
Hari-hari berikutnya Arief selalu pulang malam. Padahal jam kantor itu hanya sampai sore. Selalu dengan alasan lembur dan masih masa penyesuaian, Nia tetap mempercayai Arief. Ya, mungkin itu dulu. Sejak Nia mengatakan bahwa dia telah memaafkan pengkhianatan Arief dan tidak pernah membahasnya lagi sedikitpun, bukan berarti Nia lupa. Rasa sakitnya sama dengan waktu dulu jika sekedar mengingat saja. Lantas tidak wajarkah ia jika sekarang merasa curiga?
Lembur setiap hari selama sebulan. Memangnya seberat dan sebanyak apa pekerjaan Arief di kantor? Tapi lagi-lagi, melihat gurat lelah di wajah Arief setiap kepulangannya membuat hati Nia iba hanya untuk sekedar bertanya lebih lanjut.
* * *
"Lembur lagi hari ini?"
Arief menoleh. Nia bertanya dengan datar, terdengar sedikit nada yang berbeda. Apa Nia mulai curiga? Kemudian bibir Arief tampak tertarik.
"Aku akan selesaikan secepat mungkin. Biar bisa pulang sesuai jam kantor"
Ucapnya kemudian. Nia masih memasang wajah datarnya. Beberapa saat kemudian Nia seperti mencerna perkataan Arief dan meneteralkan wajahnya.
"Hari ini kayaknya aku yang bakal lembur"
Kata Nia. Arief langsung menoleh.
"Oh ya?"
Wah Arief terlihat semangat. Hati Nia sedikit meringis. Lalu kepalanya menggangguk menjawab Arief.
Sore harinya. Sekitar pukul 4 sore, Nia bergegas keluar dari butiknya. Ia tidak benar-benar lembur di luar. Mungkin iya, namun lembur yang dimaksud disini bukan diluar yang berarti tentang pekerjaannya sebagai seorang perancang, melainkan seperti seorang detektif yang memata-matai suaminya. Dan disinilah dia, sebuah bangunan tinggi bertingkat yang ia ketahui sebagai kantor suaminya. Ia dengan pasti melangkah masuk. Namun seorang satpam menahannya.
"Maaf bu"
Kata satpam tersebut.
"Iya?"
"Maaf sebelumnya, Ibu ada urusan apa ya? Karna kantor sudah jam pulang Bu, ini para pegawai sudah banyak yang keluar"
Ahh benar juga. Nia mengedarkan pandangannya, ia baru tersadar sejak tadi sudah banyak orang yang keluar dari pintu utama membawa tas mereka menuju parkiran.
"Hmm saya mau cari suami saya. Dia manager baru yang dari Bandung sebulan yang lalu. Namanya Arief"
Jelas Nia.
"Ohh Pak Arief. Barusan sudah pulang bu. Gak lama deh dari Ibu datang"
Jawab satpam tersebut.
"Ohh jadi hari ini dia gak lembur ya"
"Lembur? Gak hari ini aja kok bu. Tapi memang sejak Pak Arief disini gak ada yang lembur. Saya selalu menutup kantor saat jam pulang. Ya jam segini bu"
Perut Nia rasanya melilit. Jantungnya tercekat. Dadanya pun bergemuruh tidak teratur. Apa lagi ini? Apa suaminya kembali berkhianat? Sekuat tenaga Nia menahan gejolak emosi dalam dirinya. Mencoba rileks dengan memaksakan tersenyum.
"Yaudah Pak makasih ya. Saya permisi"
Ucapnya pamit pada si satpam yang membalas sopan Nia.
"Halo mas? Kamu dimana?"
__ADS_1
Nia langsung bertanya begitu panggilan teleponnya dijawab oleh Arief.
"Aku masih di kantor Nia. Masih ada sedikit pekerjaan, tapi aku akan pulang lebih awal, gak terlalu malam seperti biasa"
Hati Nia mencelos. Betapa lancarnya Arief mengucapkan kalimat itu. Seolah kebohongan sangatlah mudah baginya. Tidak ada helaan nafas berat disana. Terdengar sangat benar dan meyakinkan. Sakit! Kebohongan apalagi sekarang? Dan, kehancuran sebesar apa yang akan ia hadapi kedepannya?
"Yaudah. Lanjutin mas, aku tutup ya"
Arief menyerngit.
"Kamu kenapa? Kok suara kamu kayak gemeteran gitu?"
Ahh, Nia memejamkan matanya. Sulit sekali mengontrol suara di tengah sesak dan pertahanan air mata.
"Cuma capek mas. Hari ini banyak banget pelanggan"
Jawabnya masih dengan mata terpejam dan helaan nafas dalam yang ditarik dan dibuang sepelan mungkin agar tak terdengar oleh Arief.
"Ohh, yaudah kamu istirahat dulu. Jangan terlalu dipaksain ya. Aku gak mau kamu sakit sayang"
Cih! Apa Arief juga semanis ini pada kekasihnya. Memikirkannya saja Nia seakan meradang.
"Hmm Assalamu'alaikum"
Nia hanya berdehem dan mengakhirinya dengan salam. Arief menjawab dengan kebingungan. Tidak seperti biasanya, tapi Arief tidak terlalu memikirkan. Mungkin Nia memang sedang kelelahan. Setelah menyimpan kembali ponselnya. Arief kembali menoleh pada rumah yang sudah ia pandangi dari balik mobil setiap harinya selama sebulan. Hanya itu yang Arief lakukan. Ia pun tidak mencari informasi apapun tentang keluarga Lia. Ia hanya memantau, entah untuk apa, tapi ia hanya ingin melihat anaknya. Itu saja. Tidak lebih. Setelah puas, ia akan kembali. Kali ini ia ingat dengan janjinya yang akan pulang lebih awal..
Sampai di rumah. Ternyata Nia juga sudah sampai, sedang duduk di meja makan bersama Juan karna sudah masuk waktu makan malam. Arief masuk dengan mengucap salam dan ikut bergabung. Jika biasa Nia menyambutnya dengan senyum, sekarang istrinya itu terlihat bungkam dengan wajah di tekuk.
Nia mencoba menghindari Arief dengan berbicara pada Juan
"Ohh tadi Juan ke rumah Luna dulu. Teman kelas Juan, ngembaliin bukunya yang jatuh depan gerbang. Ehh malah di ajak makan siang sekalian sama keluarganya"
Juan menjawab sambil terus memakan makanannya. Kemudian perhatiannya beralih pada sang Ayah yang sedang memandang Ibunya.
"Yah"
Ehh? Arief menoleh.
"Iya?"
"Hari minggu kita ke toko buku aja ya. Juan lagi gak pengen main futsal"
Pintanya. Memang setiap hari minggu, Arief dan Juan memiliki rutinitas rutin yaitu bermain futsal.
"Kamu mau cari buku apa emang?"
Tanya Arief penasaran.
"Sastra"
"Ohh"
Respon Arief sambil mengangguk. Tidak heran, Arief tau putranya ini suka bacaan sastra. Sama seperti dirinya.
__ADS_1
Keesokan harinya. Nia sudah berniat untuk membuntuti Arief secara langsung. 30 menit sebelum jam pulang kantor, ia sudah berada dekat kantor dengan mobil sekretarisnya agar tidak dicurigai.
Benar saja. Tepat di jam pulang kantor, Nia sudah melihat tubuh Arief keluar menuju mobilnya. Arah mobil nya pun bukan berlawanan dengan arah rumah. Mencoba menekan sesak di dadanya. Nia menghidupkan mesin mobilnya dan membuntuti Arief dengan sangat hati-hati.
Mobil Arief akhirnya berhenti. Nia bingung, karena mobil itu berhenti di balik pohon besar. Seperti sedang bersembunyi. Apa Arief janjian dengan wanita lain disana? Pikiran negatif mulai menghampiri Nia.
Sudah 2 jam. Nia semakin bingung karena Arief tidak keluar mobil. Di tengah kebingungannya, lampu mobil Arief tiba-tiba menyala dan bergerak. Nia pun buru-buru menyusul, ternyata mobil suaminya berhenti pada sebuah masjid di luar komplek perumahan tempat Arief berhenti dibawah sebuah pohon besar yang entah untuk apa.
Arief tampak keluar mobil dan memasuki masjid sambil menggulung lengan kemejanya. Nia masih memperhatikan dari jauh namun masih bisa terpantau. Untunglah ia sedang datang bulan hari ini. Beberapa saat kemudian, para jama'ah terlihat mulai berpulangan. Begitupun Arief yang kembali memasuki mobilnya dan pergi. Nia masih setia mengikutinya. Dan... Kembali lagi ke tempat semula? Sebenarnya apa yang sedang di lakukan suaminya itu disana. Sudah sejam lagi dan Arief masih setia disana. Nia mulai lelah, tapi rasa penasarannya lebih kuat.
Sementara itu
"Halo mas?"
"Halo? Kenapa Lia?"
Tanya Edi menjawab telepon istrinya, Lia.
"Kamu kapan pulang? Aku tuh beberapa akhir ini rada curiga sama mobil warna hitam di belakang pohon besar yang gak jauh dari rumah kita. Setiap hari aku lihat mobil itu disitu tapi gak pernah sekalipun aku lihat ada yang keluar dari sana. Aku takut itu orang jahat mas"
Jelas Lia yang memang terdengar khawatir.
"Aku kok gak pernah sadar ya? Yaudah aku pulang sebentar lagi. Kamu dan anak-anak jangan keluar rumah dulu sampe aku datang"
Kata Edi yang juga ikut khawatir.
"Iya mas. Ehhh mas pintu mobilnya kebuka"
"Kamu jangan keluar ya Lia"
Edi kembali memperingati. Sedangkan Lia terdiam karena sedang memfokuskan matanya untuk melihat siapa orang yang keluar dari mobil tersebut. Lia terbelalak, keterkejutannya membuat ia sampai sedikit mundur hingga menabrak guci di dekatnya hingga pecah, memang matanya tidak bisa menangkap wajah orang tersebut dari jarak sejauh itu. Namun postur tubuh itu ia kenali. Ditambah, seekor anak kucing liar yang sedang ia gendong. Arief? Tubuh Lia seketika menegang. Arief memang gemar menolong kucing liar.
Setelahnya ia dengan cepat keluar rumah untuk menghampiri Arief. Pria yang merupakan mantan kekasih sekaligus Ayah dari putri pertamanya itu tampak akan membawa anak kecil di tangannya untuk masuk ke mobil sampai akhirnya kegiatannya berhenti seiring teriakan seorang wanita dari halaman depan rumah yang sebulan ini ia awasi.
"Mas Arief"
Arief sama menegangnya dan Lia tadi. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat.
"Lia... "
Arief bergumam. Lia mendekat, kepalanya tidak tenang dengan terus menoleh ke kiri dan kanan.
"Kenapa kamu disini? Aku tau kamu kesini setiap hari. Untuk apa?"
Lia bertanya dengan panik dan penuh penekanan dalam setiap katanya.
"Aku ingin melihat anak aku Lia. Aku gak berniat apapun. Hanya ingin melihat. Dia perempuan ternyata"
Ucap Arief dengan sendu dan senyum haru. Lia menghela nafasnya lemah.
"Jangan nekad mas. Anak kita baik-baik aja, kamu gak usah khawatir. Sekarang aku mohon kamu pergi dan jangan sampai kehadiran kamu bisa bikin kita dalam masalah. Kita udah masing-masing bahagia dengan keluarga kita"
"Boleh aku tau namanya?"
__ADS_1