
...Kehidupan tidak selalu tentang apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan...
.
.
.
Luna duduk melamun pada sore harinya di taman rumah sakit menghabiskan detik demi detik miliknya untuk memikirkan masalah adiknya Yana yang sudah ia suruh pulang sehabis salat Ashar tadi, sedangkan Vani dan Dira tengah tertidur kelelahan karena harus bolak-balik bergantian ke rumah sakit dan kuliah, belum lagi tugas mereka yang menumpuk di ruang rawat Luna. Saking fokusnya mata Luna ke depan membuatnya tak sadar Rey sudah duduk dengan perasaan gundah yang sama besarnya seperti teman duduknya saat ini
"Apa masalah yang bikin kamu melamun disini sama dengan masalah saya juga" Rey memulai percakapan dengan suara frustrasi. Luna tersentak dan menoleh cepat dengan tubuh yang spontan terdorong ke belakang
"Ohh dokter Rey... saya sampe gak sadar dokter disini" Luna pun kembali ke posisi duduknya seperti semula
"Tadi saya ke ruangan kamu, tapi hanya ada teman-teman kamu, salah satunya bangun dan bilang kamu ada disini" Luna tampak mengangguk mendengar Rey meski dia tidak bertanya
"Jadi?" Tanya Rey lagi karena Luna terdiam setelah itu, hanya terdengar helan nafas berat dari diri Luna
"Apa dokter setuju?" Rey menutup matanya mendengar pertanyaan Luna, itu berarti Luna sudah mengetahui semuanya
"Saya gak tau, ini pilihan yang berat, tapi biar bagaimanapun saya punya hutang budi ke kamu dan om Edi" Luna mengerutkan dahinya heran
"Maaf dok, Yana adalah hidup saya, dia salah... saya akui itu, tapi kalau pernikahan ini dokter setujui karena alasan balas budi jujur saya tidak rela, lagipula dulu saya menolong dokter dengan ikhlas dan dokter gak ada hubungannya dengan masalah Yana, gak seharusnya dokter ikut terseret lalu ikut menanggung beban dari kesalahan yang tidak dokter perbuat" Ungkap Luna merasa bersalah pada Rey. Rey tidak menjawab, terlihat jelas guratan lelah di dahinya memikirkan hal rumit yang menimpanya saat ini, melupakan Luna sudah cukup sulit ditambah dia harus menikahi wanita yang tak lain adalah adik dari gadis yang selama ini ia cintai. Lama mereka larut dengan pikirannya masing-masing tanpa membahas apapun yang berarti
__ADS_1
"Saya akan salat istikharah terlebih dahulu, saya minta sedikit waktu ke om Edi, kalaupun saya memang harus menikah dengan adik kamu, saya hanya berharap bahwa itu adalah jalan terbaik dari Allah" Kata Rey memecah keheningan yang terjadi di taman tersebut
"Dia hamil... Bukan anak dokter, dan Ayahnya masih ada, apa dokter yakin mau ikutin permintaan Ayah, terlebih lagi Yana pun gak mengharapkan pernikahan ini terjadi"
"Sayapun gak mengharapkan ini semua terjadi Luna, siapapun juga gak akan mau tapi kehidupan tidak selalu tentang apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan" Tutur Rey lembut menatap lekat Luna
Begitu mendengar penuturan Rey, Luna menoleh dan membalas kagum dengan pikiran Rey yang bijak dan sosoknya yang begitu tulus dan bijak, jujur saja ia pun sama percayanya dengan sang Ayah, Edi bahwa Rey pasti akan menjadi suami bahkan Ayah yang baik bagi Yana dan bayinya tentu saja ia ingin yang terbaik untuk asik perempuan satu-satunya itu namun kembali lagi menurut Luna ini semua tetaplah tidak adil bagi pria ini. Luna tak dapat berkata apapun tapi entah kenapa tangisnya saat ini malah pecah seketika, padahal sejak tadi ia bisa menahannya
Melihat itu Rey ikut merasa sedih menyaksikan wanita yang ia sayangi selalu dalam keadaan yang rapuh sejak ia bertemu kembali setelah bertahun-tahun tidak pernah bertatap muka membuat tangan Rey refleks terangkat mengelus pelan punggung Luna
Tanpa mereka sadari ada sesosok laki-laki bertopi dan masker hitam tengah memandangi mereka dari belakang dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan, laki-laki yang seminggu ini dicari dan dikhawatirkan oleh Luna, hanya sebentar dia dia disana kemudian berbalik dan pergi meninggalkan gedung rumah sakit itu
Seperti memiliki ikatan batin yang begitu kuat, Luna menoleh ke belakang di tengah isak tangisnya, dilihatnya lekat sesosok laki-laki tadi sedang berjalan menjauh membelakanginya namun ia juga tidak yakin atau mungkin tidak sadar bahwa pria itu adalah Juan
"Kenapa?" Tanya Rey yang ikut menoleh mencari tahu apa yang membuat Luna menoleh ke belakang
Hening....
"Maaf ya dok, saya malah jadi cengeng gini di depan dokter" Ucap Luna seraya menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya
"Gak papa, kamu juga pasti sedih sekali sekarang" Luna tampak tersenyum terpaksa hingga ia kembali bersuara
"Jika kalian memang berjodoh, percaya lah dok Yana sebenarnya adalah wanita yang baik, kekhilafan dia saat ini gak mengurangi sedikit pun kasih sayang saya ke dia"
__ADS_1
"Saya percaya" Luna dan Rey saling melempar senyum tipis, meski tidak banyak yang mereka bahas tapi entah kenapa pertemuan mereka sore hari ini cukup memberi sedikit udara yang melegakan dalam dada mereka yang dirasa sangat menyesakkan sejak siang tadi
- - -
"Makasih banyak, maaf banget gue selalu ngerepotin loe berdua" Kata Luna begitu mobil Vani sudah terparkir di halaman rumah Luna
"Sekali lagi loe bilang maaf, loe dapet payung cantik" Tukas Vani kesal mendengar kata maaf terus terlontar dari mulut Luna, padahal mereka sama sekali tidak merasa direpotkan oleh Luna
"Kalau kita yang di posisi loe pun, pasti loe bakal ngelakuin hal yang sama, gak ada kata ngerepotin diantara kita, kita itu lebih dari sahabat, kita adalah keluarga, udah sepantasnya dong keluarga saling membantu " Tanpa sadar perkataan yang menyentuh dari Dira barusan ikut berperan menjadi kalimat duka mengingat keluarga Luna yang mengasingkannya saat ini
Sadar akan perubahan air muka Luna, Dira pun dengan cepat berkata
"Ehh gak bukan gitu maksudnya tuh.. "
"Iyaa.. udah jangan ngerasa gak enak, loe berdua emang keluarga terbaik gue" Luna memotong ucapan Dira dengan haru, Allah memang memberinya cobaan melalui keluarganya dengan luka, namun di waktu yang sama Allah juga menurunkan obat untuknya melalui kedua sahabat yang menurut Luna kebaikan dan ketulusannya tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata seindah apapun
"Gue masuk ya" Vani dan Dira mengangguk, setelah Luna turun dengan koper nya Vani dan Dira pun langsung melaju ke kampus mereka setelah sebelumnya memperingati Luna untuk istirahat dan selalu hubungi mereka jika terjadi sesuatu
"Kapanpun loe mau dateng, pintu rumah gue selalu terbuka" Kata Dira begitu Luna turun
"Loe kan tinggalnya di apartemen" Sahut Vani yang terdengar begitu menyebalkan bagi Dira
"Sama aja! " Jawab Dira, Luna hanya tersenyum geli menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vani. Setelah mobil Vani tak lagi terlihat Luna berbalik memandangi hunian yang sebelumnya sudah ia putuskan untuk ia tinggalkan, namun sekarang dia sendiri malah kembali kesini
__ADS_1
"Kak Luna!" Seru Yana yang baru keluar dari pintu depan kemudian berhambur memeluk sang kakak. Luna tersenyum membalas pelukan sang adik
"Udah siap nemuin kakak sama Ayah bayi ini? " Tanya Luna dengan sangat serius begitu pelukan mereka sudah terlepas, situasi menjadi tegang seketika