
Lagi lagi Ayana menemukan tubuhnya terbangun diatas tempat tidur, namun dengan seprei dan selimut yang berantakan tak seperti kemarin, apa kami tidur bersama? Ayana segera meraba tubuhnya yang masih mengenakan stelan lingerie lengkap dengan luaran, tentu saja! Ayana percaya jika Daniel adalah pria baik yang tidak mungkin menyentuhnya, lagi pula ia tidak tertarik dengan wanita Asia bertubuh mungil.mengingat perkataan Daniel masih membuat Ayana geram.
Ayana melirik jam diatas nakas yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang, ini kali pertama ia bangun setelat itu setelah kemarin ia bangun jam 10 pagi, Apa tubuhnya selelah itu? pikirnya.
Ayana membawa tubuhnya malas keatas sofa, saat matanya melirik keatas meja ia menemukan ponsel miliknya tergeletas diatas selembar kertas.
"Ponselku" pekiknya senang bukan kepalang..
"Daniel...!!!"
"Tuan Daniel!!" Ayana berlari keluar berharap menemukan Daniel yang tengah berenang namun saat hendak keluar ia melihat koper hitam dan tas kecil miliknya, Ayana hampir menangis dibuatnya karena terlalu bahagia, ia memeriksa semua isinya dan tak ada yang kurang satupun, ia kembali berjalan keluar mencari sosok Daniel untuk mengucapkan terima kasih karena Ayana yakin kopernya bisa ada disini pasti berkat Daniel.
Setelah mencari di luar dan tidak menemukan sosok pria dengan tubuh atlethis itu Ayana kembali kekamar dan menemukan secarik kertas didekat ponselnya.
Hari ini aku pulang ke Amerika, nikmati liburanmu!
Daniel !!
Ayana menghembuskan nafas penuh penyesalan, padahal ia belum sempat berterima kasih secara benar pada pria itu, malah terakhir kali ia memperlihatkan raut wajah kesal dihadapannya.
Ayana menoyor kepalanya sendiri "Semua ini karena aku mabuk" gumamnya, seraya berusaha mengumpulkan kepingan ingatan yang berpencar kemarin malam.
Ia masih mengingat ketika, Daniel membawanya masuk kedalam kamar lalu....
Ayana mulai menutup mulutnya dengan mata yang membola sempurna, bagaimana tidak ia mengingat dirinya yang memanggil Daniel dengan sebutan paman dan mengecup pipinya.
"AH......bagaimana ini" Ayana berjalan mondar mandir sambil menggigit kukunya gugup.
"Bagaimana jika ia marah padaku? kesal padaku? ah.....aku sudah menghancurkan liburan seseorang..." Ayana menjatuhkan tubuhnya kelantai lalu meronta penuh penyesalan, tak lama kemudian ponselnya bergetar dengan nama Daren yang bertengger disana.
"Halo...." Jawab Ayana memelas.
"Halo baby..how are u???"
__ADS_1
"Aku baik Daren, hikz hikz.." Ayana mulai terisak, akhirnya semua begitu nyata saat mendengar suara Daren, dua hari ini hidupnya terasa seperti sebuah mimpi, "Aku kehilangan....koper dan tasku saat dibandara, hikz"
"Aku sangat menghawatirkanmu karena kau tak bisa dihubungi, untuk itu Calvin mencari tahu keberadaanmu, bukankah semua sudah kembali?"
"Heem....semua sudah kembali, jadi direktur yang mengurus semuanya??"
"Benar...jangan menangis sayang, Calvin sudah mengurus semua kepulanganmu besok, aku akan menjemputmu dibandara"
"Baiklah..."
"Nikmati sisa liburanmu gadis kecilku..."
Ayana memundurkan tubuhnya dan bersandar pada tepian tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya, ada rasa bersalah yang ia rasakan saat mendengar suara Daren, pria itu begitu menghawatirkannya sementara ia menghabiskan dua malam liburan bersama pria asing yang bahkan sudah beristri, beberapa kali Daniel menggendongnya, dan ia bahkan.....ah...Ayana mengacak acak rambutnya saat mengingat sudah berani mengecup pipi Daniel.
" Apa ini termasuk perselingkuhan??" tanya Ayana pada dirinya sendiri, "Tidak!!!" namun ia mengelaknya cepat, kecupan dipipi itu adalah hal lumrah, bahkan di Amerika kecupan bibir diantara teman juga hal biasa! pikir Ayana yang berusaha mencari pembenaran atas tindakannya.
...******...
Calvin sama sekali tak memberi tahu Adam jika Daniel melakukan perjalanan ke Maldives begitupun Adam yang tidak terlalu penasaran kemana sebenarnya atasannya itu pergi, meski asisten pribadi Adam tak ingin mencampuri urusan yang paling pribadi atasannya itu.
"Apakah Delay?" calvin bolak balik mengamati jam tangan mewah yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
"Sepertinya tidak, "seru Adam menunjuk kearah seorang pria dengan kemeja yang nampak ketat ditubuh atletisnya sambil menarik kopernya.
Calvin mendongakkan wajahnya dan mendapati Daniel yang semakin dekat dengan tempat ia berdiri, dibenak Calvin ia sudah menghantam kepala pria itu hingga bersujud memohon ampun dihadapannya, tapi itu sudah lama sekali tak ia lakukan sejak Daniel menjabat sebagai Chairman Calvin berusaha memperlakukannya selayaknya seorang atasan meski Daniel tak pernah merasa dihormati oleh sahabatnya itu namun ia menikmatinya setidaknya calvin membuatnya merasa jika dirinya masih manusia biasa yang butuh teguran jika melakukan kesalahan bukan malah pujian.
Tanpa sepatah kata mereka bertiga berjalan beriringan menuju mobil ford mewah yang sudah disediakan Calvin.
Adam Lee mengemudikan mobil dengan Calvin dan Daniel yang duduk dibelakang, fikiran Daniel menerawang saat ia sebenarnya tak ingin meninggalkan Maldives atau lebih tepatnya Ayana.
Ia tengah duduk di sofa menatap Ayana yang sesekali menggeliat manja diatas tempat tidur yang sudah ia pakaikan pakaian yang ditanggalkannya semalam, saat nyonya Bosley menelfonnya dan memintanya untuk segera pulang dari perjalanan bisnisnya guna menghadiri acara ulang tahunnya yang ke enam puluh lima tahun tiga hari yang akan datang, Nyonya Bosley pada hari itu juga akan mengumumkan pertunangan antara Daren dan Ayana Kimura dihadapan semua kolega bisnisnya.
Seketika Daniel terhenyak mendengarkan ibunya yang sangat pemilih dalam hal menantu langsung merestui hubungan Ayana dan Daren, karena dibenak Nyonya Bosley ia merasa menantu dari keluarga biasa biasa saja akan lebih mudah ia perintah untuk mengandung anak Daniel dari pada menantu dari keluarga konglomerat yang terkadang keras kepala seperti isteri Daniel.
__ADS_1
Daniel merasa harapannya sudah setipis kertas, untuk itu ia memutuskan pulang tanpa membangunkan Ayana.
"Berhenti berfikir gila!" tegur Calvin yang seakan bisa membaca isi kepala Daniel.
Hufht.....Daniel menghela nafas berat, seraya mengaburkan semua ingatannya mengenai Maldives dan Ayana.
"Sudah sejauh apa?"
"Tak terjadi apa apa!"
"Jika kau ingin yang seperti itu aku punya banyak stok yang masih ranum"
"Aku hanya ingin dia!"
"Kau gila!"
"Mungkin aku memang sudah gila"
"Berhenti sekarang atau kau akan sakit!"
"Aku akan hidup dan menikmati rasa sakit ini"
"Dasar Chairman tidak berguna" umpat Calvin
Adam hanya mengerutkan Dahi mendengar percakapan dua orang dibelakang yang sama sekali tak dipahaminya.
Hah.....lagi lagi Daniel menghela nafas...
"sebentar lagi hari ulang tahun ibumu , dari rumor yang kudengar mereka akan mengumumkan pertunangan Daren, untuk itu Ayana kemungkinan akan segera mengundurkan diri"
"Aku sudah tahu!"Jawab Daniel.
"Baguslah !! Ah...cerahnya cuaca hari ini..." ucap Calvin sedikit melantur karena puas melihat raut kekecewaan diwajah Daniel, ia sebenarnya sahabat yang baik karena tak ingin melihat Daniel terbelenggu dalam ikatan cinta terlarang.
__ADS_1