
Cinta itu anugerah. Jika aku tidak bisa mencintaimu sebagai pendamping hidupku, maka aku akan mencintaimu sebagai adikku.
.
.
.
Luna masih terisak. Semua ini sulit ia terima. Juan.... Apalagi keluarganya. Tidak pernah terlintas dipikirannya bahwa ia bukanlah putri seorang Edi Ustman. Tidak peduli seberapa besar luka yang pria itu tanamkan di hatinya. Namun Edi tetaplah seorang Ayah yang ia banggakn juga ia sayangi.
Juan sudah menceritakan semuanya. Semuanya.. Ia menceritakan sedetail mungkin apa yang sudah Arief sampaikan padanya waktu itu. Setelah tak sengaja ia menemukan foto kecil berisi Papanya yang masih muda bersama seorang gadis. Tentu Juan mengenalnya, gadis itu Lia. Yang ia ketahui Bunda Luna, karena fisik Lia yang tidak banyak berubah sejak muda hingga sekarang. Seketika Juan memanas, ia mendesak sang Papa untuk bercerita. Membuat Arief akhirnya jujur. Dapat Juan lihat dengan jelas penyesalan dari setiap kata yang Arief sampaikan. Dan sekarang akhirnya, Juan sampai juga pada titik dimana ia dan Luna akan bertemu kembali dengan status yang baru ia ketahui. Adik dan kakak.
"Aku akan pergi. Aku akan lanjut kuliah di luar negeri"
Ucap Juan. Isak tangis Luna berhenti dan langsung mengangkat kepalanya.
"Kenapa?"
Tanya Luna. Juan menoleh, menatap mata adiknya dalam. Astaga! Adik? Ini adiknya? Salahkah jika Juan masih berharap ini hanya mimpi? Kekasihnya... Adalah adiknya? Ia marah, benci dan tidak terima. Tapi takdir ini di luar kendalinya.
"Aku gak bisa terus ada di dekat kamu. Ini salah. Gak benar, dengan adanya jarak mungkin perasaan itu akan memudar"
Juan lalu menunduk.
"Semoga"
Tambahnya dengan gumaman pelan.
__ADS_1
"Aku rasa bukan jarak"
Juan sudah kembali menoleh mendengar suara Luna barusan.
"Hanya raga kita yang akan jauh. Bukan perasaan. Perasaan itu gak terpengaruh dengan jarak, aku yakin kamu juga tau itu. Mau kita masing-masing di ujung dunia sekalipun"
Air mata Luna kembali menetes.
"Justru kita mungkin akan semakin terbunuh oleh perasaan kita sendiri. Terus berpikir bahwa pengasingan diri kita sekarang akan menyembuhkan semua, tapi justru pikiran itu membuat kita semakin ingat dan perasaan itu semakin kuat. Biarkan semuanya mengalir. Obat paling tepat saat ini adalah waktu"
Jelas Luna. Di sampingnya Juan hanya terdiam. Ia mencerna setiap kata yang Luna ucapkan.
"Mau ketemu Papa sebentar?"
Tanya Juan. Luna tampak bingung. Papa? Sosok itu hanya ia tujukan pada Edi. Bahkan sampai sekarang.
Luna menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tau apa yang diinginkannya sekarang. Semua terlihat abu-abu, bingung, sedih, marah. Semuanya ingin saling mendominasi dalam diri Luna. Ia pun memejamkan mata seraya kepalanya menggeleng.
"Gak sekarang. Aku butuh waktu"
Juan menghela nafas.
"Papa sakit Lun. Jantungnya-"
"Aku mau sendiri dulu. Aku udah ketemu kamu sekarang, aku udah lega"
Luna dengan cepat memotong ucapan Juan. Pria itu pun terdiam, tidak berniat menyahut lagi. Benar. Luna butuh waktu, sama seperti pertama kali ia mengetahui semua ini pun dia juga membutuhkan waktu untuk sendiri.
__ADS_1
"Aku antar kamu pulang aja"
Tawar Juan.
"Nggak. Aku mau sendiri dulu. Disini"
Luna berujar dengan mata penuh harap. Juan pun menatap mata itu sebentar. Lalu tangannya perlahan tergerak menangkup sebelah pipi Luna. Gadis itu kembali lemah, ia memegang tangan Juan balik tanpa menggesernya dari pipinya. Air matanya mengalir mengenai kedua tangan mereka.
Tidak lama. Luna pun lalu menurunkan tangan Juan dari pipinya dan mengangguk mengisyaratkan pada Juan jika tidak apa-apa dirinya sendiri disini.
"Assalamu'alaikum"
Nafas beratnya sangat terdengar di telinga Luna dalam ucapan salam Juan.
"Wa'alaikumsalam"
Suara Luna pun sudah terdengar serak. Juan perlahan menjauh.
"Luna"
Ia tiba-tiba memanggil sesudah berbalik. Luna tidak menoleh, tapi Juan tau ia sedang mendengarkannya.
"Cinta itu anugerah. Jika aku tidak bisa mencintaimu sebagai pendamping hidupku, maka aku akan mencintaimu sebagai adikku"
Luna masih tidak menoleh. Tapi disana ia sudah kembali menangis mendengarnya.
* * *
__ADS_1