek sendiri saja ke kelas Luna. Tiba – tiba…


Pranggg!!!


Vani berakhir terjengkang setelah kaget menjumpai Luna yang tiba – tiba berada di depan wajahnya tepat setelah ia berbalik. Membuat Vani spontan mundur kehilangan keseimbangan dan menabrak siswa laki – laki tadi yang baru saja kembali membawa beberapa alat lab berbahan dasar kaca. Alhasil, karena tertabrak tubuh Vani yang mendadak menubruknya, salah satu gelas beker yang ia bawa jatuh dan pecah.


“Masalah loe apa sih, udah tadi sok kenal sekarang nabrak gue. Tuh pecah tuh gara – gara loe, naksir loe sama gue?” kata laki – laki itu.


Luna yang sedang membantu Vani berdiri lansung menjawab.


“Maaf ya Juan, Vani gak sengaja kok. Dia kaget aja karna gue. Nanti-“


“Sssttt….” Telunjuk Vani yang berada di depan bibir Luna beserta desisannya cukup membuat Luna mendadak terdiam. Ternyata nama laki – laki ini Juan. Ya, Juan yang kemarin Luna temui di parkiran sekolah bersama anak kucing.


Setelahnya Vani maju dan memasang badan dengan darahnya yang terasa mendidih sekarang. Melihat Vani mendekat padanya, Juan tetap dengan wajah menantangnya.


Menarik nafas dan tersenyum dengan senyuman yang tidak mengartikan sebuah kebahagiaan sedikitpun di wajahnya, Vani pun sudah siap untuk bicara, tapi…


“Ssstttt….” Bukan Vani. Tapi kali ini Juan yang mendesis persis seperti yang Vani lakukan barusan ke Luna.


“Gue gak ada waktu dengerin hal gak penting dari loe. Permisi” lanjut Juan. Kemudian ia sudah siap untuk meninggalkan Vani disana. Vani yang masih kesal tentu saja tidak ikhlas sedikitpun membiarkan Juan langsung pergi. Kaki kanannya sudah terpasang menghalang jalur jalan Juan.


Pranggg!!! Untuk yang kedua kalinya.


Kali ini, bukan hanya satu, tapi semua alat lab di tangan Juan sudah berakhir pecah di lantai teras semen sekolah mereka.


“Apa – apaan sih loe!” bentak Juan yang baru saja berdiri.


Vani tersenyum sinis dan menjawab.

__ADS_1


“Gak sengaja. Kaki kanan gue kepeleset dikit tadi ke samping, nih deh gue tarik lagi” jawabnya sambil memposisikan kakinya sejajar kembali kemudian melanjutkan “Permisi”.


Belum juga selangkah, tangan Vani sudah ditarik Juan semakin mendekat padanya.


“Loe pikir bisa pergi gitu aja. Tanggung jawab, loe yang mecahin semua ini” ucap Juan dengan mata tajamnya.


“Kalo gue gak mau gimana?” balas Vani dengan wajah menantang. Sekarang dengan wajah yang berhadapan dekat, baik Vani maupun Juan saling menatap tajam.


Merasa atmosfer sekelilingnya semakin dingin mencekam, Luna melerai antara mereka dan mencoba menegah.


“Eh haha udah mau masuk nih, mending kita beresin pecahan kacanya terus kita ganti rugi bareng bareng, gue bantu juga deh hehe” ucapnya sambil diselingi suara tertawa garing yang dipaksakan.


“Ngapain loe ikut ganti rugi, kita gak salah kali!” kata Vani menjawab Luna. Juan disitu juga ikut menjawab


“Iya, loe gak perlu ikut tanggung jawab, karna semua ini tuh salah cewek gila ini”


Wahh! Kedua mata Vani membulat sempurna sesaat setelah kalimat tadi terucap mulus dari bibir Juan. Setelahnya, gaya marah santai yang elegan tidak lagi Vani gunakan. Ia maju dan memaki Juan.


“Masalah loe apa sih, baru ketemu aja yaa loe tuh udah bikin hari gue bad vibes banget tau nggak!”


Mereka bertengkar disana, Luna kelinglungan sendiri mencari celah antara mereka.


Sial! Itu guru BK, kenapa pas banget gini sih.


Tuk Tuk Tuk


Suara langkah tegas teratur yang berasal dari ketukan sepatu pantopel hitam guru BK bernama Bu Ambar itu mendekat. Ketiganya diam terpaku. Begitu sampai, mata Bu Ambar menangkap pecahan beling di lantai.


“Siapa yang bertanggung jawab atas ini?” tanyanya sambil menunjuk pecahan alat lab tersebut.


“DIA” 2X


Satu kata itu keluar serempak dari mulut Juan dan Vani yang saling melempar pertanggung jawaban dengan masing – masing jari telunjuk mereka.


“Ehh loe yang mecahin ya!” kata Vani dengan suara lantang.


“Loe yang nabrak gue dan gelas bekernya pecah. Ohh dan jangan lupa juga habis itu loe nyandung kaki gue sampe gue jatuh, alhasil semuanya pecah”


Vani tercekat, sedang terdiam sambil berpikir ingin menjawab apa.

__ADS_1


“Gak bisa jawab kan loe” Kata Juan lagi.


Luna yang berdiri di tengah mereka hanya memasang tampang bingung.


“Cukup!” Ucap Bu Ambar, kini ia beralih ke Luna


“Luna” Panggilnya. Luna yang mendengar namanya disebut, menoleh kelinglungan.


“Sekarang kamu jawab, siapa yang salah disini?”


Bu Ambar, Juan, dan Vani kini menyoroti Luna, sekarang ia merasa terintimidasi atas masalah yang tidak ia lakukan.


Luna semakin bingung dengan sorot mata Juan dan Vani yang tampak jelas sedang meminta pembelaan. Ditambah sorot Bu Ambar yang juga menyeramkan.


30 Menit Kemudian


Di tengah lapangan upacara, tiga siswa dan siswi atas nama Juan, Luna dan Vani tampak berdiri tegap dengan tangan hormat ke arah bendera merah putih.


Bukan sedang upacara, melainkan mereka tengah menjalankan hukuman atas kejadian tadi pagi yang kepergok oleh Bu Ambar si guru BK.


“Ini semua gara – gara loe tau nggak!” Ucap Vani tiba – tiba yang masih kesal dan tak terima.


“Diem deh mendingan. Gue gak mau debat gak penting dan gak guna sama loe. Cuma nambah masalah aja” sahutnya santai.


“Heii, saya suruh hormat, bukan ngobrol. Mau saya tambah hukuman kalian? ” Suara Bu Ambar terdengar lagi.


Astaga! padahal tadi rasanya Vani melihat Bu Ambar sudah pergi, tapi kenapa suaranya ada lagi. Mereka akhirnya membisu lagi.


Vani sebentar – sebentar melirik heran ke arah Luna yang terlihat tersenyum di sampingnya.


.


.


.


Gini nihh awal pertemuan nya Juan sama Vani. Jadi dimaklumi aja di masa sekarang mereka suka berantem, mungkin karna masih ada dendam masa lalu hihi


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺

__ADS_1


__ADS_2