
Ayana mendesah kesal ia memungut kopernya dan segera tersadar jika itu bukan miliknya.
"Koperku!!!" pekik Ayana kuat ia berlari sekuat tenaga mengejar taxi yang sudah menjauh dari pelupuk matanya, bahkan ponsel dan dompetnya pun ada disana, "Ah ah ah ah" Ayana terengah engah tubuhnya bergetar memegang kedua lututnya, dan berusaha mengatur nafas yang putus putus.Mobil taxi itu sudah sangat jauh meninggalkan halaman bandara.
Kedua sudut mata Ayana mulai basah sekarang ia harus bagaimana? ponsel , dompet dan pasport serta semuanya lenyap seketika, menyisakan tubuh mungilnya yang hanya dibalut kemeja abu abu sebagai atasan dan rok payung selutut.
Ayana berjalan gontai kembali kebandara, sendal bodoh !Umpatnya dalam hati, saat menemukan hak pada sendalnya patah, kini ia merasakan penderitaan yang sempurna, perlahan namun pasti dengan kaki yang tidak bisa melangkah simetris ia kembali ke koper pria gendut itu, Ayana mencoba membukanya untuk melihat isi koper tersebut mungkin saja ia bisa menemukan tanda pengenal atau ponsel yang bisa ia gunakan menghubungi ponselnya, namun berapakali pun ia mencoba tetap tak bisa, koper tersebut terkunci oleh sebuah sandi.
Ayana tidak putus asa ia pergi keruang keamanan bandara dan melaporkan prihal musibah yang menimpanya dan untungnya polisi disana berjanji untuk membantu permasalahan gadis malang itu.
...****...
Daniel memesan sebuah villa diatas laut yang mewah dan indah, saat reservasi hanya ada dua villa yang kosong dan ia menyewa salah satunya itu artinya kini tinggal satu kamar lagi.
Daniel yang tengah menikmati suasana malam maldives dengan segelas wine itu tak bisa berhenti khawatir, padahal ia melihat dengan jelas Ayana juga masuk kedalam taxi dibelakangnya tapi sampai sekarang gadis itu belum muncul batang hidungnya.
Entah sudah beberapa kali Daniel melirik rolex ditangannya sambil berdecak kesal, tangannya mengepal sempurna memikirkan keberadaan Ayana yang tidak diketahuinya. ini sudah lebih dari enam jam sejak Daniel meninggalkan bandara.
__ADS_1
Mungkinkan ia memilih hotel lain?
Atau terjadi sesuatu padanya?
Kepala Daniel seakan ingin pecah memikirkan kemungkinan kemungkinan yang terjadi pada Ayana. Karena sudah tak tertahankan ia memutuskan untuk pergi mencari gadis itu dengan membelah susana dini hari kota Male.
Daniel menyewa sebuah spead boat untuk keluar dari pulau dengan mengemudikannya sendiri, ia juga meminta pihak Hotel untuk menyediakan super car, di daratan nanti yang akan ia pakai mencari Ayana.
Begitu tiba dibandara Daniel memutuskan untuk langsung pergi ke ruang keamanan ia berencana melihat rekaman cctv dan meminta pihak kepolisian menemukan kemana taxi yang di tumpangi Ayana membawa calon istri adiknya itu.
Namun setibanya dipintu masuk yang terbuat dari kaca Daniel sudah bisa melihat ayana yang duduk di kursi tunggu, Gadis yang nampak lusuh itu hanya terduduk merunduk menunggu hasil pencarian dari pihak keamanan bandara. Daniel dengan gusar langsung menghambur masuk ia sudah tidak peduli lagi apa yang akan difikirkan Ayana mengenai kehadirannya yang tiba tiba.
"Ayana!!"Panggil Daniel yang menatap Ayana dengan tatapan penuh penyesalan, dari kondisinya ia tahu jika gadis itu tengah mengalami sesuatu yang buruk.
"Tuan, bisa kau menolongku?" Ayana mendongakkan wajahnya menatap pria dengan brewok tipis itu. Daniel balas menatap dengan memindai setiap bagian tubuh Ayana. Ayana menceritakan apa yang barusan dialaminya hingga sedetail detailnya, membuat Daniel sangat merasa bersalah karena ia adalah penyebab utama Ayana mengalaminya.
"Ikut aku!!!" Daniel menarik pergelangan tangan Ayana keluar , meninggalkan para petugas keamanan yang menatap kepergian mereka dengan bingung, Namun sebelumnya Daniel sudah meninggalkan kontak untuk menghubunginya jika kòper Ayana suatu saat ditemukan.
Ayana tak bisa mengimbangi langkah kaki Daniel yang panjang dengan kondisi sendal yang ia gunakan, seketika Daniel berbalik dan menatap sendal Ayana.
__ADS_1
"Lepaskan sendalmu!" titah Daniel, Ayana segera menurutinya, Daniel lalu mengangkat tubuh Ayana tanpa permisi dengan dua tangan, dan meminta wanita yang nampak bingung untuk berpegang dengan mengalungkan kedua tangan diehernya.
Awalnya Ayana ragu dan grogi namun karena ia tak punya pilihan lain Ayana pun menyanggupinya. Cukup jauh Daniel berjalan dengan Ayana pada gendongannya menuju tempat parkir, dimana Ayana hanya bisa menelan saliva dalam beberapa kali melihat garis wajah tegas yang dimiliki pria bertubuh kekar dan berwajah macho itu membuat jantungnya berdegup cepat seperti hendak melompat keluar.
Daniel, mendudukkan Ayana di dalam mobil, berat badan Ayana yang tak sampai lima puluh kilogram itu nampak tak begitu menjadi beban bagi Daniel yang sudah terbiasa berlatih di gym.
"Tuan...kita akan kemana?" tanya Ayana sesaat setelah Daniel melajukan mobilnya.
"Ke hotel!!!Oh iya...bisa kau berhenti memanggilku seperti itu?" Daniel menoleh dan menatap wajah teduh Ayana yang menggemaskan baginya, nenimbulkan rasa ingin melu*at gadis itu hidup hidup, "Kau masih ingat namaku??" tanya Daniel.
"Daniel! aku ingat Tu- ah tidak maksudku Da-ni-el"
"Iya panggil aku seperti itu," Daniel tersenyum smirk, setelah mengemudi sekitar dua puluh menit, Daniel kembali menggendong Ayana dan membawanya kedalam spead boat yang ia kemudikan sendiri menuju pulau.
"Sudah tak ada kamar kosong lagi Ayana!!" Bisik Daniel pada Gadis yang lagi lagi digendongnya itu menuju kamar, Ayana nampak gugup dan panik menatap pria yang ia harap bisa baik baik saja sampai akhir itu, ia juga terus berdoa agar bisa tetap terjaga dari pesona Daniel yang bisa menggoyahkan imannya kapanpun.
Daniel mendudukkan Ayana di tepi ranjang kayu, dengan sebuah kelambu yang terjuntai dari atas membentuk segi tiga dikedua sisinya, dan duduk berlutut di hadapan Ayana memeriksa jika saja ada memar di pergelangan Kaki gadis itu, membuat Ayana merasakan hawa panas yang seketika mengalir di seluruh tubuhnya yang seakan mengusik relung hati tempat ia menyimpan perasaannya pada satu satunya pria yang diijinkaannya menja*ah tubuhnya itu, saat mengingat kekasihnya itu sontak membuatnya menarik kedua kakinya menjauh dari genggaman tangan Daniel, membuat pria itu tersenyum smirk.
Ayana mengedarkan pandangan pada kamar yang dikelilingi sebuah tirai itu, ia bisa tahu jika dibalik tirai ada sebuah dinding kaca, didalam kamar hanya terdapat satu buah tempat tidur berukuran besar, sebuah nakas disampingnya, lemari kayu dengan ukiran naga serta nakas berbentuk panjang yang diatasnya terdapat tv lcd, Pandangan Ayana tertuju pada dua buah sofa kecil yang saling berhadapan diantarai oleh meja bundar kecil dimana terdapat beberapa jenis alkohol dan jejeran sloki kosong,sementara kamar mandi terletak di pojok ruangan, ada sebuah kolam air tawar yang tidak terlalu luas diluar dan berbatasan langsung dengan air laut yang mengelilingi kamar itu.
__ADS_1
"Tuan- Ah bukan maksudku, Daniel aku akan tidur disana saja," ucap Ayana menunjuk dua buah sofa kecil yang saling berhadapan yang tentu hanya bisa membuatnya tertidur dengan posisi duduk, Ayana sadar jika ia tak punya pilihan lain selain bermalam satu kamar dengan pria yang mungkin masih bisa dikatakan asing baginya itu.
Belum sempat Daniel menanggapi pernyataan Ayana, pintu kamarnya keburu diketuk oleh seorang pelayan yang membawa pesanan Daniel yakni sepasang piyama wanita yang ia pesan tadi, Daniel bangkit dan memberikannya pada Ayana agar gadis itu segera mengganti bajunya yang sudah nampak lusuh itu.