
Aku sayang kamu mas.
.
.
.
"Aku akan menceraikan Nia" Ucap Arief tiba-tiba. Lia tampak menggeleng, membuat dahi Arief mengerut.
"Aku gak tega sama dia. Aku ngerasa udah jahat banget dan merebut kamu dari dia" Jelas Lia sambil menangis.
"Kita gak punya pilihan. Jujur aku pun gak tega dengan Nia dan aku juga sama merasa bersalahnya dengan Edi. Tapi kita bisa apa aku tanya? Hah?" Ucap Arief mulai frustasi. Entah sudah berapa kali ia menggusar kasar kepalanya sendiri dengan sedikit jambakan kecil di rambutnya.
"Kita udah salah mas. Salah besar" Kata Lia mengingat pengkhianatan yang mereka lakukan.
"Apapun halangannya akan aku hadapi. Dan Nia tetap akan aku ceraikan agar aku bisa bertanggung jawab secara utuh untuk kamu... dan anak kita" Ungkap Arief yakin. Lia menoleh dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Saat ini mereka berada dalam situasi yang sangat tidak stabil dan membingungkan.
Drrtttt
"Halo?" Arief menjawab panggilan teleponnya sambil terpejam dengan tangan yang memjiti pangkal hidungnya.
"Kamu dimana mas? Jadinya kamu bisa gak pulang cepat?" Tanya Nia dari balik telepon.
"Aku masih di kantor. Nanti aku pulang gak akan terlalu malam, aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu" Nia merosot lemah mendengar jawaban Arief. Nia tidak memperhatikan kalimat Arief yang katanya ingin menyampaikan sesuatu. Nia lebih fokus pada pengakuan sang suami yang mengatakan dirinya sedang berada di kantor. Kantor? Jelas-jelas dia tidak masuk kantor hari ini. Lalu ada dimana suaminya sekarang? Dan... Bersama siapa? Nia tidak ingin berburuk sangka pada suaminya. Tapi tidak salah kan jika ia menaruh sedikit rasa curiga?
"Halo?" Arief bersuara untuk memancing suara Nia yang tiba-tiba diam.
"Hm iya mas?" Nia mengerjap cepat seiring kesadarannya yang baru muncul.
"Kamu kenapa?" Tanya Arief heran.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Yaudah kamu lanjut kerja lagi ya. Aku mau masak dulu untuk nanti malam" Kata Nia mencoba mengalihkan.
"Iya" Arief menjawab singkat.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam" Setelah memastikan sambungan teleponnya mati. Arief kembali beralih pada Lia yang tampak terpukul.
"Aku pulang sekarang. Dan malam ini juga aku akan bicara dengan Nia" Lia tidak bergeming. Arief menghela nafasnya dalam.
"Jaga kandungan kamu baik-baik" Setelahnya, Arief langsung melaju dengan motornya untuk kembali ke Bandung. Ke rumahnya bersama Nia. Sepanjang jalan Arief sangat gelisah dan merasa tidak sanggup untuk jujur. Bukan karena takut ia disalahkan atau apapun. Ia tidak peduli dengan dirinya. Melainkan Nia. Oh... Istrinya itu, sungguh Arief merutuki dirinya sendiri jika harus melihat Nia yang akan tersakiti dengan keputusannya untuk berpisah nanti. Karena pikiran yang tidak fokus, membuat Arief kehilangan konsentrasinya di jalanan. Tidak menyadari lampu merah yang menyala, Arief tetap melajukan motornya yang spontan di hujam dengan banyak bunyi klakson mobil dan motor dari orang-orang yang protes. Arief yang kaget dari lamunannya menjadi hilang keseimbangan dan hampir menabrak pengendara lain. Ia mencoba mengelak dengan memutar stang motornya namun naasnya, dirinya justru menabrak sebuah pohon besar hingga membuatnya terjatuh dan terbentur. Penglihatan Arief mulai memudar dengan sayup-sayup suara keramaian mengerumuninya yang juga perlahan mengabur.
* * *
Secara perlahan Arief membuka matanya yang masih terasa berat. Cahaya lampu yang masuk membuatnya kembali menutup mata karena merasa sangat silau.
"Alhamdulillah, Mas Arief udah sadar" Arief dengan jelas mendengar suara wanita. Tidak perlu dilihat ia sudah tau siapa pemilik suara itu. Nia.
"Aku kenapa?" Arief bertanya dengan suara serak dan berat.
"Kamu di Rumah Sakit, kecelakaan. Kamu sempat pingsan, tapi syukurlah kamu udah sadar dan gak ada luka yang serius" Nia menjelaskan dengan mata yang berkaca-kaca. Arief dapat melihat gurat kekhawatiran dan kepedulian yang besar dari mata Nia.
"Aku gapapa. Jangan nangis" Ucap Arief yang justru malah membuat Nia benar-benar menangis.
"Aku kaget banget waktu dapat telepon dari Rumah Sakit" Kata Nia menangis sambil memeluk Arief yang masih terbaring lemah. Sebelah tangannya yang terdapat beberapa lebam dan infus tergerak mengusap punggung sang istri. Sekedar menyalurkan ketenangan dan mengatakan bahwa dirinya benar baik-baik saja.
"Tapi kok lokasi kecelakaan kamu hampir di luar Jakarta. Kamu habis darimana?" Arief kebingungan untuk menjawab apa. Hingga yang ia lakukan adalah meringis memegang pelipisnya.
"Kenapa?" Tentu Nia sontak merespon dengan panik.
"Cuma pusing aja dikit" Jawabnya masih sambil meringis.
__ADS_1
"Aku panggil Dokter ya"
"Gak usah. Cuma pusing kok. Mungkin karena habis pingsan juga" Cegah Arief.
"Yaudah, kamu istirahat aja. Yang lain gak penting, intinya kamu udah sadar dan baik-baik aja" Arief kembali memejamkan matanya. Mendengar kalimat Nia barusan malah membuatnya pusing sungguhan. Pusing karena cepat atau lambat Nia akan tersakiti oleh kesalahannya.
"HP aku mana Nia?" Tanya Arief kemudian. Nia pun bergerak mengambil tas miliknya dan mengeluarkan sebuah ponsel berwarna hitam yang ia ambil tadi dari salah satu perawat Rumah Sakit tersebut.
"Nih" Kata Nia seraya menyodorkan alat komunikasi itu. Arief mengambilnya. Jari-jarinya pun bergerak mengetikkan sesuatu. Nia hanya memperhatikan.
Aku kecelakaan waktu mau pulang ke Bandung. Sekarang di Rumah Sakit. Aku belum ngomong sama Nia, tapi begitu membaik dan kondisinya udah tepat aku akan langsung bicara dengan dia. Jangan balas pesan ini.
Itu adalah penggalan pesan yang Arief kirimkan pada Lia. Setelah itu Arief meletakkan ponselnya di nakas samping ranjang.
"Udah malam mas. Sebaiknya kamu tidur biar cepat sembuh" Ucap Nia setelah Arief meletakkan ponselnya.
"Iya. Kamu juga tidur. Disini" Kata Arief menepuk ranjangnya.
"Gak usah mas. Aku tidur di sofa aja. Kamu kan harus istirahat dengan nyaman"
"Justru aku gak akan bisa tidur tenang kalo liat kamu tidur di sofa. Ayo sini" Kali ini Arief sudah menggeser tubuhnya, menyisakan ruang bagi untuk sang istri. Nia pun dengan tersenyum mendekat dan naik ke atas ranjang rawat Arief. Setelah naik, Nia langsung meletakkan kepalanya ke dada Arief.
"Kayak gini sakit gak?" Tanya Nia.
"Nggak kok" Jawab Arief kemudian merangkul bahu sang istri.
"Lain kali hati-hati ya mas. Aku kaget banget semalam. Cepat sembuh ya"
"Iya" Jawab Arief singkat.
"Aku sayang kamu mas" Kata Nia seraya mempererat pelukannya di tubuh Arief yang langsung menegang mendengar kalimat Nia barusan.
__ADS_1