
"Tuan anda tidak ingin berangkat sekarang? Rapatnya satu jam lagi" Aspri Darren mengingatkan, setelah melirik jam digital yang berpija diatas dashboard.
Sudah sekitar setengah jam Darren menghentikan mobilnya dan hanya diam didalam mobil dengan deru mesin yang masih menyala.
Ia terus saja tertawa miris, seraya mengusap usap dagunya, memikirkan apa yang dilakukan Daniel dan Ayana didalam kamarnya, padahal Daniel mengajaknya untuk berangkat bersama namun dengan kendaraan berbeda.
"Tuan" panggil sang asisten sekali lagi.
"Tunggu sebentar lagi" Titah Darren, tak lama kemudian sebuah sedan mewah milik Daniel yang sudah lama tidak digunakan melewati mobil mereka, setelah membunyikan klakson. Memberi tanda jika mereka sudah siap menuju ke tempat rapat.
"Cih...apa yang dilakukannya sampai begitu lama" Gumam Darren yang hanya bisa didengarnya sendiri.
Akhirnya mobil Darren ikut memacu menyusul Daniel.
"Apa dia sesemangat itu?" Darren kembali bergumam, secepat apapun Aspri Darren memacu mobilnya, mobil Daniel tetap tak tersusul.
Ia yakin mobil Daniel sudah hampir keluar dari jalanan yang dikerubuni hutan maple dan pinus ini.
Darren kembali menunduk dan menatap Ipad dipangkuannya, itu adalah beberapa materi rapat yang akan ia sampaikan, sebagai seorang Chairman, Darren lah yang akan memimpin rapat kali ini.
Saat kembali melihat jalanan didepan, Darren melihat sebuah mobil mewah yang tidak asing melewatinya dari arah yang berlawanan. Mobil tersebut sudah biasa keluar masuk Paviliun Bosley sejak masa terpuruk Daniel dikala ditinggal mati Ayana, Meski sang pemilik mobil bingung mengapa Daniel terlihat begitu terpuruk kala itu, padahal yang mati adalah istri adiknya.
Yah pemilik mobil tersebut adalah Lauren Pettyfer, mantan istri Daniel, ia kembali mencari perhatian Daniel setelah menenangkan diri di swis. Meski Nyonya Bosley sangat membenci mantan menantunya itu namun ia tak pernah melarang Lauren untuk menjenguk Daniel, mengingat hubungan kerja sama perusahaan dengan hotel keluarga Pettyfer yang masih berjalan.
"Lauren?" alis Darren saling bertautan, ia teringat hanya Ayana yang berada dipaviliun sekarang.
.
.
.
"Dasar sampah! ******, biadab!" umpat Lauren seraya meremat jari jemarinya.
"Nyonya, aku takut kau berbuat macam macam disana, sebaiknya kita kembali hemm" bujuk Asisten pribadi Lauren sambil menatap Atasannya itu dari spion tengah.
"Ia aku memang akan berbuat macam macam, aku akan memberinya pelajaran, dasar wanita murahan!" Geram Lauren, emosinya sudah berada di ubun ubunnya dan ingin segera diledakkan, ia sudah ingin mencekik Ayana begitu mendengar kabar jika Wanita itu ternyata masih hidup dan malah menikah dengan Daniel.
Kini terjawab sudah pertanyaan yang selama ini bersarang di hati Lauren.
Mengapa Daniel begitu terpukul saat Ayana dinyatakan tewas bunuh diri, pria itu bahkan meletakkan jabatannya sebagai Chairman dan lebih memilih mengurung diri sehingga benar benar terlihat frustasi.
"Nyonya, Tuan Daniel tidak akan melepaskan kita jika sampai menyentuh Nona Ayana"
"Jangan memanggil Jalan* itu dengan sebutan Nona, tidak pantas! Ia tukang selingkuh yang menggoda kakak iparnya sendiri, hah.....aku benar benar tertipu dengan wajah lugunya" Sentak Lauren. Ia melipat tangan di depan dada sambil menyeringai. Kini ia yakin Daniel adalah dalang tersebarnya foto foto syurnya dimasa lalu, rasanya Lauren juga ingin menghardik mantan suaminya itu.
__ADS_1
Asisten pribadi Lauren memutar matanya jengah.
Tukang selingkuh?
Bukankah ia sedang membicarakan dirinya sendiri?
Mobil Lauren akhirnya tiba dipelataran parkir paviliun keluarga Bosley, ia sengaja datang pada hari ini karena tahu Nyonya Bosley dan Georgina tengah berada di Galery seni, dan bukan hal sulit bagi Lauren untuk mengetahui jika hari ini Daniel akan mengikuti rapat pemegang saham di Bosley Group.
Lauren melangkah cepat mengayunkan kaki jenjangnya menuju pintu masuk paviliun timur, sebuah bangunan mewah yang pernah menjadi tempat tinggalnya.
Tak ada penolakan dari para pelayan saat melihat Lauren datang, karena wanita itu memang kerap kali mengunjungi Nyonya Bosley untuk kembali merebut hati mantan mertuanya itu, meski tak pernah membuahkan hasil, karena Nyonya Bosley benar benar sudah menutup pintu hatinya meski tetap bersikap hangat.
"Selamat datang Nyonya" sapa salah seorang pelayan namun diacuhkan oleh Lauren.
Wanita sebaya Daniel itu dan Asisten pribadinya yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah khawatirnya, bergegas masuk kedalam lift yang akan membawanya ke lantai dimana kamarnya dulu terletak. Dan kini ia yakin kamar itu ditempati Ayana dan Daniel.
.
.
.
"Putar balik!" Tukas Darren
"Maksud tuan?anda melupakan sesuatu tuan?" Aspri Darren melihat wajah atasannya yang seketika berubah pias.
"Tapi tuan rapatnya"
"Sekarang!" Sentak Darren serius.
Entah mengapa perasaan Darren tidak enak melihat mobil lauren barusan.
"AYANA!!!!" Lauren menggedor gedor pintu kamar Ayana dengan gusar, ia tahu wanita yang ia anggap ****** itu ada didalam sana.
Ayana baru saja membersihkan tubuhnya setelah melewati satu ronde pergulatan panas bersama Daniel suaminya.
Ia hanya mengenakan bathrobe ditubuhnya dan sebuah handuk membungkus rambutnya yang basah.
Ayana baru mendengar seseorang menggedor pintu kamarnya setelah keluar dari kamar mandi.
Tubuhnya seakan bergetar karena takut mendengar seseorang meneriaki namanya, namun Ayana tak bisa menebak seseorang yang berada dibalik pintu.
"Ayana!!! Buka pintunya!!!" Teriak Lauren lagi. beberapa pelayan Paviliun timur berusaha menghentikan Lauren, namun Wanita itu berhasil mengintimidasi semua mantan pelayannya dengan sorot mata tajamnya.
Meski dengan perasaan takut Ayana pada akhirnya membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Ia terperanjat dengan tubuh yang terdorong beberapa langkah saat Lauren mendorong pintu dengan kasarnya.
"Cih....Dasar Jalan* Kecil" Lauren berdecih kesal, seraya mendorong tubuh mungil Ayana hingga terpental diatas tempat tidur.
"Kau menggodanya bahkan sebelum menikah dengan Darren?" Lauren kembali mendorong dengan kasar bahu Ayana saat mencoba untuk bangkit.
"Lauren, ada apa dengan mu? Mengapa kau sekasar ini?" Ayana kembali mencoba untuk berdiri, kini handuk yang melilit kepalanya sudah terlepas.
Plakkk......sebuah Tamparan keras melayang di pipi Ayana, sebenarnya saat di lift tadi Lauren baru saja menerima sebuah video, ia memang menyuruh seseorang menyelidiki Ayana. Dan orang suruhan itu mengirimkan rekaman CCTV dari koridor apartemen Ayana dulu.
"Lauren!" Bentak Ayana, ia meringis sambil memegang pipinya, dan kini sudut bibirnya berdarah.
Ayana mencoba kembali berdiri, namun Lauren segera menjambak rambutnya dengan kasar dan hampir menelanjangi wanita malang itu.
Lauren juga tidak habis fikir, padahal tadinya ia hanya ingin menggertak wanita itu dengan cara yang elegan. Ia tak menyangka menjadi seliar ini ketika melihat Daniel yang mendatangi Apartemen Ayana di malam sebelum wanita itu menikah dengan Darren.
"Lauren sakit....maafkan aku" Ayana semakin meringis, dan menangis histeris.
"Nyonya....hentikan"
"Nyonya Lauren lepaskan nona Ayana"
"Nyonya..."
"Nyonya..."
Aspri Lauren dan beberapa pelayan mencoba melerai, namun cengkraman Lauren ditubuh Ayana semakin lengket layaknya prangko.
"LAUREN BRENGSEK KAU!!!" Sentak Darren yang baru saja muncul di ambang pintu. Lauren terperanjat namun tidak melepas tangannya dari tubuh Ayana, hingga Daren menarik dengan kasar bahunya lalu mendorong tubuhnya hingga bokongnya mendarat sempurna diatas ubin yang keras.
Darren melihat Ayana yang kini wajahnya dipenuhi luka cakaran kuku tajam Lauren yang terawat.
Ia lalu memalingkan wajahnya kearah Lauren yang sudah berdiri dihadapannya, Sorot mata Darren seakan ingin membunuh Lauren saat itu juga.
"Darren jangan membelanya! Apa kau tahu apa yang ia lakukan dimalam dimalam sebelum kalian menikah? Dia...."Lauren menunjuk muka Ayana yang kini sudah dalam dekapan salah satu pelayan, dan beberapa pelayan lainnya merapikan bathrobe yang ia kenakan, "Dia mengundang Daniel dan tidur bersama, Daniel baru meninggalkan Apartemen wanita ini pagi hari, dan beberapa menit setelahnya kau datang" Jelas Lauren menggebu gebu.
Darren sempat kaget dengan berita yang dibawa Lauren, ia teringat memang melihat Daniel dikawasan Apartemen Ayana waktu itu. namun ia sadar kini sudah tak punya hak menuntut penjelasan dari Ayana.
"Jika tidak percaya kau bisa melihat ini" Lauren menyodorkan ponselnya yang ia ambil dari saku Long Coatnya.
Namun Darren menepisnya dengan kasar hingga membuat benda pipih itu terpelanting dan retak pada layarnya.
"Darren!!" Lauren tak terima.
"Nona....nona....buka matamu" Seorang pelayan mengguncang guncang tubuh Ayana yang kini terkulai tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Ayana!!!" teriak Darren panik, ia baru sadar luka diwajah dan dileher Ayana terlihat begitu parah, Darren segera merengkuh tubuh Ayana dan membawanya keluar, ia memggendong Ayana menuju lift tanpa menoleh lagi kearah Lauren.